Survei Efek Medsos terhadap Gangguan Mental, Ini Hasilnya

PRINCETON University Amerika Serikat bekerja sama dengan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) melakukan survei berkaitan dengan pengaruh buruk media sosial terhadap kesehatan mental. Survei ini dilakukan pada 17 November – 14 Januari 2026 dalam dua periode wawancara.

Survei ini melaporkan gangguan mental (mental health) dan emosional paling banyak dialami generasi Z (Gen-Z). Survei ini menggunakan metode eksperimental terhadap populasi pengguna media sosial di 30 ibukota provinsi di Indonesia.

Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani mengatakan Gen-Z yang lahir setelah 1997 paling banyak mengalami gangguan kesehatan mental dan emosional sebesar 16 persen. Sementara generasi millenial (lahir 1981-1996) 8 sebesar persen, dan Gen-X (lahir 1965-1980) sebesar 7 persen. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Sementara, Boomers+ (lahir sebelum 1965) 7 persen,” kata Deni dalam keterangan resmi, Minggu, 15 Maret 2026.

Kesimpulan itu merupakan hasil survei Princeton University Amerika Serikat dengan SMRC. Survei ini menggunakan metode eksperimental terhadap populasi pengguna media sosial di 30 ibukota provinsi di Indonesia. Sampel sebanyak 1502 responden dipilih secara acak. 

Dalam rilis survei bertajuk “Efek Media Sosial terhadap Kesehatan Mental” itu sebanyak 10 persen warga mengaku mengalami kesehatan mental dan emosional yang buruk atau sangat buruk. Sementara 90 persen yang menyatakan cukup baik atau sangat baik. 

Adapun 1502 responden yang dipilih secara acak diwawancara online 2 kali dalam bentuk panel. Wawancara pertama dilakukan ketika responden dalam keadaan biasa beraktivitas dengan medsos mereka. 

Kemudian responden-responden tersebut dibagi secara acak ke dalam 3 kelompok: 1) kelompok responden yang diminta untuk menghentikan penggunaan medsos setelah wawancara pertama sampai wawancara kedua (Kelompok T1), 2) kelompok responden yang diminta bersama-sama dengan semua anggota rumah tangga untuk tidak menggunakan medsos setelah wawancara pertama sampai wawancara kedua (Kelompok T2), 3) kelompok responden yang tetap dipersilakan menggunakan medsos seperti biasa sejak wawancara pertama sampai wawancara kedua (Kelompok Kontrol). 

Selang waktu wawancara 1 dan 2 selama 1 bulan. Wawancara 1 dilakukan pada 17 November – 15 Desember 2025, dan wawancara 2 dilakukan pada 16 Desember – 14 Januari 2026. Studi ini dibiayai oleh Princeton University.

Variabel-variabel studi meliputi afeksi, kepuasan hidup, rasa cemas, depresi, dan kualitas tidur. Hasil studi menunjukkan bahwa kesehatan mental Kelompok T1 dan T2 setelah periode treatmen selama 1 bulan secara umum menjadi lebih baik dibanding Kelompok Kontrol.

  • Related Posts

    Pertamina Berangkatkan Ribuan Pemudik ke 23 Kota dengan 153 Bus dari TMII

    Jakarta – PT Pertamina (Persero) memberangkatkan ribuan peserta program Mudik Bareng Pertamina 2026 dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Program ini menjadi bagian dukungan Pertamina terhadap upaya pemerintah mendorong…

    Menkum: RUU Disinformasi Atur Medsos, Bukan Media Mainstream

    MENTERI Hukum Supratman Andi Agtas mengklaim Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing (RUU Disinformasi) tidak dimaksudkan untuk membatasi kebebasan pers. Menurut Supratman, penyusunan rancangan itu dilakukan dengan hati-hati dan…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *