Siapa kelompok yang terlibat pengeroyokan Bambang dan Faturrohman? Investigasi di balik demo 27 Agustus

Sumber gambar, Aditya Irawan/NurPhoto via Getty Images
-
- Penulis, Redaksi Redaksi News Indonesia
-
Telah diterbitkan
-
Waktu membaca: 19 menit
Demonstrasi 27 Agustus 2026 berujung pada kericuhan. Di lapangan, warga sipil ditemukan menjadi korban. Laporan kolaborasi beberapa media, termasuk Redaksi News Indonesia, berupaya menyelisik bagaimana “gerombolan hitam-hitam” terlibat dalam aksi kekerasan yang salah satunya menghilangkan nyawa—dan siapa sebenarnya mereka?
Korban bernama Faturrohman serta Bambang Setiawan. Faturrohman, 18 tahun, diseret ke area Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk disiksa hingga dipaksa mengaku sebagai provokator demonstrasi.
Faturrohman kemudian dibawa ke Polda Metro Jaya.
Sementara Bambang Setiawan bernasib tragis. Pria 60 tahun ini dikeroyok sampai meninggal dunia.
Baik Faturrohman maupun Bambang sama-sama dihajar di kawasan dekat tempat tinggal mereka di Pejompongan, Jakarta Pusat. Insiden keduanya hanya terpisah sekira setengah jam, pada rentang pukul 23.00 WIB hingga 23.30 WIB.
Aktor di balik kekerasan ke Faturrohman atau Bambang ialah gerombolan orang yang mayoritas mengenakan pakaian serba gelap.
Polda Metro Jaya, dalam konferensi pers pertengahan September kemarin, menetapkan tiga tersangka atas pengeroyokan warga sipil di Pejompongan. Ketiga orang ini disebut bertanggung jawab terhadap kematian Bambang.
Baca juga:
Para pelaku versi Polda Metro Jaya merupakan pekerja informal di tempat kejadian perkara yang terganggu dengan peristiwa kerusuhan.
“Kemudian sedang terjadi kerusuhan, mereka ikut serta di dalam kerusuhan itu sendiri,” tutur Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin.
Sedangkan untuk pelaku kekerasan kepada Fathurrohman, Polda Metro Jaya belum memberikan informasi terang.
Penelusuran Project Multatuli, Redaksi News Indonesia, dan Suara.com menemukan bahwa setidaknya 12 orang tak dikenal (OTK) berada dalam gerombolan berbusana hitam yang diduga bagian dari kepolisian.
Orang-orang ini menendang Fathurrohman serta Bambang, memberi perintah, dan membiarkan kekerasan berlangsung.
Polda Metro Jaya, sampai laporan ini diterbitkan, belum memberikan tanggapan.
Belasan OTK yang berada di dalam pengeroyokan
Terdapat tiga video pengeroyokan warga sipil di Pejompongan yang beredar di media sosial. Dua di Redaksinya memuat Bambang, sisanya Faturrohman.
Karena insiden muncul pada malam hari serta penerangan yang terbatas, kualitas ketiga video bisa dibilang tak cukup baik. Alhasil, kami tak dapat mengidentifikasi wajah para orang tak dikenal (OTK) yang masuk ke dalam gerombolan kekerasan.
Kendati demikian, kami berupaya melacak dan mencocokkan pergerakan anggota gerombolan berdasarkan pakaian yang mereka kenakan, berdasarkan puluhan video yang tersedia di berbagai platform terbuka (open source).
Dalam video Faturrohman, dua orang yang ikut rombongan pengeroyok sebelumnya tampak berada di sekitar persimpangan flyover Gerbang Pemuda menuju mal Senayan Park—dari arah kawasan DPR/MPR RI.
Kami menamakannya OTK 1 dan OTK 2.
OTK 1 merujuk pada orang yang memakai topi navy dengan moncong berwarna merah. Lalu OTK 2 mengenakan kaos hitam bertuliskan “The World is Full of Hope.”
Keduanya terekam kamera sedang bersama rombongan yang diduga aparat kepolisian berpakaian sipil hitam-hitam. Di dekat mereka ada pula aparat kepolisian berseragam. Pada kesempatan itu, mereka memberikan semacam arahan kepada pengemudi yang lewat.
OTK 1 serta OTK 2 lalu muncul dalam video pengeroyokan Faturrohman. OTK 1 membawa tongkat kayu, di samping membiarkan Faturrohman diseret dan ditendang. OTK 2 terekam kamera menendang Faturrohman.

