COMMITTEE to Protect Journalists atau CPJ mengutuk serangan siber berupa distributed denial of service (DDoS) terhadap media Tempo. Serangan sejak 5 Juni 2026 ini membanjiri server situs Tempo dengan lalu lintas internet palsu sehingga mengganggu akses publik ke laman utama situs web tempo.co.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Direktur Regional Asia-Pasifik CPJ, Beh Lih Yi, mengatakan serangan siber ini adalah upaya pengecut untuk membungkam Tempo dalam memberitakan kasus dugaan korupsi. Ia menegaskan, serangan siber ini tak akan berhasil mencegah Tempo dalam membongkar pelanggaran yang terjadi. “Para pelaku di balik kampanye intimidasi berskala besar dan terorganisasi ini seharusnya malu pada diri mereka sendiri,” kata Beh dalam keterangannya, Kamis, 11 Juni 2026, dikutip dari akun X @CPJAsia.
Server portal berita Tempo mendapatkan serangan DDoS sejak Jumat, 5 Juni 2026. Chief Technology Officer Tempo Digital Heru Tjatur Tjahja mengatakan serangan yang diterima Tempo dalam beberapa hari terakhir tergolong masif. Hingga Senin, 8 Juni 2026, tim teknologi Tempo mencatat total 24,9 juta request yang mengarah ke server mereka.
Menurut dia, serangan siber berupa DDoS ini menggunakan bot yang mengirimkan trafik internet dalam jumlah sangat besar ke server situs. Berdasarkan analisis tim teknologi Tempo, pola serangan berlangsung secara sporadis dengan intensitas tinggi pada waktu-waktu tertentu.
Tjatur mengatakan para penyerang cenderung melancarkan aksinya pada malam hingga dini hari. Salah satu gelombang serangan terbesar terjadi antara pukul 20.30 hingga tengah malam dengan total 12,97 juta serangan hanya dalam rentang dua jam.
“Intensitas pertama ada 12,97 juta serangan hanya dalam dua jam. Mulai dari 20.30 sampai tengah malam penyerang melakukan serangan digital,” ujarnya pada Senin, 8 Juni 2026.
Analisis sementara menunjukkan sumber serangan tidak hanya berasal dari Indonesia. Tim teknologi Tempo menemukan jejak serangan dari sejumlah negara, antara lain Kolombia, Amerika Serikat, Filipina, Bangladesh, dan Meksiko.
Ia menduga serangan DDoS merupakan kelanjutan dari upaya peretasan yang sebelumnya menyasar sistem pengelolaan konten atau content management system (CMS) Tempo pada akhir Mei lalu. Dalam insiden tersebut, peretas membatalkan publikasi sejumlah artikel yang telah tayang sehingga publik tak menemukannya di Internet.
Menurut Tjatur, artikel-artikel yang menjadi sasaran peretasan berkaitan dengan berita judi online pemberitaan kasus korupsi, salah satunya korupsi bea-cukai yang sedang disidik Komisi Pemberantasan Korupsi.
Namun, desain sistem CMS Tempo membatasi kewenangan pengguna sehingga peretas tidak bisa menghapus artikel secara permanen dan hanya bisa melakukan unpublish. Redaksi sudah menayangkan ulang puluhan berita yang diretas sehingga bisa kembali diakses publik. “Mereka yang menyerang ini tampaknya tidak senang, barulah melakukan serangan digital DDoS,” ujarnya.





