50 Orang Terkonfirmasi Keracunan MBG di Majene

SEBANYAK 50 orang terkonfirmasi mengalami keracunan setelah menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Berdasarkan data dari Tim Surveilans Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Barat, saat ini ada 40 orang yang masih dirawat di puskesmas setempat.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Dirujuk tidak ada (nol), pulang ke rumah atau sembuh satu orang, dan dirawat di rumah sembilan orang,” tulis data tim Dinkes Provinsi Sulawesi Barat tersebut, Selasa, 13 Januari 2026.

“Ini data update pukul 16.00 WITA,” kata pihak hubungan masyarakat Puskesmas Majene saat dihubungi via pesan WhatsApp.

Tim surveilans dan dinas kesehatan setempat mengatakan saat ini rata-rata korban yang keracunan usia balita. Belum terkonfirmasi apakah ada korban ibu hamil di antara 50 korban keracunan tersebut. “Kami masih cek kembali untuk validasinya,” katanya.

Tempo telah meminta tanggapan dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang, dan juru bicara BGN Hanibal Wijayanta ihwal kasus tersebut. Namun, hingga berita ini ditulis ketiganya belum memberikan respons.

Tim survelains dan dinkes juga telah mengambil sampel dari muntah dan sampel makanan yang sebelumnya disantap oleh para korban. Menurut data yang dihimpun oleh tim surveilans, sebelumnya korban menyantap makanan berupa nasi putih, ayam suwir, mi kecap, sayur sop, tahu kuning, dan semangka.  

Data sampel makanan itu diambil di Bank Sampel Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Majene Tubo Sendana Onang, Majene, oleh petugas kesehatan lingkungan Dinas Kesehatan Majene. Pemeriksaan laboratorium untuk sampel tersebut dilakukan pada 13 Januari 2026.

Dinas kesehatan menyampaikan gejal yang dirasakan oleh korban sebelumnya seperti sakit perut, mual, muntah, diare, sakit kepala, demam, dan turgor jelek. Dugaan sementara sumber keracunan berasal dari MBG yang didistribusikan oleh SPPG Majene Tubo Sendana Onang, Yayasan Kreatif Jaya Perdana yang dibagikan di sekolah dan posyandu.

Dinas kesehatan setempat belum memutuskan apakah dari kasus ini akan segera ditetapkan status kejadian luar biasa atau tidak. Saat ini, mereka masih melakukan investigasi atau penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui penyebaran kasus dan sumber penyebab keracunan sambil menunggu hasil laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Mamuju.

  • Related Posts

    Proyek Krematorium di Jakbar: Diprotes Warga hingga Disetop Sementara

    Jakarta – Proyek pembangunan rumah duka dan krematorium di Utan Jati, Kalideres, Jakarta Barat (Jakbar), diprotes warga. Kini, proyek tersebut disetop sementara. Warga tak pernah diberi tahu akan adanya pembangunan…

    Impor Pikap India Berpotensi Lemahkan Industri Dalam Negeri

    MAJELIS Pertimbangan Pusat Partai Keadilan Sejahtera menyoroti kebijakan impor mobil pikap dari India untuk mendukung proyek Koperasi Desa Merah Putih. Kebijakan ini mesti dikaji ulang dengan pertimbangan matang. Scroll ke…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *