Dari Markas Tentara ke Ruang Kelas Baru: Semangat Gapura Panca Waluya

INFO TEMPO – Bulir-bulir bening mengalir di wajah Titin saat memeluk erat putranya yang baru saja menyelesaikan pendidikan karakter di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi. Setelah berpisah 18 hari, ibu asal Kabupaten Ciamis ini terharu melihat perubahan sang anak.

Dulu, Tintin didera cemas setiap kali teleponnya berdering. Ia khawatir mendapat panggilan dari ruang Bimbingan Konseling (BK) sekolah atau kabar anaknya terlibat perkelahian di jalanan. Namun, sang putra kini telah berubah, sikapnya jauh lebih santun. “Alhamdulillah, bangga sekali. Anak saya jadi lebih tekun, disiplin, dan patuh,” ucapnya dengan suara bergetar.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kisah Tintin hanyalah satu dari ratusan perubahan anak-anak yang lulus dari program pendidikan karakter Gapura Panca Waluya Jabar Istimewa. Inisiatif yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk menjawab kegelisahan para orang tua di tengah derasnya arus degradasi moral remaja sehingga terjebak dalam lingkaran tawuran, kecanduan rokok dan minuman keras, hingga aksi balapan liar dengan knalpot brong.

Dedi, atau akrab disapa KDM, optimistis program terobosan ini mampu membentuk kepribadian positif melalui penguatan integritas, disiplin, serta rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap diri sendiri maupun masyarakat. Komitmen ini bahkan dipertegas melalui Surat Edaran Nomor 43/PK.03.04/KESRA yang praktiknya melibatkan TNI dan Polri.

Selama 10-21 hari para siswa mendapat pembinaan khusus agar energi mereka tidak terbuang sia-sia di jalanan. Selain fisik, program Gapura Panca Waluya juga menekankan peningkatan moralitas dan spiritualitas melalui pendekatan pendidikan agama sesuai keyakinan masing-masing peserta didik.

KDM menilai perubahan siswa begitu cepat terlihat setelah menjadi peserta program. “Baru satu hari masuk badannya sudah mulai tegap, tatapannya sudah mulai tajam. Tapi tajamnya ke masa depan, bukan tajamnya pada musuh yang harus diterkam,” ujarnya saat membuka angkatan di Kesatuan Marinir Cilandak.

Senada, Wakil Gubernur Erwan Setiawan menegaskan gerakan ini adalah perwujudan konkret dari visi Jabar Istimewa. Menurut dia, pendidikan harus menjadi ruang harapan untuk memperbaiki kehidupan melalui pembekalan karakter yang selaras dengan prinsip Gapura Panca Waluya. “Kita ingin mewujudkan provinsi yang unggul, berdaya saing, namun tetap berpijak pada nilai-nilai lokal melalui generasi yang cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), pinter (pintar), dan singer (gercep),” ucapnya.

Hingga akhir 2025, program ini telah membuktikan konsistensinya melalui gelombang angkatan yang tak putus menyemai nilai-nilai kebangsaan. Berawal pada Mei hingga Juni 2025 lewat Angkatan I yang melibatkan 273 siswa SMA/SMK, diikuti Angkatan II yang bahkan menarik minat peserta dari luar provinsi untuk ikut menempa diri di Dodik Bela Negara.

Jangkauan program kemudian meluas pada periode Juni hingga Juli 2025 ke jenjang SMP di Subang dan Pangandaran melalui Angkatan III dan IV. Momentum ini terus terjaga hingga periode Juli sampai Desember 2025, di mana penguatan skala besar dilakukan di Mako Marinir Cilandak melalui Angkatan V hingga VII, yang melibatkan ratusan pengurus OSIS dari seluruh penjuru Jawa Barat.

Perhatian KDM pada pendidikan sesungguhnya tidak semata pada program ini. Ia juga melakukan perombakan total pada wajah pendidikan Jawa Barat dengan anggaran lebih dari Rp 515 miliar untuk pembangunan 15 unit sekolah baru dan ratusan ruang kelas di tahun 2025. Sedangkan perhatiannya pada perjuangan orang tua menyekolahkan anak, ditegaskan dengan melarang study tour mahal, menggantinya dengan kunjungan edukatif lokal, hingga memajukan jam masuk sekolah agar anak-anak memiliki lebih banyak waktu berkualitas bersama keluarga.

Tokoh perlindungan anak nasional, Seto Mulyadi, berpendapat inovasi KDM pada pendidikan berujung hasil positif, mampu menyalurkan potensi setiap anak yang pada dasarnya kreatif, energik penuh dengan dinamika, tapi karena lingkungan tidak kondusif akhirnya menyimpang. “Saya menyimpulkan bahwa ini adalah satu langkah yang sangat gemilang,” ujar Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia itu. (*)

  • Related Posts

    Pria di Bogor Tewas Tergeletak Saat Perbaiki Atap Rumah Bocor

    Jakarta – Pria berinisial NU tewas tergeletak di atap rumahnya di Bogor Selatan, Kota Bogor, saat memperbaiki genting bocor. Korban dievakuasi pemadam kebakaran (damkar) dari atas atap. “Iya (korban meninggal…

    4 Hal Kasus Kematian Anak di Sukabumi Diduga Dianiaya Ibu Tiri

    Jakarta – Kasus kematian seorang anak laki-laki di Sukabumi, Jawa Barat, menjadi perhatian publik. Korban berinisial NS meninggal dunia setelah diduga mengalami penganiayaan yang melibatkan ibu tirinya. Peristiwa ini masih…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *