Foto: Polisi Kenya menindak protes terhadap pusat Ebola di AS

Tembakan, meriam udara, dan gas air mata digunakan oleh polisi Kenya di pusat kota Nanyuki, di mana ratusan pengunjuk rasa menyalakan api dan melemparkan batu ke petugas penegak hukum saat mereka berdemonstrasi melawan pusat isolasi bagi warga AS yang terpapar virus. Ebola.

Kekerasan pada hari Selasa terjadi sesuai dengan usulan tersebut pusat karantina di Pangkalan Udara Laikipia di kota tersebut telah menimbulkan kemarahan di kalangan warga Kenya yang menuduh Amerika Serikat mengalihkan risiko dalam merawat orang-orang yang terpapar wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo bagian timur dan Uganda ke Kenya.

Kenya tidak pernah mencatat kasus Ebola, dan banyak warga yang menentang membawa orang yang berpotensi menjadi pembawa virus tersebut ke negara tersebut.

Pusat ini dirancang untuk memiliki 50 tempat tidur isolasi, dijalankan oleh staf AS, dan hampir selesai akhir pekan lalu.

Konstruksi terus berlanjut meskipun ada perintah penghentian sementara dari Pengadilan Tinggi Kenya dan tentangan keras dari politisi lokal.

Pemerintahan Presiden William Ruto telah berjanji untuk melanjutkan proyek tersebut, dengan alasan bahwa Kenya berkontribusi kepada Washington selama bertahun-tahun atas dukungan finansial dan teknis.

AS telah memberikan komitmen sebesar $13,5 juta untuk mendukung upaya kesiapsiagaan Ebola di Kenya.

  • Related Posts

    Polisi Adang Massa BEM UBK di Kawasan Tugu Tani

    PERSONEL dari Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat mengadang pergerakan massa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bung Karno (BEM UBK) yang akan menggelar demonstrasi di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat. Berdasarkan pengamatan…

    Presiden Jerman Bicara Bahasa Indonesia: Presiden Prabowo, Terima Kasih Banyak

    Jakarta – Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto. Steinmeier menyampaikan terima kasih menggunakan bahasa Indonesia. “Presiden Prabowo Subianto, terima kasih banyak,” kata Steinmeier dalam bahasa…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *