Shanghai (Redaksi) – Perusahaan rintisan “Birufinery” menjadi salah satu finalis dalam kompetisi wirausaha sosial “Unlock Her Future 2026” di China dengan produk biostimulan dari rumput laut sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan pupuk.

“Biostimulan itu istilahnya seperti vitamin sedangkan pupuk itu makanan untuk tanaman. Jadi misalnya kalau anak tidak bisa makan, kita kasih vitamin dulu supaya makanannya meningkat dan makanan dapat dicerna dengan baik, itu kira-kira tujuan biostimulan ini,” kata CEO Birufinery Azalea Ayuningtyas di Suzhou, Provinsi Jiangsu, pada Kamis (22/10).

Birufinery baru didirikan pada 2024 oleh Azalea dan tiga rekannya, salah satunya berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang juga menjadi lokasi sumber produk biostimulan bernama “BiruLift”.

Rumput laut dipilih karena Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua di dunia. Sayangnya sekitar 80 persen produksinya masih dijual dalam bentuk mentah, padahal panen rumput laut menopang mata pencaharian hampir 1 juta penduduk pesisir dan lebih dari 267.000 rumah tangga.

Azalea menyebut selama ini produk serupa berasal dari rumput laut air dingin dari Norwergia atau Kanada yang hanya dipanen setahun sekali yang menyebabkan harganya mahal dan menjadi produk premium.

“Terlebih Indonesia kan tanahnya subur, jadi dulu tidak diperlukan produk biostimulan, tapi karena El Niño, banjir atau bahkan terlalu banyak penggunaan pupuk kimia maka tanah menjadi stres dan mengurangi kesuburan dan membutuhkan biostimulan,” jelas Azalea.

Dengan menggunakan biostimulan itu, Azalea menyebut petani dapat mengurangi 30 persen pupuk kimia sehingga petani juga dapat mengurangi biaya produksi.

Produknya sendiri dibandrol dengan harga retail Rp110.000 per liter dan untuk 1 hektare tanah butuh 5 liter biostimulan, sedangkan bila membeli dalam jumlah besar harganya menjadi Rp90.000 per liter.

“Selain perusahaan besar, kami juga menargetkan petani kecil yang sesungguhnya paling membutuhkan biostimulan ini, tapi mereka harus diedukasi dan tentu biayanya mahal dan tidak mudah padahal makanya kami butuh pendanaan dari ‘Bicester Collection’,” ungkap Azalea.

Selain menyuburkan tanah, Azalea menyebut rumput laut itu juga bagus untuk laut karena menyerap nitrogen dari laut (reduce ocean eutrophication) mengingat saat ini kandungan nitrogen sudah terlalu banyak di laut, salah satunya akibat banyaknya penggunaan pupuk buatan.

Manfaat lain adalah memberdayakan petani rumput laut di NTT, termasuk petani perempuan sehingga mereka tidak perlu bekerja sebagai pekerja migran di luar negeri.

Azalea dengan “Birufinery” menjadi salah satu finalis asal Indonesia dalam ajang kompetisi kewirausahaan sosial dunia “The Unlock Her Future 2026” yang diselenggarakan jaringan pusat perbelanjaan barang mewah global “The Bicester Collection”.

The Bicester Collection adalah perusahaan asal Inggris yang bergerak di bidang ritel mewah dan pariwisata belanja yang saat ini mengelola 12 destinasi wisata belanja mewah terbuka (shopping villages) di London, Dublin, Paris, Brussels, Munich, Frankfurt, Milan, Madrid, Barcelona, Shanghai, Suzhou dan New York.

Pada 2026, ada 12 finalis yang berasal dari negara-negara di kawasan Asia Timur dan Tenggara, termasuk dari Indonesia yang berkompetisi untuk mendapat dukungan pendanaan hingga 100.000 dolar AS, disertai pendampingan (mentoring) profesional, pelatihan kepemimpinan, akses pendidikan, jaringan bisnis internasional maupun eksposur media.

Dari Indonesia, ada Azalea Ayuningtyas melalui “Birufinery” yang mengolah rumput laut menjadi biostimulan untuk pertanian; Celia Siura melalui “Bumbi” yang memproduksi popok dan pembalut kain; serta Jihan Alfiyyah Munajat melalui “HerLens” yang memanfaatkan AI untuk membantu bidan melakukan pemeriksaan awal kanker serviks bagi perempuan di pedesaan.

Dalam puncak acara pada Jumat (23/10), Azalea Ayuningtyas dan Jihan Alfiyyah Munajat diumumkan sebagai dua dari empat pemenang kompetisi tersebut. Dua orang pemenang lain adalah perwakilan dari China, Kyle Li melalui “38 Fixers” yang melatih perempuan menjadi teknisi perbaikan rumah dan Nhung Tran Huyen dari Vietnam melalui “Tham Nhung Social Enterprise” yang menyediakan dukungan kesehatan mental dan bantuan hukum bagi pekerja migran perempuan di lingkungan pabrik.

Selain itu, juri juga memberikan “Hanourable mention” kepada dua finalis lain yaitu Jieun Lee dari Korea Selatan melalui “Giboo” yang membuat AI untuk menghubungkan penyandang dana filantropi dan program sosial yang butuh pendanaan serta finalis Thailand Prangthong Tiengkate karena mengembangkan “Bamboo Family Market” yaitu pasar kerajinan komunitas yang telah memberdayakan lebih dari 60 perempuan pengrajin.

Pada acara puncak itu hadir juga aktris, produser film, dan aktivis lingkungan asal China Li Bingbing yang memberikan pesan kepada ke-12 finalis agar dapat menghadapi berbagai kesulitan di masa depan.

“Berdasarkan pemahaman saya saat ini, hal yang paling saya syukuri dalam perjalanan hidup saya adalah berbagai kesulitan, kegagalan, dan penderitaan yang pernah menghantam saya dengan begitu keras. Hanya melalui pengalaman-pengalaman itulah seseorang dapat menjadi lebih kuat dan matang,” kata Li Bingbing.

Penyelenggara kompetisi adalah The Bicester Collection yang mengelola 12 destinasi wisata belanja mewah terbuka (shopping villages) di London, Dublin, Paris, Brussels, Munich, Frankfurt, Milan, Madrid, Barcelona, Shanghai, Suzhou dan New York yang dikunjungi lebih dari 50 juta orang setiap tahun.

Baca juga: Dua wirausaha perempuan RI juarai kompetisi kewirausahaan sosial dunia

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Bayu Prasetyo
Copyright © Redaksi 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Redaksi.