GUBERNUR Jakarta Pramono Anung mengumumkan rencana normalisasi tiga sungai utama: Ciliwung, Krukut, dan Cakung Lama. Ia mengatakan pengerukan rutin tetap dilakukan, namun itu hanya solusi sementara di atas masalah struktural yang lebih besar.
Pram mengatakan, kapasitas maksimum Jakarta hanya mampu menampung curah hujan sekitar 150 milimeter per hari. Pada hujan pertengahan Januari, intensitas hujan tinggi terjadi dalam waktu singkat disertai kiriman dari wilayah hulu, sehingga sistem pengendalian banjir kala itu kewalahan.
Alasan Memilih Kebijakan Normalisasi
Pemerintah memprioritaskan penanganan banjir di tiga sungai dengan normalisasi Ciliwung segera dimulai bersama pemerintah pusat dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), sementara Krukut dan Cakung Lama dikerjakan mulai tahun ini.
“Kalau itu bisa dilakukan, saudara-saudara sekalian, maka menengahnya kita sudah melakukan antisipasi, walaupun tetap yang namanya Jakarta itu kalau curah hujannya di atas 200 pasti harus ada penanganan banjir,” kata Pramono.
Keputusan Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu memilih normalisasi didasarkan pada kondisi fisik sungai-sungai utama yang kian menyempit dan dangkal. Pendangkalan, sedimentasi, serta bangunan di bantaran telah mengubah aliran alami dan menurunkan kapasitas tampung air hujan maupun kiriman dari hulu. Dalam situasi itu, banjir mudah terjadi meski curah hujan tidak tergolong ekstrem.
“Lebar sungai yang sempit ini membuat kapasitas tampung semakin terbatas,” kata Staf Khusus Gubernur Bidang Komunikasi Publik, Cyril Raoul Hakim alias Chico Hakim, dikutip pada Rabu, 28 Januari 2026.
Normalisasi dipilih karena memberi dampak langsung dan terukur terhadap peningkatan kapasitas drainase sungai. Pelebaran, pendalaman, pengerukan, dan penguatan dinding dinilai lebih cepat mengurangi genangan di wilayah hilir dibanding pendekatan lain. Pemerintah memposisikan normalisasi sebagai solusi jangka menengah hingga panjang di segmen-segmen kritis yang sudah terpetakan.
“Ini solusi jangka menengah-panjang yang konkret untuk mencegah banjir berulang,” ujar Chico.
Pembebasan Lahan dan Relokasi
Normalisasi Sungai atau Kali Cakung Lama akan diikuti pembebasan lahan, terutama untuk penertiban bangunan yang berdiri hampir di atas sungai serta pelebaran sungai hingga 15 meter yang dilengkapi jalan inspeksi di kedua sisi. “Untuk normalisasi sungai atau Kali Cakung Lama, pasti nanti di ujungnya akan ada pembebasan lahan,” kata dia.
Sementara Chico menyebut pembebasan lahan dan relokasi sedang diproses bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui penetapan lokasi dan appraisal. Relokasi dilakukan bertahap dengan penyediaan rumah susun pengganti agar warga tidak kehilangan akses ekonomi dan sosial. Jumlah warga terdampak masih diverifikasi, sementara hunian pengganti diprioritaskan tersedia lebih dulu.
“Tidak akan ada relokasi tanpa hunian pengganti yang jelas,” kata dia.
Pengerjaan Normalisasi Tiga Sungai
Untuk Kali Ciliwung, normalisasi menjadi proyek terbesar karena sungai ini merupakan tulang punggung sistem aliran Jakarta dari hulu Katulampa hingga ke muara. Pekerjaan dibagi dalam dua segmen, yakni dari Pintu Air Manggarai hingga Jalan MT Haryono sepanjang 6,75 kilometer dan dari MT Haryono hingga Jalan TB Simatupang sepanjang 9,8 kilometer, dengan total target 16,5 kilometer.
Pembebasan lahan dimulai sejak 2025 dan pada awal 2026 difokuskan di Cawang, Rawajati, Cililitan dan Pengadegan. Hingga 2029, normalisasi akan mencakup 14 kelurahan dengan target minimal 80 persen panjang sungai tertangani. “Untuk Ciliwung totalnya 16,5 kilometer dan ditargetkan selesai bertahap sampai 2029,” kata Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Ika Agustin ditemui di Kembangan, Jakarta Barat, Senin, 26 Januari 2026.
Di Kali Krukut, normalisasi difokuskan pada wilayah Petogogan sepanjang 1,3 km yang selama ini menjadi titik sempit aliran dari wilayah selatan. Lebar sungai yang semula sekitar 20 meter menyusut menjadi hanya 3–5 meter sehingga aliran mudah tersumbat saat debit meningkat. Pelebaran dirancang untuk membuka bottleneck agar limpasan dari wilayah Kemang dan sekitarnya dapat mengalir lebih lancar ke hilir.
Sementara di Kali Cakung Lama, normalisasi dipicu oleh penyempitan ekstrem di bagian hilir yang membuat air dari Kelapa Gading, Sukapura, hingga Cilincing tertahan sebelum masuk ke laut. Lebar sungai yang di hulu masih sekitar 10 meter menyempit menjadi hanya 2–3 meter di hilir. Dinas SDA merencanakan pelebaran hingga 15 meter dengan panjang sekitar dua kilometer dua sisi di kawasan Kampung Begog.
“Sungai Cakung Lama ini dan mudah-mudahan sampai dengan akhir tahun 2027 selesai. Panjangnya kurang lebih secara total 8,5 kilometer. Kemudian volumenya kurang lebih 45.000 meter kubik, terbagi dalam 17 segmen,” kata Pram, saat ditemui di Jakarta Utara, Selasa, 27 Januari 2026.