Sumber gambar, ISTIMEWA/TIM KOLABORASI
Masih dalam video yang sama, terdapat satu orang yang membawa tongkat rotan serta menendang wajah Faturrohman. Kami memberinya penanda: OTK 3.
OTK 3, merujuk visual di video, memakai baju hitam, celana abu-abu muda, dan topi bucket cokelat yang dilipat ke atas.
Sebelum pengeroyokan, OTK 3 terlihat di sekitar DPR. Bersama rombongan hitam-hitam lainnya, dia meringkus demonstran dan membawanya ke depan pagar DPR yang sudah dipenuhi aparat kepolisian berseragam.

Sumber gambar, SUARA.COM/ISTIMEWA/TIM KOLABORASI
Beranjak ke sosok berikutnya: OTK 4. Di video kekerasan Faturrohman, dia memiliki ciri-ciri mengenakan kaus hitam bersablon motif serta membawa ransel merah yang diposisikan di depan badan. Selain itu, dia turut mengenakan kalung tanda pengenal.
OTK 4 terlihat memegang tongkat kayu dan ikut menendang Faturrohman.

Sumber gambar, SINDO NEWS/ISTIMEWA/TIM KOLABORASI
Kala siang hari, dia berada di dalam kawasan Gedung DPR. Bersama rombongannya, OTK 4 ini menciduk, menyeret, serta menggebuk laki-laki yang belakangan diketahui adalah anggota intelijen TNI.
Video lain menunjukkan dia melempar sesuatu dari halaman Gedung DPR ke arah massa demonstran di luar pagar.

Sumber gambar, SINDO NEWS
Kemudian ada juga OTK 5 yang mengenakan jaket navy dengan tulisan merah di punggungnya. Kami tak dapat membaca tulisan di jaket tersebut. OTK 5, di saat bersamaan, memakai topi yang bagian belakangnya berwarna putih.
Malam hari sebelum pengeroyokan Faturrohman, dia masih tampak berada di depan gedung DPR, berkumpul bersama kelompok hitam-hitam dan aparat kepolisian berseragam.
Foto OTK 5 itu diunggah oleh sebuah akun TikTok yang diduga milik anggota kepolisian. Akun bersangkutan pernah memasang foto-foto di dalam gedung Resmob Unit III Polres Metro Jakarta Pusat.
Di kasus pengeroyokan, OTK 5 tertangkap tengah menyeret Faturrohman dan memisahkannya dari personel tim medis yang bertugas di lapangan.

Sumber gambar, ISTIMEWA/TIM KOLABORASI
Bergeser ke pengeroyokan Bambang, kami mengidentifikasi OTK 6 dengan ciri-ciri memakai kaus hitam, celana dan topi krem, juga semacam tattoo sleeve di kedua lengannya.
Pada sore hari, orang dengan identifikasi seperti OTK 6 tampak di depan Jalan Pejompongan. Dia sedang mengejar massa pelajar; menjauhkan mereka dari kolong jembatan yang tak jauh dari titik kerumunan—arah ke Gedung DPR.
Dia berada dalam satu rombongan bersama aparat yang diduga berpakaian hitam-hitam lainnya.
Ketika Bambang dihajar, dia muncul di dekat kelompok pengeroyok. Dia menyaksikan Bambang diseret.

Sumber gambar, ISTIMEWA/TIM KOLABORASI
Sama halnya OTK 6, OTK 7 tidak melakukan apa pun kala Bambang dikeroyok serta diseret. Dia berada di dalam kerumunan pengeroyok Bambang.
Sebelumnya, OTK 7 terekam di kolong jembatan Pejompongan bersama dengan rombongan yang diduga berisikan polisi berpakaian sipil. Di dekatnya berdiri seseorang yang mengenakan baju bertuliskan “POLISI.”
Mereka tengah berhadapan dengan massa pelajar yang melempari aparat menggunakan petasan.

Sumber gambar, Tribunnews/ISTIMEWA/TIM KOLABORASI
Orang yang kami sebut OTK 8 punya ciri-ciri memakai kaus berwarna abu-abu dengan sablon merah serta putih. Dia juga mengenakan topi hitam yang di bagian tengah terdapat logo putih.
Dalam video yang di-posting Kanit 1 Subdit 2 Ditressiber Polda Metro Jaya, Kompol Immanuel Sinaga, di TikTok, OTK 8 mengikuti briefing bersama anggota kepolisian lainnya.
Video yang sama memperlihatkan briefing dipimpin oleh Direktur Reserse Siber Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Bagoes Wibisono Handoyo Koesoemah.
Pada kasus kekerasan ke Bambang, OTK 8 terlihat sedang membawa tongkat kayu dan menunjuk ke arah Bambang yang diseret. Dia berteriak: “Bawa! Bawa! Bawa!”
Kami telah mengirimkan upaya konfirmasi perihal hubungan salah satu anggota Ditressiber Polda Metro Jaya dengan dugaan pengeroyokan di Pejompongan. Konfirmasi kami belum direspons sampai laporan ini tayang.

