Kuliah tujuh menit (kultum) adalah bentuk dakwah atau ceramah yang disampaikan dalam waktu singkat. Biasanya, kultum disampaikan saat jelang berbuka puasa, sebelum/sesudah Salat Tarawih atau sesudah Salat Subuh di bulan Ramadan.
Mengutip situs Kementerian Agama (Kemenag) dan NU Online, berikut contoh naskah kultum Ramadan singkat.
1. Lebih Baik Sedikit tapi Istiqamah
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bulan Ramadan sebagai bulan istimewa penuh berkah dan ampunan sering kali hanya menjadi euforia sesaat saja. Di awal Ramadan, semangat ibadah kita menggebu-gebu. Masjid penuh, tadarus Al-Qur’an terdengar di mana-mana, sedekah mengalir dengan lancar, ibadah sunnah terlaksana dengan lengkap, dan kebaikan-kebaikan lainnya.
Namun, ironisnya, ketika Ramadan sudah sampai pada pertengahan, semangat itu mulai hilang. Amalan ibadah dan kebaikan yang awalnya terlaksana dengan rutin sudah mulai terlupakan, ibadah sunah dan sedekah mulai terabaikan, dan semangat tadarus Al-Qur’an mulai terasa seperti beban sehingga ditinggalkan.
Dalam kondisi seperti inilah, menjadi penting bagi kita untuk kembali membahas hakikat istiqamah dalam beragama. Perlu kita ketahui bahwa istiqamah bukanlah tentang menjaga semangat tinggi di saat-saat tertentu saja, tetapi tentang senantiasa mempertahankan ketaatan dalam kondisi dan keadaan apa pun.
Allah SWT telah menjanjikan balasan yang sangat istimewa bagi mereka, yaitu surga yang penuh dengan kenikmatan abadi di dalamnya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu’.” (QS. Fushshilat: 30).
Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah kemudian beristiqamah akan mendapatkan jaminan keamanan dan kebahagiaan dari Allah SWT. Istiqamah secara sederhana dapat diartikan sebagai keteguhan hati dalam beriman dan berislam, serta konsisten dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dalam kondisi apa pun.
Oleh karena itu, marilah kita tata kembali ibadah kita. Tidak perlu memaksakan diri dengan amalan yang berat dan sulit dipertahankan. Cukup pilih amalan-amalan kecil yang realistis dan mampu kita jaga secara konsisten.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
2. Ramadan Berdampak
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Jemaah sekalian yang dirahmati Allah. Di bulan suci ini, mari kita wujudkan “Ramadhan Berdampak” melalui tiga aspek pertumbuhan, yakni kuantitas, kualitas, dan kapasitas ibadah.
Pada aspek kuantitas, tingkatkan volume ibadah dibandingkan tahun sebelumnya. Jika sudah khatam Al-Qur’an sekali, tahun ini tingkatkan menjadi dua kali dan seterusnya. Begitu pula dengan sedekah dan intensitas salat, juga harus terus ditambah.
Untuk kualitas, penghayatan dalam setiap ibadah juga penting dilakukan, misalnya dalam membaca Al-Qur’an, perlu disertai pemahaman makna, tidak sekadar membaca. Kualitas salat harus terus ditingkatkan supaya mampu mencegah perbuatan keji dan munkar.
Selain itu, dalam kapasitas ibadah, peningkatan kapasitas pribadi harus memiliki korelasi dengan kesalehan sosial. Kesalehan seorang muslim harus mampu terpancar dan mempengaruhi lingkungan sekitarnya agar ikut melakukan kebaikan.
Tiga aspek pertumbuhan tersebut diharapkan dapat melahirkan pribadi yang semakin beriman dan bertumbuh secara menyeluruh. Itulah sejatinya Ramadan yang diharapkan terus berdampak dan membawa perubahan positif bagi diri dan lingkungan sekitarnya.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
3. Kesabaran adalah Jalan Menuju Kemenangan
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Dalam Islam, menghadapi kesulitan hidup diistilahkan dengan sabar. Sabar dalam menghadapi pahitnya takdir bukanlah tanda kelemahan, tapi sebaliknya, sabar dalam menghadapi pahitnya takdir merupakan tanda kekuatan sejati. Allah Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,” (QS. Al-Baqarah. Ayat 153).
