PEMERINTAH Kota Yogyakarta dua tahun belakangan terus menambah sekolah lansia yang diperuntukkan bagi kalangan lanjut usia di wilayah itu. Pada Februari 2026 ini, terdapat penambahan sembilan sekolah lansia baru hingga totalnya ada 15 sekolah yang tersebar di 15 kelurahan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Kota Yogyakarta memiliki 45 kelurahan, jadi masih ada 30 kelurahan belum terjangkau sekolah lansia ini,” kata Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan pada Rabu, 11 Februari 2026.
Wawan membeberkan, sekolah ini menjadi ruang untuk memperhatikan keberadaan para lansia itu. Mengingat besarnya dampak psikologis dan kesehatan mereka agar bisa tetap aktif mengikuti kegiatan belajar-mengajar.
Menurut dia, keberadaan sekolah ini bukan sekadar formalitas, melainkan ruang untuk menjaga kesehatan fisik dan mental serta menumbuhkan rasa percaya diri bagi para lansia.
“Dari hasil penelitian kami, sekolah lansia ini berdampak besar karena memberikan rasa optimisme, menumbuhkan semangat, menambah pengalaman, serta paling penting membuat mereka lebih percaya diri serta merasa masih dibutuhkan,” ujar Wawan.
Urgensi pengembangan sekolah lansia ini didasarkan pada data demografis yang menunjukkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi dengan persentase lansia tertinggi di Indonesia.
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat pada tahun 2024, jumlah lansia di daerah itu telah mencapai 18,5 persen atau hampir satu dari lima penduduk yang totalnya 3,72 juta jiwa.
Sekolah lansia ini menjadi fase bagi para lansia untuk mengenali kondisi fisik dan mental guna menjalani tahapan kehidupan yang bermakna. Sebab ada sekolah yang diikuti lansia dengan usia di atas 80 bahkan lebih dari 100 tahun.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta Retnaningtyas memaparkan, dari hasil riset mereka, perbedaan signifikan antara lansia yang bersekolah dan yang tidak.
“Dari sampling lebih dari 600 lansia, ditemukan lansia yang mengikuti sekolah lansia memiliki kualitas hidup enam kali lebih baik dibandingkan yang tidak mengikuti,” kata dia.
Ia membeberkan di sekolah lansia yang rata-rata diikuti 30- 80 peserta di tiap sekolah itu, diajarkan berbagai hal hidup mandiri. Misalnya, mengenai menjaga kesehatan, ketika mereka tersedak bagainana langkah merawat diri sendiri.
Sekolah ini menyasar tujuh aspek untuk menguatkan sisi spiritual, fisik, emosional, intelektual, sosial, profesional vokasional, dan lingkungan bagi para lansia. Di mana setiap kelas melakukan pertemuan pembelajaran sebanyak 12 kali pertemuan.