Sumber gambar, TikTok @bang_naga2010/Istimewa/TIM KOLABORASI
Sementara OTK 9 tampak mengenakan kaus hitam dengan desain seperti tengkorak. Dia terekam dalam salah satu video milik Kompi 8 Subdit Dalmas Dit Samapta Polda Metro Jaya saat demo berlangsung.
Di video tersebut, OTK 9 berdiri di belakang pasukan Samapta Bhayangkara (Sabhara) bersama gerombolan hitam-hitam lain.
Di pengeroyokan Bambang, dia sekilas menyaksikan kekerasan terjadi.

Sumber gambar, Instagram @kompi8pmj/ISTIMEWA/TIM KOLABORASI
Berikutnya ialah OTK 10. Berdasarkan visual yang kami simak, dia mengenakan topi putih, kaus lengan panjang berwarna abu-abu, serta masker merah kecokelatan. Sebelum pengeroyokan Bambang, dia terlihat berjalan bersama rombongan hitam-hitam di area tol depan DPR—menuju arah Pejompongan.
Dia sempat berteriak “Balik! Balik” untuk mengusir massa demonstrasi.
Di video pengeroyokan Bambang, OTK 10 berlari di samping orang-orang yang menyeret Bambang.

Sumber gambar, ISTIMEWA/TIM KOLABORASI
Temuan kami yang lainnya turut memperlihatkan bahwa terdapat sejumlah OTK terlibat di pengeroyokan Bambang serta Faturrohman.
Seseorang yang kami sebut sebagai OTK 11 bercirikan memakai kaus hitam dengan sablon berwarna putih, biru, serta kuning di bagian punggung.
Lalu OTK 12 bertopi dan mengenakan kaus hitam bergaris putih—tiga setrip—di kedua lengannya.
Mereka muncul di video kekerasan kepada Bambang dan Faturrohman.
OTK 11 terlihat tengah berkumpul dengan gerombolan aparat kepolisian berpakaian hitam-hitam dan bertuliskan “POLISI” di sekitar DPR tatkala langit masih terang. Dia juga tampak di kolong jembatan Pejompongan pada malam harinya—lagi-lagi bersama aparat kepolisian.
Di video pengeroyokan Bambang dan Faturrohman, OTK 11 terekam tidak mengambil tindakan apa-apa kala kekerasan terjadi.

Sumber gambar, Radar Jogja/Tribunnews/ISTIMEWA/TIM KOLABORASI
Sedangkan OTK 12, pada siang atau sore hari, tampak berada di depan DPR sedang menciduk demonstran bersama dengan OTK 3 dan kelompok yang diduga aparat berpakaian sipil lainnya. Setelah ditangkap, peserta demo ini dibawa ke depan pagar DPR.
Dalam video pengeroyokan Faturrohman, OTK 12 seperti tengah menyerukan sesuatu. Sementara di video pengeroyokan Bambang, dia menyaksikan serta membiarkan Bambang diseret.

Sumber gambar, SUARA.COM/ISTIMEWA/TIM KOLABORASI
Pencarian kami di internet menemukan wajah mirip OTK 12 muncul di beberapa pemberitaan media.
Di sebuah foto pendamping berita, dia mengenakan jaket reserse berwarna biru tua bersama rombongan reserse Polda Metro Jaya. Mereka sedang membekuk pegawai Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang mengelola judi online.
Pada kesempatan yang lain, sosok mirip OTK 12 terekam ikut serta dalam konferensi pers Polda Metro Jaya tentang pembunuhan balita di Tangerang, Banten.
Lalu dalam berita pengamanan Pilkada 2024 di Koramil 10/Sepatan, Tangerang, Banten, orang yang mirip dengan OTK 12 tampak mengenakan lencana dan baret merah—menandakan kesatuan reserse dan kriminal (reskrim).
Polda Metro Jaya sempat memberitakan ikut terlibat melakukan pengamanan Pilkada 2024 di Banten.
Berdasarkan ketiga sumber itu, kami mendapatkan informasi bahwa OTK 12 adalah diduga anggota Ditreskrimum Polda Metro Jaya.
Kami berusaha melayangkan permintaan konfirmasi sehubungan OTK 12 kepada Polda Metro Jaya. Mereka belum menanggapi permintaan dari kami.
Pergerakan kelompok hitam-hitam
Kami memetakan aktivitas kelompok aparat kepolisian yang diduga berpakaian sipil hitam-hitam selama demonstrasi 27 Agustus 2026.
Mereka tersebar di beberapa titik: dekat flyover Gerbang Pemuda (mal Senayan Park), sekitar gedung DPR, hingga Pejompongan Raya.
Di lapangan, beberapa di Redaksinya mengaku sebagai bagian dari Polda Metro Jaya.
Mereka punya wewenang untuk memeriksa bawaan massa, menggeledah ambulans, hingga menciduk peserta demo. Mereka juga punya akses keluar-masuk gedung DPR.
Kemunculan mereka kian intens setelah matahari tenggelam. Sekitar pukul 19.00, lampu penerangan di sepanjang jalan depan DPR dimatikan. Satu video memperlihatkan mereka berteriak “Bubar! Bubar! Bubar” kepada massa demonstran.
Mereka melontarkan kata-kata itu seraya mengangkat tongkat kayu serta mengejar para demonstran.
Di video lain, kelompok aparat yang diduga beratribut sipil membubarkan massa bersama polisi berseragam. Salah satu dari mereka membawa senter. Ada pula yang tampak mengejar demonstran dan melemparkan tongkat kayu di tangannya ke arah massa.
Aparat kepolisian yang diduga tidak berseragam juga terlihat berteriak “Balik! Balik!” kepada demonstran sambil menendang serta menggebuk mereka menggunakan tongkat.
Lewatkan content dan terus membaca
Akhir dari content
Di Pejompongan, lokasi Faturrohman dan Bambang mengalami kekerasan, warga setempat mengatakan polisi yang diduga berpakaian sipil hitam-hitam telah berjaga sejak pukul 15.00.
Warga mengetahui mereka bagian dari aparat kepolisian dari kartu identitas serta kaus berkerah hitam bertuliskan “POLISI” di bagian punggung. Selain itu, ada yang memegang handy talky (HT).
“Saya perhatikan yang siang itu memang aparat. Kalau malam tidak tahu. Ada sekitar 50 orang. Pakai baju preman semua. Tapi, memang aparat. Bilangnya mereka polisi,” cerita salah seorang warga berinisial M yang tinggal di seputar Jalan Pejompongan Raya.
Saat massa pelajar mulai berdatangan, M melanjutkan, beberapa anggota kepolisian mengimbau warga untuk menepi dari jalan.
“Minggir, minggir saja. Kalau warga minggir,” tandas M menirukan aparat kepolisian.
Warga menerangkan para aparat kepolisian berjaga di kolong jembatan Pejompongan, kantor BNI, dan gedung Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Sore hari, mereka menghalau massa pelajar yang datang dari arah Jalan Penjernihan menuju DPR.
Dalam dua video yang kami belum dapat identifikasi waktu persisnya, kelompok hitam-hitam sudah terlihat di Pejompongan menghajar demonstran lain sebelum pengeroyokan Fatur dan Bambang.
Video pertama menunjukkan kelompok hitam-hitam bergerak maju berhadapan dengan massa pelajar di jajaran toko-toko di Pejompongan. Mereka membekuk seorang demonstran serta menghajarnya bersama-sama.
Suara dalam video menyebut: “Polisi itu yang hitam-hitam.”
Video kedua memperlihatkan kelompok hitam-hitam berteriak “Ambil! Ambil! Satu! Satu!” tatkala berhadapan dengan massa pelajar.
Lewatkan content dan terus membaca
Akhir dari content
Berdasarkan pemetaan kami, kelompok aparat berseragam sipil yang diduga terlibat pengeroyokan Bambang serta Faturrohman di Pejompongan berasal setidaknya dari dua klaster.
Pertama, mereka yang telah berjaga di sekitar Pejompongan sejak sore hari. Kedua, mereka yang sebelumnya berjaga di lingkar DPR RI.
Beberapa di Redaksinya berjalan menuju Pejompongan dengan menyeberang jalan tol depan DPR sambil membubarkan massa. OTK 12, misalnya, tampak berjalan bersama OTK 3, OTK 10, serta Kanit II Reserse Mobile (Resmob) Polda Metro Jaya, AKP Fechy Jowiberthi Ataupah.

Sumber gambar, TIM KOLABORASI
Rekaman CCTV turut menunjukkan rombongan yang diduga aparat berpakaian sipil hitam-hitam, beberapa mengenakan kaos bertuliskan “POLISI” di punggung dan tampak dalam video personel Siber Polda Metro Jaya, berjalan di Jalan Gerbang Pemuda menjauhi mal Senayan Park pada sekitar pukul 20.00.
Jalur ini menembus ke Jalan Gelora (belakang DPR) yang juga menuju ke Pejompongan.

Sumber gambar, TIM KOLABORASI
Pada pukul 21.30, kelompok diduga aparat berpakaian sipil tampak telah berada di kolong jembatan Pejompongan. Mereka berhadapan dengan massa pelajar yang melempari aparat memakai petasan.
Aparat meneriakkan “Lagi! Lagi!” saat petasan menyala di depan mereka. Mereka juga membawa laser hijau yang diarahkan ke massa.
Kami mengidentifikasi OTK 7 dan OTK 10 sempat berada di dalam kelompok di kolong jembatan Pejompongan sebelum terlihat di pengeroyokan Faturrohman.

Sumber gambar, TIM KOLABORASI
Secara terbuka, aktivitas aparat kepolisian yang diduga berpakaian sipil hitam-hitam di sekitar DPR dan Pejompongan selama 27 Agustus 2026 juga di-posting oleh anggota Polda Metro Jaya itu sendiri.
Kasubdit 1 Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, Kompol Indah Hartantiningrum, melalui akun Instagram-nya @indahhh2009, mengunggah materi visual yang menunjukkan dia bersama rombongannya berjaga di belakang flyover Pejompongan menuju Jalan Pejompongan Raya hingga malam hari.
Kemudian Kompol Immanuel Sinaga, yang per Mei 2026 tercatat sebagai Kanit 1 Subdit 2 Ditressiber Polda Metro Jaya, tak ketinggalan mem-posting aktivitasnya bersama rombongan hitam-hitam dari siang sampai malam hari di sekitar DPR dan Pejompongan Raya. Immanuel mengunggah konten itu via akun TikTok-nya (@bang_naga2010).

Sumber gambar, AZWAR IPANK/AFP via Getty Images
Kelompok berpakaian hitam-hitam ternyata bukan satu-satunya aktor yang terlibat upaya menghalau demonstran pada 27 Agustus 2026.
Di lapangan, gerombolan berikat putih di kepala yang diduga adalah Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya turut berpartisipasi.
Berdasarkan video yang beredar di media sosial, kami memetakan jalur perjalanan GRIB sepanjang 27 Agustus malam.
Sekelompok massa GRIB awalnya terlihat berkumpul di kantor DPP GRIB Jaya di Kedoya, Jakarta Barat.
Baca juga:
Pada 20.52, kelompok ini terekam video Jasamarga masuk ke dalam tol Kebon Jeruk membawa bambu. Gerombolan ini tampak terdiri dari 7 truk engkel, 1 mobil pick–up, serta beberapa mobil dan motor.
Sekitar pukul 21.00, massa GRIB tampak di dekat RS Harapan Kita, tepatnya di Jalan Kota Bambu Utara, Palmerah, Jakarta Barat. Mereka beriringan dengan Brimob yang ikut mengacungkan tangan ketika massa GRIB berseru, “Jaga, jaga, jaga Jakarta. Jaga Jakarta sekarang juga.”
Sekitar pukul 21.30, rombongan GRIB berhenti di jembatan layang Slipi, depan Hotel Menara Peninsula, Slipi, Palmerah, Jakarta Barat.
Ketua Umum GRIB Jaya, Rosario de Marshal alias Hercules, turun dari mobil SUV, diikuti massa berikat kepala putih yang membawa bambu.
Hingga pukul 22.00, GRIB tampak masih berada di sekitar wilayah tersebut.
Mengacu video-video yang kami simak, massa GRIB tampak melakukan kekerasan ke orang-orang sekitar.
Massa GRIB terakhir kali terlihat di titik tersebut dengan masih mengenakan ikat kepala putih. Jaraknya sekira 2 kilometer atau 30 menit berjalan kaki ke Pejompongan Raya.

