PRESIDEN Prabowo Subianto kembali membanggakan proyek makan bergizi gratis atau MBG. Menurut Prabowo, program prioritasnya itu sudah menjangkau 58 juta penerima manfaat.
Prabowo mengklaim angka itu bisa disamakan dengan memberi makan 9 kali populasi Singapura. Hal tersebut ia sampaikan ketika memberikan sambutan dalam acara peresmian proyek kilang minyak Pertamina, di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kepala negara mulanya menyatakan dirinya bukan orang yang suka menebar janji. “Sehingga mungkin saya dituduh kurang komunikatif. Tapi sekarang saya sudah buktikan,” kata Prabowo, Senin, 12 Januari 2026, dipantau melalui siaran langsung pada YouTube Sekretariat Presiden.
Prabowo mengklaim proyek MBG sebagai salah satu keberhasilannya. “Hari ini kita sudah mencapai 58 juta penerima manfaat. Kalau Singapura itu jumlah penduduknya 6 juta, berarti kita memberi makan 9 Singapura. 9 Singapura kita kasih makan setiap hari,” kata Prabowo.
Prabowo mengatakan capaian ini lebih cepat terealisasi dibanding negara-negara lain yang memiliki program serupa. Brasil, ia mengklaim, membutuhkan waktu 11 tahun untuk menjangkau 41 juta penerima manfaat. Sementara Indonesia disebutnya mampu mencapai lebih dari 50 juta penerima manfaat dalam setahun.
Ketua Umum Partai Gerindra ini pun meyakini mampu mencapai target yang dipatok sejak awal, yakni 82,9 juta penerima manfaat, pada tahun ini. “Negara yang selalu dianggap tidak bisa apa-apa, kita bisa kasih makan 58 juta orang setiap hari, termasuk ibu hamil dan lansia, diantar makan ke rumah. Not bad,” ujar Prabowo.
Prabowo Subianto berkali-kali menyatakan keberhasilan proyek MBG. Teranyar, pada Selasa, 6 Januari 2025, Prabowo mengklaim tingkat keberhasilan pelaksanaan program MBG mencapai 99 persen berdasarkan hasil evaluasi. Ia menyampaikan hal ini saat retret Kabinet Merah Putih di rumah pribadinya, Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
Anggota MBG Watch, Galau D. Muhammad mengatakan, klaim tersebut tidak sejalan dengan berbagai persoalan yang terjadi di lapangan. Mulai dari kasus keracunan massal hingga tata kelola program yang dinilai amburadul dan tidak transparan.
Galau mengatakan hingga kini pemerintah belum pernah mempublikasikan evaluasi komprehensif atas pelaksanaan MBG. Informasi yang disampaikan ke publik, kata dia, baru sebatas klaim kuantitas penerima manfaat dan narasi keberhasilan tanpa indikator objektif yang jelas. “Yang kita terima hanya glorifikasi keberhasilan. Tidak pernah dijelaskan secara transparan indikator apa yang dipakai untuk menyebut program ini efektif,” kata Galau saat dihubungi pada Rabu, 7 Januari 2026.






