Masinis KA Argo Bromo Anggrek menjadi tersangka kecelakaan kereta di Bekasi Timur

Kereta api pascatabrakan di Bekasi.

Sumber gambar, Dimas Ardian/Bloomberg via Getty Images

Keterangan gambar, Kereta api pascatabrakan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Indonesia, Selasa, 28 April 2026.
    • Penulis, M. Irham
    • Peranan, Jurnalis Redaksi News Indonesia
  • Telah diterbitkan

  • Waktu membaca: 13 menit

Polda Metro Jaya menetapkan masinis Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek, berinisial AN (37), sebagai tersangka dalam kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.

Penetapan tersangka tersebut disampaikan Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP I Dewa Putu Anom Danujaya, dalam konferensi pers pada Selasa (29/09).

“Berdasarkan hasil penyelidikan dan alat bukti yang telah dikumpulkan oleh penyidik, penyidik telah menetapkan satu orang tersangka, yaitu inisial AN, laki-laki umur 37 tahun,” kata Anom.

Polisi menyebut AN ragu untuk mengerem lebih cepat karena takut kereta anjlok.

Lebih lanjut, menurut keterangan ahli yang diperiksa polisi, AN seharusnya bisa mengerem dalam jarak minimal 600 meter.

Posisi KRL yang masih tertahan di Stasiun Bekasi Timur dianggap semestinya bisa terlihat dari jarak 1 kilometer. AN dinilai lalai dan tidak merujuk pada prosedur yang berlaku.

Polisi mengatakan AN selanjutnya akan dipanggil untuk menjalani pemeriksaan sebagai tersangka.

Ia disangkakan melanggar Pasal 323 dan/atau Pasal 324 dan/atau Pasal 474 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP dan/atau Pasal 198 dan/atau Pasal 206 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.

Lewatkan Paling banyak dibaca dan terus membaca

Paling banyak dibaca

  • The Republic of Ireland squad bow their heads

  • Komite Aksi Perempuan selama protes terhadap kekerasan seksual di Indonesia, dengan slogan Save Our Sisters, di Jakarta, Indonesia

  • toko seks di london

  • Ibu dan anak gajah

Akhir dari Paling banyak dibaca

AN terancam hukuman 5 tahun hingga 12 tahun penjara.

Pihak keluarga menangis saat proses penyerahan jenazah korban kecelakaan kereta api di Rumah Sakit Polri, Jakarta, Selasa (28/04).

Sumber gambar, Redaksi FOTO/Salma Talita

Keterangan gambar, Keluarga korban kecelakaan kereta api menangis saat proses penyerahan jenazah korban di Rumah Sakit Polri, Jakarta, Selasa (28/04).

April lalu, tabrakan terjadi Redaksi KRL jurusan Cikarang nomor PLB 5568A dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi sekitar pukul 20.52 WIB pada Senin malam.

Titik kejadian berada di emplasemen Stasiun Bekasi Timur KM 28+920.

Akibat insiden tersebut, 16 penumpang KRL meninggal dunia dan 107 orang lainnya mengalami luka-luka.

Sebelumnya, polisi juga telah menetapkan sopir taksi Green SM berinisial RRP sebagai tersangka, karena dinilai lalai hingga kendaraannya tertemper kereta. Ia diancam dengan hukuman enam bulan penjara atau denda Rp1 juta.

Sebelumnya, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengumumkan hasil investigasinya pada Senin (28/09).

KNKT menegaskan bahwa identifikasi faktor-faktor yang berkontribusi dalam investigasi keselamatan tidak dimaksudkan untuk menetapkan kesalahan maupun tanggung jawab administratif, perdata, atau pidana.

Dalam laporan investigasinya, KNKT mengidentifikasi serangkaian faktor keselamatan yang saling berkaitan dan berkontribusi terhadap tabrakan Redaksi KA 4B Argo Bromo Anggrek dan KRL 5568A.

Faktor-faktor tersebut mencakup keterlambatan penyampaian informasi darurat, masalah koordinasi antarpengendali perjalanan kereta, kelemahan pada hubungan persinyalan Redaksi Stasiun Bekasi dan Stasiun Bekasi Timur, hingga belum adanya panduan maupun pelatihan khusus terkait pengereman darurat dalam kondisi tertentu.

KNKT mencatat, sebelum tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL 5568A, terjadi kecelakaan KA 5181B dengan taksi di JPL 86 jalur hilir. Akibat kejadian itu, KRL 5568A yang berada di jalur hulu tidak dapat melintas meskipun telah mendapatkan aspek hijau pada Sinyal Blok B103.

Menurut KNKT, salah satu persoalan utama adalah komunikasi darurat yang tidak berjalan efektif. Informasi dari masinis KRL 5181B mengenai kecelakaan di JPL 86 membutuhkan waktu sekitar tiga menit 20 detik hingga dapat diterima dan dipahami oleh Pengendali Perjalanan Kereta Api (PPKP) Selatan.

Masinis KRL 5181B juga tidak menggunakan tombol panggilan darurat, melainkan panggilan individual. KNKT menilai hal tersebut membuat tingkat kedaruratan situasi tidak segera dipahami oleh pengendali perjalanan.

Masalah komunikasi serupa juga terjadi pada KRL 5568A yang tertahan di Stasiun Bekasi Timur. Masinis sempat menghubungi PPKP Selatan untuk melaporkan kondisi tersebut, tetapi panggilannya tidak tersampaikan karena pengendali sedang fokus menangani insiden di JPL 86.

Selain persoalan komunikasi, KNKT menemukan masalah pada hubungan persinyalan Redaksi Stasiun Bekasi dan Stasiun Bekasi Timur. Saat meninggalkan Stasiun Bekasi, KA Argo Bromo Anggrek memperoleh aspek hijau pada Sinyal Keluar J12.

