SUSU ultra high temperature (UHT) dan jenis susu evaporasi dikabarkan langka di pasar. Seorang ibu di Tangerang, sebut saja namanya Putri, mengeluhkan sejak tiga hari belakangan sulit mencari susu. “Susah banget cari susu, susu evaporasi juga susah banget, dari pasar satu ke pasar lain, sekian kilo jalan nyari tetap enggak dapat. Kata penjualnya habis,” kata Putri saat dihubungi pada Rabu, 7 Januari 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Putri mencari susu untuk kebutuhan usahanya. Putri membuka usaha minuman es jeli susu di rumahnya. Dia menduga langkanya susu di pasar karena diborong oleh dapur makan bergizi gratis (MBG). “Kayaknya gara-gara MBG nih,” kata dia.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang merespons keluhan warga soal langkanya susu di pasaran. Nanik mengatakan susu memang menjadi produk utama yang dibutuhkan dalam MBG. “Kan memang banyak, kebutuhannya banyak,” kata dia usai Konferensi Pers 1 Tahun Program MBG dan Operasional Perdana Program MBG Tahun 2026 di SMKN 1 Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.
Nanik memastikan ke depan pasokan susu secara nasional tersedia. Dia mengungkapkan saat ini pemerintah tengah penyiapkan penguatan produksi susu. “Kami sedang bangun (pabrik susu), pemerintah sedang bangun 500 peternakan,” kata dia.
Sebelumnya, BGN membuat Program Sapi Merah Putih yang diluncurkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas mendukung ketersediaan susu berkualitas dalam program MBG.
Sekretaris Utama BGN Sarwono dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu, 3 September 2025, menyampaikan bahwa ketersediaan daging dan susu berkualitas merupakan pilar penting untuk menjamin kecukupan gizi masyarakat, khususnya anak-anak penerima manfaat MBG.
“Peluncuran Sapi Merah Putih adalah langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan protein masyarakat. Ketersediaan daging dan susu berkualitas akan menjadi pilar utama Program MBG. Kami ingin memastikan anak-anak mendapatkan gizi cukup untuk mendukung tumbuh kembang sekaligus memperkuat swasembada pangan nasional,” ujar Sarwono.
Menurut dia, peluncuran program tersebut merupakan salah satu langkah strategis pemerintah dalam mewujudkan target swasembada pangan sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025–2029.