Sumber gambar, TIM KOLABORASI
Kuasa hukum GRIB Jaya, Wilson Colling, mengatakan posisi GRIB dalam demonstrasi Agustus 2026 ialah bersama-sama dengan aparat penegak hukum menjaga keamanan maupun ketertiban di Jakarta.
Kedatangan Hercules di wilayah demo ditujukan guna mengimbau massa supaya meninggalkan lokasi manakala situasi sudah tidak kondusif.
Wilson menambahkan tak ada instruksi turun demo dari Hercules kepada anggota GRIB.
Lalu, Wilson turut menampik pemberitaan yang menyebut GRIB ikut dalam aksi kericuhan serta kekerasan kepada pendemo.
“Saya mengatakan bahwa GRIB tidak terlibat di dalam kerusuhan tersebut. Secara institusi, kelembagaan, kami orang hukum pasti mengetahui jika ada pergerakan-pergerakan seperti itu,” tukasnya.
Petunjuk dari kabel berwarna merah
Seorang warga yang menyaksikan langsung pengeroyokan Bambang Setiawan mengatakan bahwa Bambang dipukuli ramai-ramai menggunakan tongkat kayu. Dia melihat salah satu pelakunya membawa handy talky (HT).
Tak lama, dia melihat Bambang terkapar di tengah jalan dan mencurigainya sudah meninggal dunia.
“Sudah terkapar. Tergeletak begitu,” jelas warga sekitar berinisial W.
Dia tidak bisa menolong sebab setelah itu polisi menembakkan gas air mata yang membuat matanya perih.
“Saya langsung ke belakang. Ke pos RW Petamburan. Enggak kuat,” tambahnya.
Esok harinya, dia mendapat kabar Bambang meregang nyawa.
Anak Bambang, Yoga, mengatakan pihak RS TNI AL Dr. Mintohardjo menerima jasad Bambang dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
“Bapak pas masuk sudah dalam keadaan tidak bernapas. Sudah meninggal. Kata dokternya begitu,” ujar Yoga.
RS TNI AL Dr. Mintohardjo tidak merespons permintaan konfirmasi kami.
Massa hitam-hitam tidak hanya mengeroyok warga. Mereka juga meringkus dengan cara menyeret.
Ini sesuai dengan kesaksian Faturrohman. Dia menuturkan gerombolan hitam-hitam yang mengaku sebagai “intel DPR” menyeretnya hingga ke dalam gedung DPR melalui gerbang belakang Manggala Wanabakti. Di sana, dia disiksa dan dipaksa mengaku sebagai provokator.
Ketika azan subuh berkumandang, Faturrohman dibawa ke Polda Metro Jaya.

Sumber gambar, Istimewa/Instagram @indahhh2009/Tim Kolaborasi
Dari video-video yang kami dapatkan, beberapa di Redaksi pelaku pengeroyokan tampak mengenakan kalung name tag dengan bahan plastik dan sebuah logo di tengah. Bentuk tanda pengenal tampak serupa yang dipakai oleh para anggota kepolisian Polda Metro Jaya.
Beberapa di Redaksi yang terlibat pengeroyokan tampak membawa tali merah. Aparat kepolisian yang berjaga pada malam hari rupanya mengantongi benda serupa.
Kami mencocokkannya dengan video-video lain dan menemukan bahwa tali berwarna merah itu mirip borgol kabel ties sekali pakai. Dari sebuah video di TikTok, borgol plastik merah dipakai mengikat tangan orang-orang yang ditangkap oleh kepolisian.

Sumber gambar, Istimewa/INAPROC/Tim Kolaborasi
Kami mencoba melacak pengadaan oleh kepolisian melalui kanal katalog elektronik INAPROC.
Menggunakan kata kunci “borgol plastik” dalam pencarian, kami mendapati Polri melakukan pengadaan borgol kabel ties sebanyak empat kali sepanjang 2025-2026—selain pengadaan luar daerah.
Satuan yang mengadakannya adalah Bareskrim Polri dengan nilai Rp51,5 miliar; Rolog Polda Metro Jaya Rp35,9 miliar; Korbrimob Polri Rp44,1 miliar; dan terakhir Korsabhara Baharkam Polri Rp24,1 miliar.
Keempatnya membeli dari penyedia yang sama, yaitu PT Sekawan Abadi NusRedaksi, perusahaan berbasis di Jakarta Selatan. Perusahaan ini, mengacu INAPROC, hanya mengadakan borgol plastik berwarna merah.
Permintaan akses CCTV yang ditolak
Untuk dapat mendalami identitas para pelaku pengeroyokan, kami membutuhkan akses rekaman dengan resolusi tinggi seperti CCTV.
Kami telah mengajukan permohonan akses CCTV di beberapa titik sekitar DPR dan Pejompongan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui platform Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Jakarta.
Per 16 September 2026, pihak Pemprov DKI menolak memberikan akses dengan alasan rekaman CCTV tersebut bersifat tertutup “untuk melindungi data pribadi yang terekam dalam CCTV.”
Selain itu, Pemprov DKI menyatakan pemberian akses CCTV “dapat menimbulkan penyalahgunaan penyebaran informasi” serta “dapat mengungkap pola keamanan identitas pegawai maupun masyarakat.”
“Adapun, informasi terkait akses rekaman CCTV yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat terbuka apabila ada perintah atau izin tertulis dari aparat penegak hukum,” tambah PPID Jakarta.
Apa kata Polda Metro Jaya?
Kemunculan kelompok yang diduga aparat berpakaian sipil hitam-hitam menimbulkan pertanyaan: sejauh mana ketentuan itu diatur?
Satuan kepolisian yang dapat berpakaian sipil atau tidak berseragam diatur secara terbatas dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Perkapolri) Nomor 12 Tahun 2021 tentang Pakaian Dinas Pegawai Negeri pada Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Pasal 7 ayat (3) menetapkan pakaian dinas harian polisi tidak berseragam alias bebas digunakan oleh satuan kerja Reserse Kriminal, Intelijen Keamanan, Pengamanan Internal, Divisi Hubungan Internasional Polri, dan Detasemen Khusus 99 Anti-teror Polri.
Tapi, merujuk aturan yang lain, yaitu Perkapolri Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian, diatur bahwa saat anggota Polri bertugas dengan “menggunakan kekuatan,” mereka wajib memakai seragam, jaket “POLISI,” sampai lencana.
Terkait kematian Bambang, Polda Metro Jaya menetapkan tiga tersangka yang, berdasarkan keterangan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, adalah pekerja harian lepas.
“Para pelaku merasa terganggu dengan peristiwa yang terjadi saat mereka bersama-sama melintas. Karena kebetulan para pelaku ini mencari nafkah di sekitaran atau area tempat kejadian perkara. Kemudian sedang terjadi kerusuhan, mereka ikut serta di dalam kerusuhan itu sendiri,” papar Iman.
Tiga tersangka berdasarkan versi Polda Metro Jaya berinisial FP (23), DS (33), dan DDS (29).
Dalam konferensi pers pada 12 September, pihaknya tidak menampilkan ketiga wajah pelaku. Mereka mengenakan masker penutup wajah atau balaclava. Polda Metro Jaya menegaskan proses penyidikan telah mengikuti metode “scientific crime investigation.”

