Kisah Penyandang Disabilitas di Pati Tetap Produktif Bangun Usaha Jahit

Jakarta

Kepercayaan diri menjadi hal utama yang berusaha ditumbuhkan dalam pelatihan kerja dari Kementerian Sosial bagi kelompok disabilitas. Berbekal pelatihan tersebut, difabel asal Pati, Jawa Tengah kembali semangat berkarya di bidang menjahit.

Supriyono awalnya merasa malu menjadi penjahit. Kini kondisi penyandang disabilitas fisik akibat polio itu berbalik 180 derajat. Dia mampu hidup mandiri membiayai kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak dari jahitan.

Dia menghabiskan hari-harinya menerima berbagai pesanan jahitan. Mulai dari permak pakaian hingga seragam sekolah, Puskesmas, dan kebutuhan hajatan warga. Dalam satu pesanan, dia bisa mengerjakan seragam untuk 15 sampai 20 orang, sebagian besar diantaranya pakaian pria.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Awalnya saya malu kalau harus jadi penjahit. Dulu pikiran saya, kalau bisa jangan kerja jahit,” kata Supriyono dalam keterangan tertulis, Sabtu (6/6/2026).

Takdir hidup perlahan membawa Supriyono pada jalan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pada 2010, dia mulai bekerja di sebuah usaha konveksi Wisnu Tailor di Kudus, Jawa Tengah. Di tempat itulah dia mengenal lebih dekat dunia jahit-menjahit. Ia belajar dari para penjahit yang lebih berpengalaman. Dari sana, keterampilannya tumbuh.

Meski demikian, Supriyono belum terlalu mantap. Bahkan sempat mencoba pekerjaan sebagai admin dan mengerjakan desain infografis menggunakan aplikasi AutoCAD sekira satu tahun.

Berbagai pengalaman tersebut justru membuatnya sadar bahwa keterampilan menjahit yang dimilikinya adalah aset paling berharga.

Keputusan untuk membuka usaha sendiri pun perlahan dimantapkan. Dukungan dari Kementerian Sosial melalui Sentra Margo Laras Pati menjadi titik balik dan penyemangat sekaligus modal berharga dalam hidupnya. Sejak 2021, Supriyono menjadi penerima manfaat layanan rehabilitasi sosial dan mengikuti pelatihan vokasional menjahit selama enam bulan.

Pelatihan tersebut membantunya mengembangkan kemampuan sekaligus memperkuat keyakinan untuk menekuni usaha jahit secara mandiri. Dari situlah lahir usaha Kaxyon Tailor. Kini, ia mampu menerima pesanan permak dan pembuatan seragam hajatan, sekolah, hingga puskesmas dalam jumlah besar.

Supriyono mematok tarif bervariasi sesuai tingkat kesulitan pekerjaan. Untuk jasa pembuatan celana panjang, misalnya, dikenakan biaya sekitar Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu per potong.

Kerja keras yang dijalani perlahan membuahkan hasil. Dari usaha jahitnya, Supriyono mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga dan membiayai pendidikan anaknya. Sepeda motor roda tiga yang kini dimilikinya juga menjadi penunjang penting untuk aktivitas usaha.

(prf/ega)

  • Related Posts

    Pria di Lampung Tusuk Pacar 12 Kali Gegara Tak Diperbolehkan Menginap

    Jakarta – Seorang pria di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, nekat menusuk kekasihnya hingga mengalami belasan luka tusukan. Pelaku kesal karena tidak diizinkan menginap di rumah korban. Dilansir detikSumbagsel, peristiwa tersebut…

    Mark Up Motor Listrik BGN Rp 1 T, Dadan Pernah Bilang Rp 42 Juta Per Unit

    Jakarta – Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkapkan salah satu harga barang yang diduga digelembungkan atau di-mark up dalam kasus dugaan korupsi tata kelola program makan bergizi gratis (MBG) di Badan Gizi…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *