Industri suplemen diimbau lebih transparan demi lindungi konsumen
- Senin, 7 Juli 2025 16:24 WIB
- waktu baca 3 menit

Jakarta (ANTARA) – Industri suplemen didorong untuk lebih transparan demi melindungi konsumen, dekimian Director Research Development and Scientific Affairs Asia Pacific dari Herbalife Alex Teo.
Transparansi dianggap sebagai langkah krusial untuk melindungi konsumen dari risiko bahan tersembunyi dan klaim kesehatan yang menyesatkan.
“Transparansi bukan hanya nilai tambah, tapi sudah menjadi keharusan. Konsumen berhak tahu apa yang mereka konsumsi, dari mana bahan-bahannya berasal, dan bagaimana produk itu diproses,” ujar Alex dalam keterangannya pada Senin.
Baca juga: Studi sebut probiotik dapat bantu kurangi emosi negatif
Meningkatnya konsumsi suplemen makanan di Asia Pasifik di tengah gaya hidup modern menuntut industri untuk lebih transparan dalam menyampaikan informasi produk.
Permintaan terhadap suplemen meningkat seiring kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan sulitnya memenuhi kebutuhan gizi harian hanya melalui makanan. Namun di tengah pertumbuhan pasar yang pesat ini, muncul kekhawatiran terkait keamanan produk yang tidak selalu didukung informasi yang memadai.
Lebih lanjut Alex menyebut, praktik seperti pelabelan jelas, pengungkapan asal bahan baku, serta pengujian oleh pihak ketiga merupakan bentuk komitmen produsen terhadap keselamatan konsumen.
“Di pasar yang semakin kompetitif, merek yang transparan akan lebih dipercaya. Kepercayaan itu tidak bisa dibangun lewat klaim, tapi lewat bukti,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya validasi ilmiah terhadap formulasi suplemen.
“Formulasi yang kami kembangkan bukan sekadar mengikuti tren pasar, melainkan berdasarkan kajian ilmiah dan pengujian menyeluruh. Tanpa dasar ilmiah, produk suplemen hanya menjadi janji kosong,” tegasnya.
Kekhawatiran terhadap keamanan suplemen tak lepas dari sejumlah kasus yang menunjukkan adanya bahan farmasi tersembunyi, aditif berbahaya, atau kontaminan yang tidak diinformasikan pada label.
Hal ini diperparah dengan lemahnya pengawasan regulasi di beberapa negara Asia Pasifik yang memperlakukan suplemen lebih seperti makanan ketimbang produk kesehatan.
Alex Teo menambahkan bahwa industri perlu lebih bertanggung jawab dalam komunikasi publik.
“Pemasaran lewat media sosial, misalnya, seringkali terlalu fokus pada hasil instan dan klaim bombastis. Padahal, manfaat suplemen tidak pernah bisa dijanjikan secara mutlak tanpa mempertimbangkan kondisi individu.”
Ia pun mendorong konsumen untuk menjadi lebih aktif dalam memeriksa label, mencari informasi bahan, dan memastikan produk telah melewati proses yang sesuai dengan standar keamanan.
“Transparansi bukan hanya soal regulasi, tapi juga etika. Ini menyangkut kepercayaan publik terhadap industri kesehatan secara keseluruhan,” katanya.
Selama belum ada standar regulasi terpadu yang diterapkan merata di kawasan seperti melalui Harmonisasi Suplemen ASEAN, transparansi tetap menjadi tameng utama konsumen dalam memilih produk yang aman dan berkualitas.
Baca juga: Label alami tak selalu aman, masyarakat harus kritis konsumsi suplemen
Baca juga: Pemberian probiotik perlu memperhatikan kondisi kesehatan anak
Baca juga: Khawatir suplemen bahayakan organ hati? Dokter bagikan kiat ini
Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Komentar
Berita Terkait
Studi sebut probiotik dapat bantu kurangi emosi negatif
- 20 April 2025
Rekomendasi lain
Berapa harga tiket bus Rosalia Indah?
- 21 Agustus 2024
7 Cara praktis download video Instagram tanpa aplikasi
- 2 Oktober 2024
Lirik lagu “Bento” oleh Iwan Fals dan penjelasannya
- 30 Agustus 2024
Simak lirik lagu “Maju Tak Gentar”
- 31 Juli 2024
10 daerah penghasil beras terbanyak di Indonesia
- 20 September 2024
Daftar rute dan cara naik bus wisata Jakarta Explorer
- 21 Agustus 2024