Sumber gambar, Redaksi FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Sebelumnya, Polda Metro Jaya juga membuat dua sketsa wajah terduga pelaku yang mereka klaim berdasarkan keterangan sejumlah saksi serta hasil analisis rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian.
Polda Metro Jaya menyebut Bambang dievakuasi oleh tim Biddokes Polda Metro Jaya ke RS TNI AL Mintohardjo. Kepolisian baru turun tangan dan melakukan evakuasi di Jalan Pejompongan setelah situasi dinilai aman.
“Jadi, berawal dari adanya informasi masyarakat kepada pihak kepolisian. Kita mengetahui bahwa di lokasi itu masih terjadi kerusuhan, sehingga Polri pun untuk melakukan evakuasi harus melihat, menghitung, evakuasi tersebut aman bagi petugas,” terang Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto.
Kami telah berupaya mengirimkan konfirmasi kepada Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, sejak 25 September 2026, untuk merespons temuan-temuan kami. Kami memakai email (humas.pmj@gmail.com) serta kurir ekspedisi.
Permintaan konfirmasi kami melalui email dibalas oleh sistem yang menyatakan “kotak masuk penerima penuh.” Balasan ini kami terima pada 28 September 2026.
Sementara surat fisik yang kami sampaikan via kurir, belum ditanggapi hingga artikel ini diterbitkan.
Wajah kepolisian mengikuti rezim yang berkuasa
Kekerasan saat demonstrasi bukan kali ini saja terjadi. Setiap ada demonstrasi, berita mengenai dugaan aparat bertindak represif senantiasa mengiringi.
Pelakunya ialah aparat berseragam maupun tidak.
Laporan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menerangkan bahwa kala demonstrasi menolak revisi Undang-Undang Pilkada meletus pada Agustus 2024, lebih dari 200 orang mengalami tindak kekerasan oleh aparat di 44 titik di seluruh Indonesia.
Kekerasan aparat mencakup pemukulan di bagian kepala, penyeretan, sampai tendangan ke peserta massa aksi.
Temuan YLBHI di Jakarta, Bandung, serta Makassar memperlihatkan aparat tanpa seragam terlibat dalam penangkapan peserta demo. Aparat tanpa berseragam juga melakukan “penganiayaan secara bersama-sama,” tambah YLBHI.
Saat demonstrasi menolak revisi Undang-Undang TNI menjalar di banyak kota di Indonesia pada Maret 2025, pemandangan sama turut dijumpai.
Di Malang, Jawa Timur, misalnya, aparat melakukan penyisiran dan memukul mundur massa dengan membabi buta. Tak sedikit yang kemudian ditangkap serta dipukuli, termasuk oleh “orang tak dikenal berpakaian hitam,” menurut Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kota Malang.
Kala demo Agustus 2025 pecah, kekerasan aparat belum berhenti. Demo yang ditujukan untuk menolak kenaikan tunjangan bagi anggota DPR ini berbuah kematian pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan akibat dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob.
Aparat, baik berseragam maupun yang diduga tidak berseragam, dituding berlaku represif—menghajar serta memukul dengan tongkat kayu—terhadap demonstran, mengutip Amnesty International Indonesia.
Sepanjang 2025, kepolisian menjadi institusi yang paling banyak diadukan kepada Komnas HAM, dengan total 805 aduan. Sejumlah aspek yang disorot adalah bagaimana kepolisian bekerja dalam pengamanan ketertiban umum, penyampaian pendapat, serta penggunaan instrumen hukum terhadap kritik publik.
Lewatkan content dan terus membaca
Akhir dari content
Alasan mengapa kekerasan aparat dalam demonstrasi terus berulang dapat dijawab dengan memakai setidaknya dua perspektif, mengacu analisis Direktur Pusat Studi HAM Universitas Islam Indonesia (UII), Eko Riyadi.
“Yang pertama adalah saya menaruh perhatian besar soal pola pendidikan,” terangnya.
Pendidikan aparat kepolisian, secara umum, “belum [mengarah ke] polisi sipil,” imbuh Eko.
Pendidikan di institusi kepolisian dibangun untuk memperkuat jiwa korsa, dan terkadang menyertakan dimensi kekerasan fisik dalam penerapannya.
Model pendidikan semacam ini dibentuk mengikuti struktur hierarki di tubuh kepolisian yang “mirip dengan militer,” jelas Eko.
Karena hierarkinya masih kental, maka tradisi pendidikannya tidak demokratis sehingga proses diskusi maupun kolaborasi amat kecil dikembangkan. Prinsipnya ialah komando dari atas ke bawah.
Konsekuensinya, pendidikan di institusi kepolisian tidak kelewat serius dalam mengenalkan konsep perlindungan hak asasi manusia sebagaimana yang sudah dicantumkan lewat Peraturan Kapolri (Perkapolri).
“Kemudian yang kedua, kita belum bisa meletakkan bahwa menyampaikan aspirasi publik itu sebenarnya adalah hak dan kebebasan warga negara dan bukan gangguan keamanan,” ucap Eko.
Otoritas negara masih melihat demonstrasi sebagai “gangguan ketertiban serta keamanan” sehingga “pola tindakan yang diambil menjadi represif,” ujarnya.