Ayat ini menegaskan bahwa sabar merupakan sarana penolong bagi orang-orang beriman dalam menghadapi setiap cobaan yang sedang dihadapi. Yang artinya sabar memungkinkan kita untuk menerima apa yang telah terjadi, dan mempercayai bahwa Allah SWT memiliki rencana yang lebih baik untuk kita. Dengan sabar, kita dapat mengatasi kesulitan, belajar dari kesalahan, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak.
Penggalan ayat terakhir tersebut juga merupakan satu keistimewaan dari Allah Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya yang bersabar. Bahwa Allah akan selalu membersamai orang-orang yang sabar dalam menjalani segala ketentuan yang Allah berikan kepada mereka.
Maka, sabar di sini menjadi salah satu jalan yang paling istimewa untuk mendapat kemenangan sejati, yaitu kebersamaan dengan Tuhan semesta alam yang mengatur seluruh jalan takdir yang kita lalui.
Terlebih saat ini kita berada di bulan suci Ramadan, bulan yang begitu mulia. Mari kita manfaatkan bulan yang mulia ini, dengan menumbuhkan akhlak yang mulia juga yakni sabar.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
4. Menjaga Lisan, Menjaga Keberkahan Puasa
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pada saat menjalankan ibadah puasa, tentu tidak hanya perkara rukun atau wajib yang perlu kita perhatikan, tetapi termasuk juga di dalamnya kesunnahan serta hal-hal yang akan menjaga keberkahan puasa kita. Salah satu hal yang penting yang dapat menjaga keberkahan puasa kita, yakni menjaga lisan.
Perintah untuk menjaga lisan ini sebetulnya tidak hanya terbatas pada saat kita sedang berpuasa, tetapi mestinya dilakukan pada saat kapan saja. Nabi Muhammad SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰه وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْلِيَصْمُتْ
Artinya, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sedangkan di dalam konteks berpuasa, orang yang menjaga lisan akan mendapat keberkahan serta terhindar daripada beberapa perkara yang dapat menggugurkan pahala puasa. Rasulullah SAW bersabda:
خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ: الْغِيْبَةُ، وَالنَّمِيْمَةُ، وَالْكَذِبُ، وَالنَّظَرُ بِالشَّهْوَةِ، وَالْيَمِيْنُ الْكَاذِبَةُ
Artinya: “Lima hal yang bisa menggugurkan pahala orang berpuasa; membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu.” (HR Ad-Dailami)
Jangan sampai pahala ibadah puasa kita menjadi gugur, hanya karena kita tidak mampu menjaga lisan. Lebih dari itu, tentu juga akan mendapatkan balasan dosa dari kejelekan-kejelekan yang keluar dari lisan, seperti membicarakan orang lain, berbohong, dan lain sebagainya.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
5. Menjadikan Ramadan Menyenangkan dan Menenangkan
Ramadan menjadi bulan yang paling dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Sebab, Ramadan adalah bulan penuh kebaikan, keberkahan, kemuliaan, dan keutamaan yang tidak ditemukan di bulan-bulan lainnya.
Ramadan adalah waktu yang tepat untuk menemukan kegembiraan dalam setiap momen ibadah. Kita bisa merefleksikan dan menghayati makna di balik setiap ibadah yang kita lakukan. Apakah selama ini kita beribadah untuk menggugurkan kewajiban saja, atau beribadah sudah menjadi sumber kebahagiaan kita?
Ramadan juga menjadi momen yang pas untuk menciptakan ruang bagi kedamaian batin. Di tengah kesibukan sehari-hari, Ramadan mengajak kita untuk merenungkan dan merasakan kehadiran Allah di setiap detik kehidupan.
