JARINGAN Gusdurian mengutuk tindakan penyerangan terhadap aktivis Kontras, Andrie Yunus. Jaringan ini menilai penyiraman air keras terhadap Andrie bukan sekadar peristiwa acak, melainkan sudah direncanakan dengan sangat matang.
Direktur Jaringan Gusdurian Alissa Wahid mengatakan, Andrie adalah simbol perlawanan dari masyarakat sipil. Ia pernah menerobos masuk saat Revisi Undang-Undang TNI dibahas secara sembunyi-sembunyi oleh DPR di hotel mewah.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Andrie juga menjadi saksi ahli atas gugatan terhadap RUU TNI yang berpotensi membuat peran militer semakin menguat di era pemerintahan Prabowo. Tak hanya itu, Andrie turut menjadi tim pencari fakta kasus penculikan dan penangkapan aktivis pada demonstrasi Agustus 2025.
Karena itu, Jaringan Gusdurian melihat serangan ini merupakan ancaman bagi masyarakat sipi. “Terutama menggunakan cara-cara kekerasan merupakan bentuk pembungkaman terhadap kritik dan kebebasan berpendapat,” kata Alissa dalam siaran pers dikutip pada Rabu, 18 Maret 2026.
Dalam pernyataan bersama tersebut, Jaringan Gusdurian mendesak Presiden Prabowo Subianto menjamin kebebasan berpendapat dan melindungi setiap warga negara dari berbagai bentuk ancaman dengan mengungkap kasus yang menimpa Andrie Yunus ini.
“Membiarkan pembungkaman kebebasan berpendapat apalagi dengan kekerasan akan menyempitkan ruang demokrasi di Indonesia,” katanya.
Selanjutnya, Jaringan Gusdurian menuntut aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus ini hingga menemukan auktor utamanya, serta menghukum yang bersangkutan dengan proses yang transparan dan memenuhi rasa keadilan.
Jaringan yang beranggotakan puluhan tokoh nasional ini lantas mengajak segenap elemen masyarakat untuk terus mengawal kasus ini. “Karena sesungguhnya teror terhadap pejuang hak-hak warga adalah teror terhadap masyarakat secara keseluruhan.”
Andrie Yunus disiram air keras saat berada di Jalan Salemba I-Talang, Jakarta Pusat, Kamis malam, 12 Maret 2026. Andrie disiram larutan berbahaya oleh dua orang tak dikenal. Kedua orang itu mengendarai sepeda motor yang datang dari arah berlawanan dengan Andrie.
Cairan kimia yang bersifat korosif itu mengenai tubuh bagian kanan Andrie, seperti mata, wajah, dada, dan tangan. Sebagian baju korban juga meleleh imbas terkena air keras. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan Andrie mengalami luka bakar serius sebanyak 24 persen. Kini Andrie masih menjalani pengobatan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM).





