Jakarta –
Kementerian Sosial RI (Kemensos) memperkuat budaya kerja baru melalui kegiatan team building dalam acara Doa Bersama dan Sosialisasi Transformasi Budaya Kerja di Lingkungan Kemensos.
Kegiatan yang digelar di Gedung Aneka Bhakti, Jakarta, ini menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi budaya kerja yang efektif, adaptif, dan berdampak bagi masyarakat.
Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyampaikan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kebersamaan, tetapi juga membuka sisi humanis para pegawai yang selama ini jarang terlihat dalam suasana formal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dengan acara ini kita melihat hal-hal yang mungkin selama ini tidak kita temukan di ruangan kantor. Para direktur terlihat apa adanya,” kata Gus Ipul, dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).
“Jadi ini kelihatan semua bisa lepas dan ini baik untuk kita semua,” sambungnya.
Gus Ipul menilai suasana yang cair dan penuh kebersamaan, meski diwarnai berbagai ketidaksempurnaan, justru menjadi kekuatan dalam membangun solidaritas tim.
“Bahwa banyak ketidaksempurnaan di tengah-tengah kita, tapi kita bisa saling menguatkan Itu catatan kita,” kata Gus Ipul.
Menurut Gus Ipul, semangat saling mendukung dan gotong royong merupakan kunci menghadapi tantangan organisasi ke depan. Dengan kebersamaan, berbagai target dapat dicapai secara kolektif.
“Kalau kita punya (rasa) kebersamaan, tidak ada yang bisa kita tidak atasi secara bersama-sama. Itulah kekuatan kita, gotong-royong itu adalah kekuatan kita,” tegas Gus Ipul.
Kegiatan diawali dengan penampilan baris-berbaris siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi dan SRMA 10 Jakarta yang berlangsung tertib dan energik.
Suasana kemudian semakin semarak dengan penampilan paduan suara Kemensos ‘Suarasa’ yang membuat peserta ikut bernyanyi bersama.
Acara dilanjutkan dengan lomba kreativitas antar unit kerja Eselon I. Setiap unit menampilkan konsep unik dengan beragam kostum, mulai dari nuansa kerajaan hingga batik ciprat, yang suasana menjadi semakin meriah dan penuh canda tawa.
Penampilan Sekretariat Jenderal (Setjen) menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian. Mengusung tema khas Mesir era klasik, mereka berhasil menghidupkan suasana dengan mengajak seluruh peserta bernyanyi dan menari bersama.
Sebagai bagian dari transformasi, Kemensos juga mendorong perubahan cara pandang terhadap konsep hemat.
Hemat tidak lagi dimaknai sebagai pembatasan, melainkan bekerja lebih tepat, efisien, dan berdampak.
Melalui ‘Gerakan Hemat Energi’, pemanfaatan waktu, tenaga, dan sumber daya dioptimalkan untuk menghasilkan kinerja yang lebih maksimal.
Pendekatan ini memperkuat kolaborasi, mengarahkan energi secara lebih efektif, serta meningkatkan produktivitas.
Implementasinya dilakukan melalui langkah konkret, antara lain penerapan kerja dari rumah setiap Jumat, penggunaan kendaraan dinas secara bersama, serta pengutamaan transportasi publik.
Selain itu, pemakaian air, listrik, dan kertas dilakukan secara bijak, serta pemanfaatan teknologi digital terus diperkuat.
Dengan pendekatan ini, hemat bukan berarti mengurangi kerja, tetapi menghilangkan hal-hal yang tidak perlu agar pelayanan kepada masyarakat lebih fokus dan optimal.
Upaya ini menegaskan langkah Kemensos dalam membangun budaya kerja yang efisien, efektif, dan responsif. Kemensos Hemat, Layanan Hebat.
Sebagai informasi, acara ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Sosial RI (Wamensos) Agus Jabo Priyono, Sekretaris (Sekjen) Jenderal Kemensos Robben Rico, Direktur Jenderal (Dirjen) Pemberdayaan Sosial Kemensos Mira Riyati Kurniasih, Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos Supomo, Dirien Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos Agus Zainal Arifin, serta pejabat tinggi madya Kemensos lainnya.
(hnu/ega)






