Jakarta –
Ungkapan “minal aidin wal faizin” akrab di telinga umat Islam setiap Idulfitri. Kata-kata ini sering jadi ucapan Lebaran bersamaan dengan kalimat “Selamat Hari Raya Idulfitri”.
Sebenarnya, apa arti kata “minal aidin wal faizin”? Mengutip dari situs Majelis Ulama Indonesia (MUI), ungkapan minal aidin wal faizin memiliki makna yang sangat mendalam dalam tradisi perayaan Idulfitri. Secara etimologis, kata “aidin” berasal dari akar kata yang bermakna “kembali”, sedangkan “faizin” berarti “orang-orang yang memperoleh kemenangan”.
Dengan demikian, ungkapan ini mengandung doa agar seseorang termasuk golongan yang kembali kepada kesucian (fitrah) serta meraih kemenangan setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan. Makna ini tidak hanya bersifat simbolik, melainkan mencerminkan harapan akan perubahan diri yang lebih baik, baik dalam aspek spiritual maupun moral.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemenangan yang dimaksud dalam ungkapan tersebut tidak terbatas pada keberhasilan menunaikan ibadah puasa, tetapi lebih jauh berkaitan dengan keberhasilan dalam mengendalikan hawa nafsu dan memperbaiki kualitas keimanan. Dalam perspektif ajaran Islam, kemenangan sejati adalah ketika seseorang mampu menjaga nilai-nilai kebaikan yang telah dilatih selama Ramadhan untuk terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, minal aidin wal faizin bukan sekadar ucapan seremonial, melainkan sebuah doa yang sarat makna agar manusia senantiasa berada dalam kondisi spiritual yang lebih baik, serta mampu mempertahankan kemurnian fitrah dalam setiap aspek kehidupannya.
Asal-usul Istilah Minal Aidin Wal Faizin
Melansir situs Muhammadiyah, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, mengungkapkan asal-usul “minal aidin wal faizin”. Ungkapan ini memiliki makna doa agar setiap individu dapat kembali kepada fitrahnya yang suci serta meraih kemenangan melawan hawa nafsu.
Namun, Mu’ti mengungkapkan bahwa asal-usul kalimat tersebut tidak berasal dari ajaran Rasulullah SAW, melainkan dari seorang penyair terkemuka asal Andalusia, Shafiyuddin al-Hilli. Dalam konteks budaya, Mu’ti menjelaskan bahwa kalimat ini pertama kali diucapkan Al-Hulli bersama para perempuan Andalusia yang merayakan kegembiraan saat itu.
“Secara kultural tiap kali Idul Fitri kita mengucapkan ‘minal aidin wal faizin’, ini ungkapan yang berasal dari penyair Andalusia, penyair Spanyol, yang merayakan kegembiraan bersama dengan para perempuan Andalusia pada waktu itu,” terang Mu’ti.
Karena itulah, ungkapan tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya umat Islam. Meskipun tidak memiliki dasar hadis yang eksplisit, namun esensinya tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Ungkapan ini sebenarnya mengandung doa yang mendalam; harapan agar setiap individu menjadi hamba Allah yang kembali kepada fitrahnya yang suci, serta termasuk dalam golongan yang berhasil mengalahkan hawa nafsu dalam menjalani ibadah dan berusaha keras selama bulan Ramadan.
(kny/imk)






