Reza Rahadian terkesan dengan keindahan alam Takengon Aceh

Reza Rahadian terkesan dengan keindahan alam Takengon Aceh

  • Sabtu, 5 Juli 2025 06:19 WIB
  • waktu baca 2 menit
Reza Rahadian terkesan dengan keindahan alam Takengon Aceh
Aktor Reza Rahadian dalam konferensi pers di Takengon, Aceh Tengah, Jumat (4/7/2025). Antara/Kurnia Muhadi

Saya melihat view seperti ini, saya bilang wah indah banget tempat ini ya

Banda Aceh (ANTARA) – Aktor Reza Rahadian mengaku sangat terkesan dan mengagumi keindahan alam dataran tinggi Gayo, tepatnya di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah.

“Saya jujur kaget, datang ke sini tu, saya belum pernah tahu seperti apa Takengon, Gayo. Saya melihat view seperti ini, saya bilang wah indah banget tempat ini ya,” kata Reza Rahadian usai acara syukuran Film Black Coffee di Takengon, Jumat.

Reza Rahadian ke Takengon, untuk melaksanakan syuting film terbarunya berjudul Black Coffee. Ia bakal beradu peran dengan aktris Sha Ine Febriyanti. Keduanya dijadwalkan syuting di Takengon sebulan penuh.

Untuk syutingnya sendiri dimulai pada 5 Juli 2025 dengan mengambil sejumlah lokasi di dataran Tinggi Gayo, dan Takengon sebagai lokasi utama.

Baca juga: Menkomdigi apresiasi edukasi etika di ruang digital film Cyberbullying

“Saya tiba di sini saja, saya bilang waduh ini Hotel Portola langsung danau. Dengan view seperti ini tidak usah jauh-jauh ke Eropa, kita ke Takengon aja,” ujarnya.

Reza berharap, film ini nantinya dapat mengangkat pariwisata daerah, khususnya Takengon. Karena, banyak film-film yang mengangkat atau memiliki latar belakang satu daerah tertentu ikut mengenalkan pariwisata daerah tersebut.

“Itu tentu benefit yang kemudian kita tuai di akhir. Jadi satu set rumah Onot itu kan adanya di atas gunung ya, di dataran yang lumayan tinggi, itu view-nya luar biasa,” kata Reza Rahadian.

Baca juga: Myesha Lin senang dapat adegan bernyanyi di atas pundak Ringgo

Dalam film ini, Reza Rahadian berperan sebagai seorang petani kopi Gayo bernama Onot yang digambarkan memiliki keterbatasan fisik karena tidak bisa melihat.

“Jadi ada perspektif yang menarik dalam film ini, suami istri yang dua-duanya tidak bisa melihat, kemudian bagaimana menjalani kehidupan seperti masyarakat biasa di tengah keterbatasan mereka,” ujarnya.

Film ini juga bercerita tentang bagaimana hubungan suami istri yang berusaha untuk bisa memiliki anak, lengkap dengan hiruk pikuk yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat khususnya di tanah Gayo.

Menurutnya, film yang disutradarai Jeremias Nyangoen ini sangat menarik, apalagi karya-karya nya memang terkenal bagus. Karena itu, ia tidak bisa menolak untuk bergabung dalam filmnya.

“Saya menyaksikan bagaimana Mas Jeremias meraih Piala Citra-nya sebagai director terbaik, filmnya menjadi film terbaik di Festival Film Indonesia, kemudian menjadi perwakilan film Indonesia untuk Academy Awards, saya tidak mungkin tidak menerima film ini,” demikian Reza Rahadian.

Baca juga: Film “Panggil Aku Ayah” soroti sisi humanis seorang penagih utang

Pewarta: Rahmat Fajri
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Komentar

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Berita Terkait

Rekomendasi lain

  • Related Posts

    Menbud Dukung Museum di Sumut Jadi Ruang Budaya Inklusif & Edukatif

    Jakarta – Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meninjau Gedung Juang 45 Medan dan Museum Perkebunan Indonesia dalam rangkaian kunjungan kerja ke Sumatera Utara. Agenda ini merupakan langkah Kementerian Kebudayaan untuk…

    Banjir Terjang 20 Titik di Serang, 528 Rumah Warga Terendam

    Jakarta – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang mencatat sebanyak 20 titik terendam banjir akibat hujan lebat. Tercatat sebanyak 6.763 orang terdampak akibat bencana ini. Berdasarkan data BPBD Kota…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *