INFO TEMPO – Terjangan air bah yang menyapu berbagai wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025 mulai menunjukkan tanda pemulihan. Melalui Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR), nyaris 80 persen lumpur sisa banjir yang sempat menutup permukiman, jalan serta fasilitas publik kini telah berhasil dibersihkan.
Total keseluruhan, ada 508 lokasi yang menjadi titik penanganan lumpur di 3 provinsi terdampak. Per 9 Maret 2026, Satgas PRR telah membersihkan 406 lokasi, sementara 102 lainnya masih dalam proses pengerjaan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Pembersihan lumpur merupakan bagian dari tahap rehabilitasi pascabencana yang bertujuan untuk memulihkan akses masyarakat serta memastikan fasilitas publik dapat kembali berfungsi secara normal,” kata Direktur Kawasan, Perkotaan, dan Batas Negara Ditjen Bina Adwil sekaligus Juru Bicara Satgas PRR Amran di Kantor Kemendagri pada Senin, 9 Maret 2026.
Secara rinci, Aceh menjadi wilayah dengan jumlah lokasi terdampak terbanyak, yakni 455 titik pembersihan lumpur. Dari jumlah tersebut, sebanyak 366 lokasi telah berhasil dituntaskan, sementara 89 lokasi lainnya masih dalam proses pengerjaan.
Sementara itu di Sumatera Utara, dari total 24 lokasi penanganan lumpur, sebanyak 11 lokasi telah rampung dibersihkan dan sudah dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat. Sedangkan 13 lokasi lainnya masih dalam tahap penanganan.
Kabar baik datang dari Sumatera Barat. Sebab, lumpur yang mengganggu mobilitas masyarakat di 29 lokasi, seluruhnya sudah selesai dikerjakan.
Amran mengatakan seluruh jalan nasional dan provinsi yang sempat tertutup lumpur kini telah kembali berfungsi normal. Pekerjaan yang tersisa saat ini hanya mencakup lokasi-lokasi kecil, seperti akses jalan menuju sejumlah titik permukiman atau area tertentu.
Kerja keras ini merupakan hasil gotong royong lebih dari 30 kementerian dan lembaga yang tergabung dalam Satgas PRR. Dalam upaya tersebut, turut dikerahkan 1.739 taruna dan kadet yang tergabung dari Akademi Militer (Akmil), Akademi Angkatan Laut (AAL), Akademi Angkatan Udara (AAU), Akademi Kepolisian, Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN), serta Universitas Pertahanan (Unhan).
Selain itu, sebanyak 1.589 Praja IPDN juga diterjunkan untuk membantu penanganan lumpur di Sumatra. Jumlah tersebut dibagi dalam dua gelombang, yakni gelombang pertama sebanyak 869 praja dan gelombang kedua 720 praja. Masing-masing gelombang menjalankan tugas selama satu bulan.
Satgas PRR menargetkan, seluruh lumpur dapat dibersihkan sebelum memasuki Hari Raya Idul Fitri 2026. “Untuk progres pembersihan lumpur tinggal sedikit. Masih ada waktu 2 minggu, mudah-mudahan bisa rampung secara keseluruhan 100 persen,” kata dia.
Ketua Satgas PRR sekaligus Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian terus berupaya mengakselerasi pemulihan masyarakat yang terdampak banjir Sumatra. Ia berujar, pembersihan lumpur menjadi kunci utama pemulihan wilayah terdampak banjir di tiga provinsi terdampak.
Dengan tertanganinya lumpur, jalur distribusi bantuan dapat kembali terbuka, pasar dan warung mulai beraktivitas, serta layanan kesehatan dan pendidikan dapat berjalan normal. “Dengan fondasi itu, fase rehabilitasi di tiga provinsi terdampak kini bergerak lebih cepat menuju pemulihan yang berkelanjutan,” katanya pada 11 Februari 2026.
Upaya pembersihan juga melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum sebagai bagian dari Satgas PRR. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan jajarannya telah melakukan pembersihan serta percepatan pemulihan fasilitas umum. “Kami ingin memastikan masyarakat terdampak tidak terlalu lama berada dalam kondisi sulit. Selain pembersihan fasilitas umum, pemerintah juga menyiapkan hunian sementara dan infrastruktur dasar sebagai bagian dari pemulihan menyeluruh,” kata dia. (*)






