Lapisan es di pegunungan Swiss menyusut dalam jumlah besar dan nyaris mendekati rekor – ‘Ini benar-benar bencana’

Sumber gambar, L.Hösli
-
- Penulis, Mark Poynting
- Peranan, Reporter isu iklim
-
Telah diterbitkan
-
Waktu membaca: 5 menit
Gletser atau lapisan es pada barisan pegunungan di Swiss tengah menyusut dalam kecepatan yang mendekati rekor pada 2026. Penyababnya, gelombang panas ekstrem yang terjadi selama musim panas menghantam puncak-puncak Pegunungan Alpen.
Lebih dari 5% es gletser yang masih tersisa di negara itu lenyap dalam 12 bulan terakhir. Kecepatan penyusutan gletser ini disebut para ilmuwan dengan istilah “luar biasa”.
Mereka memperingatkan bahwa pencairan secepat ini bukan lagi sesuatu yang mengejutkan, mengingat laju perubahan iklim saat ini.
Namun dalam beberapa dekade mendatang, kondisi tersebut dapat mengancam pasokan air untuk pertanian, pembangkit listrik tenaga air, dan transportasi.
Hilangnya es gletser juga dapat membuat lereng-lereng pegunungan menjadi tidak stabil serta meningkatkan risiko tanah longsor di sejumlah wilayah.
Dalam kasus yang ekstrem, kondisi itu dapat memicu banjir bandang, seperti yang terjadi di Nepal pada Agustus lalu.
Ada banyak faktor yang berperan dalam peristiwa tersebut, yang dipicu oleh runtuhnya area luas batuan dasar dan es gletser.
Lewatkan Paling banyak dibaca dan terus membaca
Paling banyak dibaca
Akhir dari Paling banyak dibaca
Temuan penting dalam laporan terbaru ini bukanlah fakta bahwa gletser-gletser Swiss terus menyusut, sesuatu yang memang diperkirakan terjadi di tengah iklim yang semakin hangat akibat emisi bahan bakar fosil.
Yang menjadi sorotan adalah betapa cepatnya proses pencairan tersebut berlangsung.
Hingga beberapa tahun lalu, para ahli gletser di Pegunungan Alpen menganggap kehilangan 2% massa es dalam satu tahun sebagai kondisi yang “ekstrem”.
Namun tahun ini, sekitar 5,5% es gletser diperkirakan telah lenyap.
“Ini benar-benar bencana,” kata Matthias Huss, Direktur Glacier Monitoring Switzerland, lembaga yang menyusun laporan tersebut.
Gletser-gletser di Swiss memasuki musim panas dalam kondisi yang sudah rentan. Lapisan salju berada dalam kondisi lebih tipis dari biasanya, setelah musim dingin yang relatif hangat.
Es yang terbuka berwarna lebih gelap dan memantulkan cahaya lebih sedikit dibandingkan salju segar, sehingga menyerap lebih banyak energi dari Matahari.
Kondisi itu membuat gletser semakin rentan mencair lebih cepat ketika gelombang panas berikutnya melanda.
“Sepuluh tahun lalu, saya tidak akan membayangkan bahwa gletser bisa hilang secepat ini,” kata Fabien Maussion, ahli glasiologi dari Universitas Bristol, yang tidak terlibat dalam laporan Swiss tersebut.
“Apa yang terjadi selama musim panas ini sangat menyedihkan… tetapi pada saat yang sama hal itu memang sudah dapat diperkirakan dari sudut pandang ilmuwan iklim,” tambahnya.

Air lelehan dari gletser merupakan sumber penting bagi irigasi, pembangkit listrik tenaga air, bahkan lalu lintas pelayaran saat cuaca panas dan kering.
Para ilmuwan memperkirakan gletser-gletser di Swiss melepaskan 2,2 triliun liter air lelehan Redaksi Juli hingga September.
Meski membantu meredakan kekurangan air pada musim panas tahun ini, kondisi tersebut sekaligus mengurangi cadangan air beku yang tersimpan di gletser dengan cepat.
Hilangnya es dapat menimbulkan tantangan jangka panjang, kata Huss, karena gletser yang semakin kecil tidak lagi mampu mempertahankan pasokan air dalam jumlah yang sama.
“Setiap tetes air yang mengalir selama gelombang panas ini pada dasarnya adalah air lama yang tersimpan di dalam es gletser selama puluhan hingga ratusan tahun,” ujar Huss.
“Itu membantu kita saat ini, tetapi tidak berkelanjutan. Kita tidak akan lagi memiliki cadangan tersebut ketika gelombang panas berikutnya terjadi.”
Salah satu temuan yang paling mengkhawatirkan adalah apa yang diamati para peneliti di lokasi pengukuran pada ketinggian tertinggi, tempat suhu biasanya paling rendah dan gletser umumnya masih tertutup salju.
Bahkan pada ketinggian 3.500 meter di atas permukaan laut, para ilmuwan tidak menemukan salju yang tersisa pada akhir musim panas.
“Di beberapa gletser, kami melihat kehilangan es hingga empat meter di titik tertinggi, padahal pada periode seperti ini seharusnya wilayah tersebut masih tertutup beberapa meter salju yang turun selama musim dingin,” kata Huss dari Glacier Monitoring Switzerland.
Baca juga:
Salju adalah “makanan” bagi gletser. Dalam kondisi yang stabil, sebagian salju tersebut pada akhirnya akan memadat dan berubah menjadi es.
Namun, jika tidak ada salju yang bertahan hingga akhir musim panas, maka salju itu tidak dapat menggantikan es yang hilang akibat pencairan di wilayah yang lebih rendah dan lebih hangat.
Gletser akan kehilangan sumber pasokannya, menyusut, dan pada akhirnya menghilang.
“Gletser merupakan sistem yang kompleks karena massa es bertambah di bagian atas lalu mengalir ke bawah, sehingga banyak proses fisika yang terlibat,” ujar Maussion.
“Tetapi dalam bentuk yang paling sederhana, apa yang kita lihat saat ini adalah kita mengeluarkan sebongkah es batu dari lemari pendingin, lalu menyaksikannya mencair tepat di depan mata.”
Para ilmuwan mengatakan iklim saat ini sudah terlalu hangat bagi banyak gletser di Pegunungan Alpen untuk bisa bertahan hidup.
Sebagian di Redaksinya, seperti Gletser Plattalva di wilayah timur Swiss, bahkan telah lenyap sepenuhnya.
Tetapi para peneliti menegaskan bahwa pengurangan emisi karbon secara drastis masih dapat menyelamatkan sebagian besar es gletser di dunia.
Hal ini terutama berlaku untuk kawasan Himalaya dan wilayah kutub, tempat sebagian besar cadangan es Bumi berada.
“Di sana kita masih bisa membuat perbedaan besar melalui upaya melindungi iklim,” kata Huss.
“Jika massa es tersebut dapat diselamatkan atau distabilkan, kita bisa membatasi kenaikan permukaan laut global, yang dapat memengaruhi miliaran orang yang tinggal di wilayah pesisir.”
Menurut para ilmuwan, meski sejumlah gletser telah mengalami penyusutan yang sulit dibalikkan, langkah-langkah untuk menekan pemanasan global masih dapat mengurangi dampak terburuk perubahan iklim dan membantu mempertahankan cadangan es penting bagi generasi mendatang.
Laporan tambahan oleh Dominic Bailey.




