
Sumber gambar, Getty
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 7 menit
Dalam tarik-menarik Redaksi privasi dan keamanan, penting untuk mengetahui sejauh mana infrastruktur pengawasan yang ada di sekitar Anda.
Saya tidak memberi tahu siapa pun bahwa saya akan bertemu dengan Michelle Dahl, direktur eksekutif Surveillance Technology Oversight Project, sebuah kelompok pengawas teknologi pengawasan.
Tetapi, saat saya menyapanya di Brooklyn, New York, sistem sudah mengetahui bahwa kami sedang bersama.
“Semua ini nyaris tak terlihat jika Anda tidak mencarinya,” kata Dahl sambil menunjuk ke sebuah tiang lampu.
Di sana, dua kamera kecil bertuliskan New York City Police Department (NYPD) tersembunyi di balik kubah plastik hitam.
Kamera-kamera itu merupakan bagian dari platform pengawasan berbasis kecerdasan buatan (AI) milik NYPD yang sangat besar, yakni Domain Awareness System (DAS).
“Setiap petugas polisi di kota ini bisa mengaksesnya melalui ponsel mereka dan menampilkan profil hampir siapa saja yang sedang berjalan di sekitar,” ujarnya.
Platform tersebut menghubungkan lebih dari 80.000 kamera dengan drone, data media sosial, hingga sistem pelacakan kendaraan yang dapat mengikuti pergerakan mobil ketika Anda berkendara ke negara bagian lain.
Lewatkan Paling banyak dibaca dan terus membaca
Paling banyak dibaca
Akhir dari Paling banyak dibaca
Menurut Dahl, sistem itu dapat mengungkap siapa saja yang saya temui dan ke mana saja saya pergi dalam sepekan terakhir.
Seluruh hidup saya: terlacak.

Sumber gambar, Getty
Setiap hari, di seluruh Amerika Serikat, kehidupan Anda juga direkam oleh sistem pengawasan massal yang terus berkembang dan menjangkau jauh lebih dalam daripada yang disadari banyak orang.
Kontroversi terkait perusahaan teknologi pengawasan asal AS, Flock Safety, mencuat dalam beberapa bulan terakhir. Namun, perusahaan itu hanyalah salah satu pemain dalam industri yang sangat besar.
Flock dan para pendukung teknologi pengawasan lainnya berpendapat bahwa masyarakat perlu menemukan titik kompromi Redaksi privasi dan keamanan.
Namun, apakah pengorbanan tersebut sepadan?
Untuk menjawabnya, penting untuk memahami seberapa luas sebenarnya jaringan pengawasan yang ada saat ini. Karena itu, saya mencoba mencari kamera-kamera pengawas di lingkungan tempat tinggal saya sendiri.
Anda pun bisa melakukannya, bahkan tanpa harus beranjak dari sofa di rumah.
‘Semakin Anda memperhatikannya, semakin banyak kamera yang akan terlihat’
Sebagian orang yang mengkhawatirkan pengawasan mungkin melihat Flock sebagai sumber utama masalah.
Namun, New York memperlihatkan bahwa persoalannya jauh lebih luas.
Meski perusahaan itu tidak beroperasi di sini, aktivitas kami tetap berada dalam pantauan.

Sumber gambar, Niharika KULKARNI / AFP via Getty Images
Dahl mengajak saya melakukan tur pengawasan menuju kantor Redaksi di Manhattan, sambil menunjukkan kamera dan berbagai perangkat pemantauan lain di sepanjang perjalanan.
Selama 10 tahun meliput isu privasi, saya mengira sudah cukup akrab dengan praktik pengawasan.
Namun, saya tetap terkejut melihat begitu luasnya infrastruktur yang merekam setiap pergerakan kami.
Baru beberapa langkah berjalan, kami berhenti dan melihat sekeliling. Saya menghitung ada 16 kamera berbeda.
“Saya menduga kamera-kamera ini dimiliki oleh pebisnis, pemilik gedung, dan penyewa properti,” katanya.
Menurut Dahl, jumlah tersebut belum termasuk kamera yang dioperasikan pemerintah kota.
“Tetapi Departemen Kepolisian New York (NYPD) kemungkinan dapat mengaksesnya dengan mudah. Jika ada penyelidikan, mereka sering kali hanya meminta rekamannya kepada pemilik, dan orang-orang biasanya menyerahkannya.”
Beberapa penyedia kamera, seperti Ring milik Amazon, bahkan memiliki sistem otomatis yang memudahkan polisi untuk meminta dan menerima rekaman langsung dari pengguna.
Kamera di ruang publik kini begitu lazim sehingga saya hampir tidak lagi menyadarinya.
Tapi, dengan bantuan Dahl, perhatian saya kembali tertuju pada keberadaannya: kamera-kamera kecil berbentuk kapsul yang tergantung di depan toko, perangkat abu-abu tua yang terpasang di sudut bangunan, hingga sistem kamera canggih berkamera ganda milik pemerintah kota yang dapat berputar, memiringkan lensa, dan memperbesar gambar untuk menyorot orang-orang yang menjadi perhatian.

