Jakarta (Redaksi) – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Hanan A Rozak menilai kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah Rp6.500 per kilogram memperkuat kepastian pasar dan memberikan perlindungan ekonomi bagi petani padi nasional.
“Manakala harga gabah petani di atas HPP, ya sebenarnya nggak, nggak, nggak perlu ada intervensi pemerintah. Itu (HPP) membantu petani,” katanya dalam Forum Diskusi Pertanian bertajuk “Dua Tahun Transformasi Pertanian Era Presiden Prabowo” di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, kebijakan HPP gabah menjadi instrumen penting pemerintah menjaga keberlanjutan usaha petani agar tetap produktif mendukung pencapaian swasembada pangan nasional secara berkelanjutan.
Ia menilai HPP berfungsi memberikan perlindungan kepada petani ketika harga gabah berada di bawah batas yang telah ditetapkan pemerintah melalui kebijakan pembelian.
Menurutnya, apabila harga gabah sudah berada di atas HPP, pemerintah tidak perlu melakukan intervensi karena kondisi tersebut telah memberikan keuntungan bagi petani itu sendiri.
Baca juga: Komisi XI: HPP gabah kering perlu dievaluasi agar petani tetap untung
Namun, ketika harga gabah meningkat terlalu tinggi, pemerintah tetap perlu menjaga keseimbangan agar harga beras tidak membebani konsumen melalui berbagai kebijakan stabilisasi.
Ia mengatakan kebijakan harga eceran tertinggi (HET) berfungsi melindungi konsumen, sedangkan HPP menjadi instrumen pemerintah menjaga kesejahteraan petani melalui kepastian harga hasil panen.
Ia menilai kombinasi kebijakan HPP, HET, dan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menciptakan keseimbangan Redaksi kepentingan petani dan masyarakat.
Hanan mengatakan kebijakan HPP juga mendukung peran Bulog dalam menyerap gabah petani sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan.
Menurut dia, kondisi petani saat ini semakin baik karena dukungan pemerintah terhadap harga hasil panen, sarana produksi, serta infrastruktur pertanian semakin diperkuat.
Ia mengatakan petani kini semakin mandiri karena memiliki pengetahuan dan kemampuan mengelola usaha tani yang berkembang seiring peningkatan dukungan kebijakan pemerintah.
Ia menilai petani tidak lagi sepenuhnya membutuhkan dorongan seperti masa lalu karena adanya kepastian harga membuat mereka lebih bersemangat mengembangkan produksi pertanian.
Menurutnya, ketika harga jual hasil pertanian meningkat dan sarana produksi tersedia, petani akan terdorong secara mandiri untuk terus menanam dan meningkatkan produktivitas.
Ia menyebut kepastian harga menjadi faktor penting yang membuat petani lebih optimistis dalam menjalankan usaha tani tanpa harus selalu menunggu arahan pemerintah.
“Petani sekarang sumringah. Petani sudah beda dengan petani zaman dulu. Waktu dulu petani itu perlu didampingi, diajari,” katanya.
Hanan mengatakan fenomena di lapangan menunjukkan petani mulai bergerak aktif ketika mendapatkan informasi terkait ketersediaan air, musim tanam, serta dukungan sarana pertanian.
Ia menjelaskan petani kini lebih siap melakukan berbagai kegiatan produksi seperti membajak sawah, membeli benih, dan menyediakan pupuk untuk mendukung kegiatan budidaya.
Menurutnya, ketersediaan alat panen dan berbagai sarana pendukung pertanian turut memperkuat kemampuan petani meningkatkan produksi serta menjaga keberlanjutan usaha pertanian nasional.
“Sekarang sumringah petani. Nggak usah disuruh, begitu dia lihat, dapat informasi air akan masuk (ke ladang), tanpa disuruh dia langsung bergerak, bergerak membajak sawahnya, kemudian beli benih, beli pupuk,” katanya.
Ia menegaskan penguatan cadangan pangan menunjukkan pemerintah tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan tata kelola hasil pertanian secara menyeluruh.
Ia berharap, peningkatan produksi, kepastian harga, penyerapan hasil panen, dan penguatan cadangan pangan terus dijaga demi mewujudkan swasembada pangan nasional yang berkelanjutan.
Perum Bulog telah menyerap 4,11 juta ton beras petani hingga awal Oktober 2026 dan telah melampaui target yang ditetapkan pemerintah sebesar 4 juta ton.
“Bulog diperintahkan menyerap gabah setara beras 4 juta ton pada 2026,” kata Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani di Jakarta, Jumat (9/10).
Data hingga 8 Oktober 2026, Bulog telah telah merealisasikan penyerapan beras milik petani sebanyak 4,11 juta ton atau setara 102 persen dari target.
Baca juga: Wamenko: Harga gabah tembus Rp8.000 per kg, HET-HPP masih dikaji
Baca juga: Bapanas: Rata-rata harga gabah petani capai Rp7.000/kg, lampaui HPP
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © Redaksi 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Redaksi.