UNICEF: tragis dan mengenaskan ada bayi meninggal kedinginan di Gaza
- Rabu, 1 Januari 2025 09:55 WIB
Hamilton, Kanada (ANTARA) – Seorang pejabat Dana Anak-anak PBB (UNICEF) pada Selasa (31/12) menyatakan terdapat tujuh bayi yang meninggal akibat cuaca dingin di Jalur Gaza pada akhir Desember.
“Tragis dan tidak dapat diterima bahwa sejak 23 Desember, tujuh bayi baru lahir dan bayi dilaporkan meninggal akibat cuaca dingin dan kurangnya tempat perlindungan yang memadai di Gaza,” ujar Ricardo Pires, manager komunikasi UNICEF kepada Anadolu.
Selain itu, Pires menambahkan bahwa kematian yang sebenarnya bisa dicegah itu menunjukkan buruknya keadaan dan keputusasaan yang dihadapi keluarga dan anak-anak di seluruh wilayah Jalur Gaza selama lebih dari 14 bulan.
“Cedera akibat dingin, seperti radang dingin dan hipotermia, menimbulkan risiko serius bagi anak-anak kecil di tenda dan tempat penampungan sementara lainnya yang tidak dilengkapi dengan peralatan memadai untuk menghadapi cuaca dingin. Bagi bayi baru lahir, balita, dan anak-anak yang rentan secara medis, bahayanya bahkan lebih serius,” kata Pires..
Pires memperingatkan akan bertambahnya jumlah kematian seiring suhu yang terus menurun.
“Dengan suhu yang diperkirakan akan terus turun, sangat disayangkan bahwa akan ada lebih banyak anak yang kehilangan nyawa akibat kondisi tidak manusiawi yang mereka alami, yang tidak memberikan perlindungan dari hawa dingin,” katanya.
Selain bahaya langsung dari cuaca dingin, Pires mencatat bahwa keluarga di Gaza menghadapi krisis kemanusiaan yang lebih besar, termasuk tempat berlindung, gizi, dan perawatan kesehatan yang tidak memadai.
Pires menekankan komitmen UNICEF untuk “terus bekerja tanpa kenal lelah, membagikan pakaian musim dingin, selimut, dan dan perlengkapan darurat untuk anak-anak,” meskipun banyak tantangan.
“Namun sayangya, kemampuan lembaga kemanusiaan untuk memberikan bantuan penyelamatan nyawa dalam skala yang dibutuhkan masih sangat terbatas,” imbuhnya.
Militer Israel terus melancarkan serangan brutal di Gaza yang telah menewaskan hampir 45.500 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera.
Tel Aviv telah memberlakukan blokade ketat di Gaza, meninggalkan 2,3 juta penduduk wilayah tersebut di ambang kelaparan.
Bulan lalu, Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk PM Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas tindakannya di Gaza.
Sumber: Anadolu
Baca juga: PBB desak dunia upayakan perdamaian di Gaza pada 2025
Baca juga: Warga Palestina di Gaza hadapi kekurangan pangan saat musim dingin
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2025
Komentar
Berita Terkait
Hamas puji Putin karena kecam Israel atas serangan di Jalur Gaza
- 29 Desember 2024
Rumah Sakit Indonesia di Gaza dikepung pasukan Israel
- 24 Desember 2024
Kepala UNRWA sebut Israel melanggar semua aturan perang di Gaza
- 23 Desember 2024
Hamas sebut kesepakatan sandera mungkin tercapai
- 18 Desember 2024
Rekomendasi lain
Profil Ahmad Luthfi, calon gubernur Jawa Tengah dari Partai Gerindra
- 3 September 2024
Lirik lagu “Akhirnya Ku Menemukanmu” – Naff
- 4 September 2024
Program bansos 2025: Ini syarat dan cara daftar jadi penerima
- 17 Desember 2024
Cara instal dan registrasi aplikasi Cek Bansos
- 2 September 2024
Referensi model rambut pendek anak laki-laki untuk sekolah
- 21 Agustus 2024
Khusnul Khotimah atau Husnul Khotimah, mana yang benar?
- 19 Agustus 2024
7 negara termiskin di dunia pada 2024
- 16 Agustus 2024