Sumber gambar, Getty
Saya mencoba menghitung jumlahnya saat kami berjalan, tetapi jumlah kamera yang terlihat begitu banyak sehingga mustahil untuk terus menghitung sambil tetap berbincang.
“Semakin Anda mulai memperhatikannya, semakin banyak yang akan Anda lihat,” kata Dahl.
Baca juga:
Mengapa kehadiran Flock dipersoalkan?
Sistem-sistem ini dapat merekam dan menyimpan setiap pergerakan Anda, dan Flock telah menjadi simbol utama pengawasan massal.
Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan tersebut menghadapi gelombang penolakan bipartisan di berbagai wilayah Amerika Serikat.
Salah satu penyebabnya adalah besarnya jangkauan dan kekuatan Flock.
Perusahaan itu menyatakan mengoperasikan lebih dari 100.000 kamera yang tersebar di 6.000 komunitas di seluruh AS.
Flock paling dikenal karena teknologi pelacakan kendaraan yang, menurut perusahaan, memindai mobil hingga 20 miliar kali setiap bulan.
Tapi, perusahaan itu juga mengembangkan perangkat pengenalan wajah yang dapat digunakan untuk melacak seseorang.
Teknologi semacam ini memungkinkan aparat penegak hukum melakukan penelusuran jauh melampaui wilayah yurisdiksinya.
Seorang sheriff di Texas dilaporkan mengakses lebih dari 83.000 kamera Flock di seluruh AS untuk memburu seorang perempuan yang terkait dengan kasus aborsi, termasuk di negara bagian yang melegalkan aborsi.

Sumber gambar, Joan Cros/NurPhoto via Getty Images
Flock menyatakan teknologi yang mereka kembangkan membantu menjaga keselamatan masyarakat dan setiap hari berkontribusi mengungkap kasus-kasus kriminal yang mungkin tidak akan terpecahkan.
Akan tetapi, sedikitnya dalam 46 kasus, aparat penegak hukum dilaporkan menggunakan sistem Flock untuk tujuan yang tidak sah, termasuk menguntit pasangan, mantan pasangan, maupun orang yang tidak mereka kenal.
Setelah berbulan-bulan diterpa pemberitaan negatif, Flock menerapkan sejumlah mekanisme pengamanan untuk mendeteksi dan mencegah penyalahgunaan.
Juru bicara Flock mengatakan tindakan semacam itu merupakan “pengkhianatan terhadap tujuan penggunaan teknologi ini dan sama sekali tidak dapat diterima”.
Ia menambahkan, petugas yang menyalahgunakan sistem harus dimintai pertanggungjawaban.
Penolakan terhadap Flock juga diwujudkan dalam berbagai aksi vandalisme terhadap kamera-kamera perusahaan tersebut.
Ada warga yang merusaknya, bahkan ada yang sengaja mengencinginya. Tahun ini saja, lebih dari 50 kota telah memutus hubungan kerja sama dengan Flock.
Namun sekali lagi, Flock tidak beroperasi di semua wilayah dan bukan satu-satunya perusahaan yang bergerak di bidang ini.
Sejumlah kota yang menghentikan kontrak dengan Flock justru diam-diam beralih menggunakan layanan perusahaan pengawasan lainnya.
“Jumlah komunitas yang memilih Flock terus jauh melampaui jumlah yang meninggalkannya,” kata seorang juru bicara perusahaan.
“Kami mendapatkan pelanggan baru dengan laju sekitar 10 kali lebih tinggi dibandingkan tingkat kehilangan pelanggan.”
Lebih aman atau kian diawasi?
Di balik pesatnya perkembangan infrastruktur pengawasan, terdapat perdebatan yang lebih luas mengenai bagaimana penegakan hukum seharusnya dilakukan.
“Setiap hari, Flock membantu mengungkap kejahatan yang jika tidak, mungkin tidak akan terpecahkan, mulai dari menemukan anak-anak yang hilang hingga menyelesaikan kasus pembunuhan, kejahatan kekerasan, dan menemukan kembali kendaraan curian,” kata juru bicara perusahaan tersebut.

