PEMANTAU media sosial Drone Emprit mengungkap bahwa pertunjukan komika Pandji Pragiwaksono di stand up comedy bertajuk Mens Rea mendapatkan dukungan publik di berbagai ruang digital. Berdasarkan pemantauan Drone Emprit pada 26 Desember 2025 – 6 Januari 2026, aksi komedi tunggal Pandji yang dirilis di Netflix memicu hampir 20 ribu percakapan lintas media sosial dengan total interaksi lebih dari 117 juta.
“Skala ini menempatkan Mens Rea bukan sekadar sebagai tontonan, tetapi sebagai peristiwa sosial-politik,” kata Direktur Eksekutif Drone Emprit Ismail Fahmi dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Sabtu, 10 Januari 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Fahmi, sentimen positif berupa dukungan ke Pandji mendominasi percakapan di media sosial. Drone Emprit memotret bagaimana publik memuji keberanian Pandji terang-terangan menyebut nama sejumlah pejabat, institusi hukum dan praktik kekuasaan mereka.
Performa Pandji yang membalut peristiwa politik ke dalam candaan dianggap berhasil mewakili keresahan rakyat kecil dalam kehidupan sehari-hari. “Soal pajak, gaji pejabat, aparat bersenjata, hingga relasi rakyat-presiden,” kata Fahmi membeberkan.
Drone Emprit kemudian membedah bagaimana Mens Rea mendapat reaksi di masing-masing sosial media.
Di Facebook, publik memberikan dukungan melalui sentimen positif yang mencapai lebih dari 70 persen. Topik yang dominan di Facebook antara lain, apresiasi terhadap keberanian Pandji, kebanggaan atas capaian Mens Rea sebagai tayangan nomor satu Netflix, persepsi bahwa materi Pandji mewakili suara rakyat biasa hingga komedi dianggap menjadi sarana pendidikan politik formal.
“Facebook menampilkan wajah publik yang lebih afirmatif dan emosional,” ujar Fahmi.
Dia menyebut sentimen negatif yang muncul relatif kecil. Isu body shaming perihal tindakan Pandji yang menyinggung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memang ada, Namun, kata Fahmi, hal itu tidak menjadi pusat percakapan. Dalam hal ini Facebook dianggap lebih berfungsi sebagai ruang validasi kolektif di mana publik saling menguatkan untuk mengakui kritik Pandji wajar dalam demokrasi.
Fahmi menjelaskan, sentimen positif di Instagram juga berada di kisaran 70 persen. Tetapi dengan nuansa berbeda di mana percakapan lebih terpusat pada simbol keberhasilan dan popularitas tayangan Mens Rea. Topik utama di Instagram juga memiliki kesamaan di Facebook. Topik tambahan baru yang muncul di Instagram adalah kesadaran politik, terutama di kalangan penonton muda.
“Isu kontroversi muncul, tetapi cenderung sekilas dan kalah oleh narasi keberhasilan. Instagram memperkuat Mens Rea sebagai fenomena budaya populer, bukan sekadar polemik politik,” kata Fahmi,
X atau Twitter
Percakapan tentang Pandji di media X melahirkan narasi tandingan dan serangan balik. Media sosial ini dianggap menjadi ruang paling politis dan terpolarisasi. Kendati begitu, sentimen positif terhadap Pandji tercatat sebanyak 63 persen.
Beberapa topik utama yang muncul dalam percakapan di X adalah; kritik terhadap aparat, negara dan politik dinasti; isu kebebasan berekspresi dan kekhawatiran kriminalisasi; tuduhan Pandji melakukan penghinaan fisik terhadap Gibran hingga narasi seragam seperti ‘Pandji darurat ide’.
Fahmi menuturkan, X menjadi platform pertama di mana masyarakat mendeteksi adanya mobilisasi akun yang akhirnya menunjukkan bahwa materi Pandji mengganggu kenyamanan penguasa.
“Di sini Mens Rea diposisikan bukan sekadar komedi, melainkan tindakan politik simbolik,” tutur dia.
Youtube
Fahmi mengatakan, Youtube menjadi ruang diskusi yang lebih panjang dan reflektif dengan sentimen positif sekitar 68 persen. Ia menyimpulkan, pengguna Youtube tidak hanya bereaksi, tetapi juga mencoba memahami konteks.
“Youtube berfungsi sebagai ruang rekonstruksi makna, tempat publik mencoba memilah mana satire, mana fakta dan mana provokasi,” kata dia.
Topik yang menonjol di Youtube antara lain; penjelasan ulang materi Mens Rea dan konteks kritik politiknya; diskusi soal klaim intel dan potensi intimidasi aparat, respons tokoh publik seperti Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi hingga perdebatan etika komedi namun dengan argumen lebih panjang.
TikTok
Menurut Fahmi, TikTok menunjukkan sentimen positif paling rendah dibanding platform lain yakni sekitar 57 persen. Sentimen negatif di TikTok relatif lebih tinggi dibanding media sosial lain karena logika platformnya mengutamakan konten singkat dan sensasional.
“Di TikTok, konteks sering tereduksi. Akibatnya, isu body shaming dan kontroversi lebih mudah membesar. Platform ini menjadi ruang eskalasi emosi, bukan pendalaman argumen,” ujar Fahmi.
Topik yang kerap muncul di TikTok adalah; potongan cerita soal intel yang menyusup; roasting terhadap Gibran sebagai hook rasa ingin tahu, klip-klip sindiran terhadap figur publik lain, amplifikasi kritik dari Topi secara masif.
Dari pemantauan lima media sosial tersebut, Fahmi menyimpulkan bahwa terdapat pola konsistensi dukungan lintas platform terhadap pertunjukan Pandji. Namun, masing-masing platform memiliki karakteristik yang berbeda sehingga hasil dari bentuk dan pendalaman diskusi juga bermacam-macam.
“Perbedaan ini penting untuk dibaca, karena ia menjelaskan mengapa suatu karya yang sama bisa sekaligus dianggap berani, melanggar etika, mendidik dan berbahaya. Tergantung di ruang mana ia diperdebatkan,” tutur Fahmi.






