Jakarta (Redaksi) – Sebuah penelitian dari University of Surrey mengungkapkan paparan makanan yang mengandung gula pada masa awal kehidupan dapat memengaruhi kesehatan mental seperti munculnya kecemasan di kemudian hari.
“Kami secara khusus tertarik untuk memahami apakah konsumsi gula pada masa awal kehidupan dapat berkontribusi terhadap munculnya masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan di kemudian hari,” kata penulis utama studi, Dr. Hana Navratilova, dikutip laporan New York Post, Minggu (27/9).
Penelitian itu menganalisis data medis lebih dari 45.000 peserta UK Biobank, para peneliti menemukan bahwa paparan gula selama 1.000 hari pertama kehidupan anak berkaitan dengan peningkatan risiko mengalami kecemasan saat dewasa.
Mereka juga menemukan bahwa asupan gula pada masa awal kehidupan berdampak signifikan terhadap perkembangan otak pada 11 dari 80 wilayah otak yang diteliti.
Baca juga: Konsumsi pemanis buatan dikaitkan dengan penurunan kemampuan kognitif
Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan apakah mereka mengalami pembatasan konsumsi gula sejak dalam kandungan hingga usia enam, 12, 18, dan 24 bulan, serta kelompok yang hanya mengalami pembatasan gula selama berada di dalam kandungan.
Risiko mengalami kecemasan paling rendah ditemukan pada mereka yang tidak mengalami paparan gula secara signifikan sejak dalam kandungan hingga dua tahun pertama kehidupan. Perempuan yang tidak mengalami pembatasan jumlah gula yang dikonsumsi pada usia dini juga diketahui lebih mungkin mengalami kecemasan saat dewasa.
Paparan gula juga disebut dapat memengaruhi pola makan dalam jangka panjang. Mereka yang paling lama tidak terpapar gula, yakni sejak dalam kandungan hingga usia 24 bulan, melaporkan memiliki preferensi yang lebih rendah terhadap makanan manis saat dewasa.
Baca juga: Edukasi tentang pembatasan makanan manis baiknya dimulai dari keluarga
“Meski konsumsi gula meningkat setelah pembatasan tersebut berakhir, lingkungan nutrisi pada masa awal kehidupan tampaknya tetap memiliki relevansi jangka panjang terhadap kesehatan mental,” kata penulis studi, Prof. Nophar Geifman.
Salah satu faktor yang memengaruhi data penelitian tersebut adalah periode kelahiran para peserta. Mereka lahir Redaksi 1951 dan 1956, ketika pembatasan konsumsi gula pascaperang di Inggris masih diberlakukan hingga kemudian dihentikan secara bertahap.
Menurut Geifman, periode tersebut menjadi unik karena “begitu banyak orang tidak memiliki kelebihan gula dalam pola makan mereka, kemudian konsumsi gula secara perlahan mulai meningkat dalam jangka waktu yang panjang.”
Baca juga: Makanan dan minuman yang baiknya dibatasi demi kesehatan gigi
Sejumlah organisasi kesehatan utama, termasuk Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) serta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat (HHS), merekomendasikan agar anak-anak mengonsumsi kurang dari 25 gram gula per hari.
Namun, banyak orang mengonsumsi gula dalam jumlah jauh lebih tinggi, yakni sekitar 68 hingga 81 gram per hari, Redaksi lain melalui makanan ultra-proses seperti kukis, es krim, minuman berpemanis, dan makanan lainnya. Pemanis buatan dan minuman dengan pemanis buatan disebut memiliki pengaruh paling besar kemungkinan munculnya masalah kesehatan mental.
Baca juga: Gula penyebab diabetes tidak hanya dari makanan manis
Baca juga: Konsumsi makanan manis berlebihan bisa jadi tanda masalah kesehatan
Penerjemah: Sri Dewi Larasati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © Redaksi 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Redaksi.