Sumber gambar, Justin Sullivan/Getty Images
Mereka juga menegaskan bahwa Flock “secara aktif mendorong adanya regulasi yang lebih jelas di tingkat negara bagian maupun lokal”, sehingga perusahaan itu tidak menjadi satu-satunya pihak yang menentukan bagaimana aparat penegak hukum menggunakan teknologi tersebut.
Kepolisian New York (NYPD) menyampaikan argumen serupa. Seorang juru bicara mengatakan sistem pengawasan yang mereka gunakan berperan dalam menjaga keamanan kota, dan kepolisian juga menerbitkan laporan transparansi mengenai berbagai perangkat yang digunakan.
“Kami berkomitmen menggunakan teknologi secara hati-hati dan tepat sasaran, serta memastikan penggunaannya sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata juru bicara tersebut.
Namun, para ahli mempertanyakan validitas data serta metode yang digunakan Flock dan perusahaan serupa untuk mendukung klaim bahwa teknologi mereka efektif membantu mengungkap tindak kejahatan.

Cara mengawasi kamera yang mengawasi Anda
Terdapat sejumlah alat yang dapat membantu Anda mengetahui keberadaan kamera-kamera pengawas di lingkungan sekitar tempat tinggal Anda.
Salah satunya adalah Atlas of Surveillance yang dikembangkan Electronic Frontier Foundation (EFF).
Platform ini memungkinkan pengguna melakukan pencarian berdasarkan kota, negara bagian, lembaga penegak hukum, atau perusahaan penyedia teknologi pengawasan.
Meski datanya belum sepenuhnya lengkap, situs tersebut menyediakan peta interaktif yang disusun berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh mahasiswa dan peneliti.
Pilihan lainnya adalah DeFlock. Konsepnya serupa, yakni peta berbasis kontribusi publik yang menampilkan lokasi puluhan ribu kamera milik Flock maupun perusahaan lain.
Siapa pun dapat menyunting data di DeFlock sehingga tingkat keandalannya bisa berbeda-beda.
Namun, peta tersebut menunjukkan terdapat empat kamera pengawasan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang berada dalam jarak berjalan kaki dari rumah saya.

“Anggapan bahwa pengawasan membuat kita lebih aman terus digunakan sebagai pembenaran,” kata Rindala Alajaji, direktur asosiasi urusan negara bagian di Electronic Frontier Foundation (EFF), sebuah kelompok advokasi hak-hak digital.
Menurutnya, justru teknologi semacam ini dapat membuat dunia menjadi lebih berbahaya.
“Teknologi pengawasan telah digunakan untuk mengkriminalisasi orang-orang yang sebenarnya tidak terlibat. Ada kasus-kasus ketika orang tak bersalah dihentikan polisi dan ditodong senjata karena sistem pembaca pelat nomor keliru membaca satu huruf,” ujar Alajaji.
Persoalan ini juga tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Di Inggris, penggunaan sistem pengenalan wajah terus meluas.
Kepolisian menyebut teknologi tersebut telah membantu ribuan penangkapan, tetapi para pengkritiknya menggambarkannya sebagai perluasan negara pengawasan yang mengkhawatirkan dan signifikan.
Di berbagai belahan dunia, jumlah kamera pengawas terus bertambah.

Sumber gambar, Getty
Dahl dan saya berjalan hampir 1,5 kilometer sebelum naik kereta bawah tanah.
Kamera-kamera mengawasi kami saat kami menempelkan kartu pada gerbang di setiap titik perjalanan, dan terus merekam ketika kami keluar dari stasiun.
Ketika kembali menginjak trotoar di kawasan Midtown Manhattan, kami disambut oleh, ya, Anda mungkin sudah bisa menebaknya: lebih banyak kamera lagi.
“Dorongan saya kepada masyarakat sederhana: luangkan waktu sejenak untuk memperhatikan di mana Anda diawasi dan dilacak, serta pelajari ke mana data tersebut pergi,” kata Dahl.
“Semakin banyak orang yang menyadarinya, semakin besar pula peluang untuk ikut mendorong perubahan melalui jalur legislasi.”
Sebagai contoh, sejumlah komunitas memutuskan untuk membatalkan kontrak dengan Flock setelah warga memberikan tekanan kepada para pemimpin daerah dalam rapat dewan kota, termasuk dengan cara-cara yang menarik perhatian, seperti mengenakan kostum Darth Vader.
Saya dan Dahl sudah menghabiskan lebih dari satu jam bersama, dan hampir tidak ada satu momen pun berlalu tanpa kami berada dalam jangkauan pengawasan.
Saya berpamitan dan berjalan menuju kantor Redaksi.
Saya memasuki gedung dan menekan tombol lift. Pintu terbuka dengan bunyi denting lembut. Tepat di hadapan saya, sebuah kamera hitam mengilap menatap lurus ke arah saya.
Seperti di hampir setiap tempat yang saya lewati hari itu, rasanya selalu ada seseorang yang mengawasi.