Apakah salat kita berhenti pada ritualistik saja, atau sudah berdampak pada perilaku sehari-hari? Apakah puasa kita hanya menahan perut dari makan dan minum, serta dzakar dan farji dari senggama, lalu bagaimana dengan mulut, telinga, dan anggota tubuh yang lainnya.
Kegembiraan dan ketenangan dalam bulan Ramadan itu penting agar ibadah bisa lebih khusyuk, ringan, bermakna, dan tidak membosankan. Dengan itu, Ramadan tidak hanya menjadi bulan yang penuh ibadah, tetapi juga menjadi saat untuk merawat jiwa dan menemukan ketenangan sejati.
Pada akhirnya, Ramadan merupakan hadiah terindah yang diberikan Allah untuk kita memperbaiki diri. Setiap detik di bulan ini ialah kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada-Nya, membersihkan hati dari segala dosa, meraih pahala berlipat ganda, dan memberi manfaat kepada sesama. Wallahu a’lam.
6. Derajat Takwa Harus Diusahakan Maksimal
Tujuan berpuasa adalah menjadi pribadi yang muttaqin, sebagaimana dinarasikan dalam Al-Qur’an, ‘la’allakum tattaqun’ yang berarti ‘semoga kamu menjadi bertakwa’. Redaksi ‘la’allakum’ tidak hanya sebatas harapan, namun harus diusahakan secara maksimal.
Pribadi muttaqin merupakan hasil akhir dari tujuan puasa. Sedangkan penggunaan kata ‘la’allakum tattaqun’ sebuah bentuk pengharapan yang sifatnya bukan halusinasi, tetapi realistis. Jika benar-benar diikhtiarkan maksimal, derajat ketakwaan itu bisa digapai.
Makna ‘takwa’ merupakan pelaksanaan perintah, meninggalkan larangan yang dibarengi dengan kesadaran kritis bahwa manusia selalu dipantau dan diawasi oleh Allah SWT. Takwa, bermakna fungsional bahwa manusia adalah pribadi-pribadi yang selalu dalam pengawasan Allah SWT.
Ada sejumlah alasan manusia harus bersemangat menjalani puasa Ramadan. Selain menjadi pribadi yang bertakwa, di bulan Ramadan terdapat keberkahan dan pelipatgandaan pahala.
Semoga kita bisa terus meningkatkan ketakwaan dan menjadi pribadi yang lebih baik.
7. Menghidupkan Hati dengan Tadarus Al-Qur’an
Bulan suci Ramadan hadir sebagai momentum emas bagi setiap Muslim untuk kembali merajut kedekatan dengan Al-Qur’an. Mengingat kaitan erat antara Ramadan dan Al-Qur’an, memperbanyak tadarus bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya menghidupkan kembali hati kita di bulan yang penuh berkah tersebut. Allah SWT. berfirman dalam surat Al-Isra’:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا
Artinya: “Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS. Al-Isra’: 82)
Dengan tadarus Al-Qur’an, seorang Muslim hatinya akan hidup sehingga mudah merasakan sensitivitas spiritual, seperti bersedih atas kesempatan ibadah yang terlewat; menyesali perbuatan buruk yang telah dilakukan; dan tidak akan bersahabat dengan orang-orang lalai yang juga mati hatinya.
Tadarus Al-Qur’an bukanlah sekadar rutinitas membaca saja, akan tetapi merupakan aksi nyata sebuah metode pengobatan menyeluruh yang bekerja secara serentak. Ia berfungsi sebagai solusi penyembuhan untuk penyakit hati yang ada, sekaligus menjadi benteng pencegahan agar hati tidak mengalami degradasi spiritual sehingga akan hidup dan mudah merasakan sensitivitas spiritual.
Momentum Ramadan adalah ruang terbaik untuk menghidupkan hati dan memperkuat iman melalui tadarus yang konsisten. Mari kita sambut ajakan kebaikan ini dengan tekad yang bulat untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an di sepanjang bulan suci ini. Wallahu a’lam.
(kny/zap)






