Cerita Kekhawatiran WNI yang Bekerja di Abu Dhabi

TENAGA kerja asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang mencari nafkah di kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) Hadiyanti, mengaku sempat ketar-ketir saat kota Dubai dibombardir rudal Iran. Meskipun jaraknya cukup jauh dari tempatnya bekerja, dia menyaksikan Cahaya merah di langit serta suara dentuman. 

“Saya bersama rekan kerja lain sempat berlari ke lantai atas untuk mengamankan diri. Kami merasa waswas dan ketar-ketir. Meskipun serangan itu bukan nyasar ke kota Abu Dhabi, namun kami sempat ketakutan,” ujar wanita berusia 38 tahun itu melalui pesan suara Whatsapp kepada Tempo, Sabtu 7 Maret 2026. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut Hadiyanti, saat serangan rudal terjadi, Sabtu 28 Februari 2026 lalu, majikan sempat meliburkan karyawan dan menjamin mereka bahwa situasi aman. Menurut majikan, kata Hadiyanti, serangan rudal Iran itu ditujukan ke fasilitas militer Amerika Serikat yang ada di kota Dubai. 

“Kata majikan Abu Dhabi bukan sasaran serangan Iran karena tidak ada pangkalan militer Amerika. Pangkalan itu ada di Dubai, jarak satu jam dari sini. Di Dubai memang banyak bule warga asing yang tinggal,” kata Hadiyanti. 

Warga asal Desa Mayak, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, itu mengaku sudah 3 tahun lebih bekerja di Abu Dhabi, dia baru memperpanjang kontrak kerja baru sehingga belum ada rencana pulang ke Indonesia. 

“Namun, sekarang lihat situasi dan kondisi. Kalau majikan menganggap kondisinya berbahaya, mungkin kami disuruh pulang dulu ke Indonesia. Tapi sampai saat ini kami merasa aman-aman saja,” tutur dia. 

Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI untuk mencari solusi dan mempercepat kepulangan warga asal Cianjur yang masih terjebak konflik Timur Tengah.  

Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian mengatakan, pihaknya terus menjalani komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar RI di beberapa negara Timur Tengah untuk memastikan keselamatan warga Cianjur.  

“Kami terus berkoordinasi agar Kementerian Luar Negeri bisa segera mencarikan solusi dalam percepatan untuk memulangkan warga Cianjur yang terjebak konflik perang Timur Tengah,” ujar Wahyu di Cianjur,Sabtu 7 Maret 2026.  

Menurut Wahyu, akibat perang di Timur Tengah, beberapa penerbangan di sejumlah negara ditutup. Pemerintah Indonesia tengah berupaya mengalihkan Warga Negara Indonesia (WNI) ke negara yang masih membuka penerbangan. “Mudah-mudahan permasalah tersebut bisa segera ditangani dan kita berharap semoga tidak ada WNI asal Cianjur yang menjadi korban dalam konflik itu,” katanya.  

Wahyu mengatakan pihaknya saat ini pun terus mendata jumlah warga Cianjur yang terjebak akibat konflik. Sebab warga Cianjur tersebar di beberapa negara Timur Tengah yang terdampak perang. Selain itu, Wahyu mengimbau warga yang sudah mendaftarkan diri untuk melakukan ibadah umrah untuk menunda rencana tersebut.  

“Lebih baik ditunda dulu dan tunggu sampai adanya kepastian serta situasi kondisi konflik di Timur Tengah dinyatakan aman,” katanya. 

  • Related Posts

    Gempa M 5,7 Terjadi di Laut Lebong Bengkulu, Tak Berpotensi Tsunami

    Lebong – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 5,7 mengguncang Lebong, Bengkulu. Gempa berpusat di laut dengan kedalaman 47 km. “Mag: 5.7, 07-Mar-26 23:58:45 WIB,” tulis keterangan BMKG dalam postingan X…

    Peringati Nuzulul Quran, Polres Bogor Serahkan 2.000 Al-Quran

    Bogor – Polres Bogor menyerahkan wakaf 2.000 kitab suci Al-Quran di Masjid Baitul Faizin, Kecamatan Cibinong. Penyerahan tersebut dilakukan dalam rangka memperingati Nuzulul Quran. “Alhamdulillah, malam ini kami dari jajaran…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *