IPB University mengubah nama Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (Fisema). Perubahan nama fakultas ini disebut bagian dari transformasi kelembagaan dan keilmuan sesuai dengan arsitektur akademik yang telah ditetapkan senat akademik.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dekan FISEMA IPB Univesity Sofyan Sjaf mengatakan perubahan ini bukan sekadar pergantian nama, tetapi bagian dari penataan keilmuan yang lebih adaptif dan relevan. “Fakultas tentu harus menyesuaikan diri dengan arsitektur akademik yang sudah ditetapkan,” kata dia dilansir dari laman IPB University pada Ahad, 24 Mei 2026.
Sebelumnya, Sofyan menjelaskan, fakultas ini hanya menaungi dua program studi sarjana, yakni Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (KPM) dan Ilmu Keluarga dan Konsumen. Lalu tiga prodi di tingkat magister atau S2, yakni Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak, Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, serta prodi Sosiologi Pedesaan. Selanjutnya, untuk jenjang doktoral atau S3 terdapat tiga prodi, yakni Ilmu Keluarga, Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, serta Sosiologi Pedesaan.
Seiring dengan penambahan ilmu sosial pada penamaan Fakultas Ekologi Manusia, IPB membuka sejumlah program studi baru dari rumpun ilmu tersebut. Pada tahun ini misalnya, ada dua prodi baru yang akan dibuka untuk tingkat S1, yaitu jurusan Sosiologi dan Geografi Manusia.
Sementara dalam peta jalan hingga 2031, FISEMA menargetkan pembukaan prodi baru yang lebih luas, meliputi Ilmu Konsumen, Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak, Psikologi, Politik, Hubungan Internasional, Antropologi, Hukum, hingga Kebijakan Publik.
Menurut Sofyan, penambahan prodi baru ini akan sejalan dengan perubahan kurikulum, termasuk untuk prodi lama. Selain itu, Sofyan menyebut rumpun ilmu sosial di IPB Universitiy akan berbeda dengan ilmu sosial di perguruan tinggi lainnya. IPB disebut akan membangun kekhasan ilmu sosial tersendiri dengan fokus pada komunitas agromaritim.
“Fokusnya tetap pada komunitas agromaritim, masyarakat dataran tinggi, dataran rendah, hingga pesisir. Itu menjadi wilayah analisis utama kita,” kata Sofyan.
Ia menambahkan, di bidang riset, FISEMA juga mengusung agenda besar rural transformation atau transformasi desa. Salah satunya melalui jalinan kerja sama riset dengan China Agricultural University (CAU) untuk mengembangkan metodologi dan basis Data Desa Presisi (DDP).
DDP, kata Sofyan, telah diminati oleh berbagai daerah, termasuk Maluku dan Papua. “Badan Legislasi DPR RI tengah mempertimbangkan adopsinya sebagai bagian dari metodologi Satu Data Indonesia,” tutur Sofyan.