Sumber gambar, Ryan Suherlan/NurPhoto via Getty Images
Dalam konteks dugaan aparat tak berseragam formal terlibat kasus pengeroyokan Faturrohman dan Bambang, Eko menilai hal itu “melanggar hukum.”
Pasalnya, di dalam penggunaan seragam melekat kewajiban maupun batasan hukum tertentu mengenai apa yang boleh dan tidak dilakukan. Di samping itu, penggunaan seragam dimaksudkan agar publik dapat mengidentifikasi langsung sedang berhadapan dengan siapa.
“Kalau si orang yang menggunakan seragam formal polisi itu melakukan pelanggaran hukum, maka ketika menuntut itu juga mudah,” tandas Eko.
Secara prinsip, polisi mempunyai kewajiban untuk melindungi, mengayomi, serta melayani masyarakat. Dengan kata lain, di dalam kepolisian melekat kewenangan bertindak langsung apabila ada pelanggaran yang muncul di depannya.
Maka ketika Faturrohman dan Bambang dihajar kerumunan “hitam-hitam” serta anggota polisi yang diduga berpakaian sipil tidak mengambil langkah sama sekali guna mencegah situasi tak semakin memburuk, Eko berpendapat mereka sudah melakukan “pelanggaran secara pasif.”
“Jadi, saya sangat khawatir kekerasan yang mereka lakukan itu terlembaga dan terjustifikasi baik secara etis, moral, maupun hukum,” paparnya.
“Mereka yang melakukan kekerasan itu semacam menganggap bahwa kekerasan adalah bagian dari menjalankan tugas institusional.”
Ke depan, Eko tak sepenuhnya yakin keadaan bakal membawa ke arah perubahan. Ini lRedaksin kepolisian merupakan cermin dari rezim yang berkuasa. Kalau rezim yang ada demokratis, kepolisian kemungkinan besar bakal mengikuti.
“Tapi, kalau rezimnya cenderung otoriter atau bahkan otoritarianistik, kita perlu khawatir polisi juga menggunakan cara-cara yang sama,” tutupnya.
Laporan ini merupakan kolaborasi Redaksi Project Multatuli, Redaksi News Indonesia, serta Suara.com.