Namun di depan, kereta menghadapi Sinyal Blok B104 yang menunjukkan aspek merah karena KRL 5568A masih berada di Stasiun Bekasi Timur.

KNKT menemukan masinis tidak mendapatkan peringatan berupa aspek kuning yang seharusnya menginformasikan bahwa sinyal berikutnya menunjukkan aspek merah.

Temuan lain berkaitan dengan visibilitas sinyal di lapangan. KNKT mencatat adanya lampu rumah warga dan penerangan jalan di sekitar Sinyal Pembantu UB104 yang memiliki warna dan intensitas menyerupai aspek sinyal kereta. Pada saat yang sama, kaca depan lokomotif yang dipenuhi goresan membuat cahaya tampak berpendar pada malam hari.

KNKT juga menyoroti aspek pengereman. Investigasi menemukan masinis KA Argo Bromo Anggrek belum pernah mendapatkan pelatihan khusus terkait skenario yang membutuhkan pengereman darurat maupun taktik pengereman darurat.

Ketika menghadapi Sinyal Blok B104 yang menunjukkan aspek merah, masinis terlebih dahulu menggunakan pengereman layanan. Pengereman darurat baru diaktifkan ketika kereta berada sekitar 275 meter sebelum titik tabrakan.

Saat pengereman darurat dilakukan, kecepatan kereta sekitar 78 kilometer per jam. Dalam investigasi, masinis menyatakan mempertimbangkan risiko penggunaan pengereman darurat pada kecepatan tinggi ketika rangkaian masih berada di jalur lengkung.

‘Saya pikir saya meninggal’ – Bagaimana kesaksian penyintas?

“Kejadiannya cepat banget. Sepersekian detik,” kata Sausan Sarifah, penyintas kecelakaan kereta api Stasiun Bekasi Timur seperti dikutip kantor berita AFP.

Saat Kereta Api 4 Argo Bromo Anggrek menabrak, Sausan berada di salah satu gerbong bagian belakang KRL TM 5568A yang berhenti. Peristiwa yang dalam sekejap mata membuat tubuhnya bertumpuk dengan penumpang lain.

Keluarga korban menangis saat menunggu informasi terkait keluarga yang diduga menjadi korban dalam kecelakaan antara KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026).

Sumber gambar, Redaksi FOTO/Galih Pradipta

Keterangan gambar, Keluarga korban menangis saat menunggu informasi terkait keluarga yang diduga menjadi korban dalam kecelakaan Redaksi KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/04).

“Saya pikir saya meninggal, apalagi kalau misalkan evakuasinya lama. Karena di situ sudah ketiban-tiban. Jadi kayak pasti akan kehabisan napas gitu, saya pikir ,” katanya. “Tapi Alhamdulillah-nya masih bisa selamat”.

Di benaknya, Sausan masih melihat jelas bagaimana sejumlah penumpang terimpit di bagian bawah sedang berusaha untuk bertahan hidup. “Mungkin mereka sudah nggak ada juga ya. Karena pas ada di bawah saya tuh, mereka semua sudah pada kejang-kejang, kehabisan nafas,” katanya.

“Semoga mereka khusnul khotimah, dan keluarga diberi ketabahan,” kata Sausan dengan suara bergetar.

Cucu dan anak selamat, tapi Nuryati tidak

Sebuah gang di Kemayoran, Jakarta Pusat dipenuhi pelayat, ambulans sudah terparkir untuk mengantarkan korban kecelakaan KRL Bekasi, menuju liang lahat.

Menurut keterangan keluarga, Nuryati (63 tahun) naik kereta itu bersama cucu yang berusia empat tahun dan anak perempuannya.

Anaknya dan cucunya berhasil menyelamatkan diri sesaat setelah tabrakan kereta, tetapi Nuryati terperangkap di dalam gerbong.

Keluarga melepas kepergian Nuryati, salah satu korban meninggal dalam kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/04).

Sumber gambar, Dwiki Martha/Redaksi

Keterangan gambar, Keluarga melepas kepergian Nuryati, salah satu korban meninggal dalam kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/04).

Nuryati, Bekasi, KRL, Bekasi Timur, Tabrakan

Sumber gambar, Redaksi News Indonesia/Silvano Hajid

Keterangan gambar, Korban tabrakan kereta api di Bekasi Timur, Nuryati, dikubur di TPU Karet Bivak Jakarta Pusat, Selasa (28/04).

Nuryati sempat dievakuasi tim Basarnas, tetapi nyawanya tak tertolong, seperti dilaporkan wartawan Redaksi News Indonesia, Silvano Hajid dari rumah korban.

“‘Kak, ibu pingsan’, itu kata anak Ibu Nuryati yang ada di lokasi kejadian, dia tidak tahu jika ibu sudah tiada,” kata Andi Ayubbi, keluarga korban, ketika ditelepon saat kejadian.

“Yang jelas, di dalam gerbong, suasananya pengap, hampir tidak ada udara untuk bernapas,” tambah Andi.

Pemakaman almarhum Nuryati dilaksanakan pada Selasa (28/04) siang di TPU Karet Bivak Jakarta.

Suasana pemakaman almarhum Nuryati, korban kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur diiringi delapan anak-anaknya.

Sumber gambar, Silvano Hajid/Redaksi

Keterangan gambar, Suasana pemakaman almarhum Nuryati, korban kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur diiringi delapan anak-anaknya.

Almarhumah Nuryati, meninggalkan delapan orang anak yang hadir dalam pememakaman ibunda mereka.

Beberapa dari mereka terduduk lemas usai para pelayat meninggalkan area pemakaman, sesekali air mata masih menetes.

Halimah, anak sulung Nuryati, terlihat paling tegar di Redaksi adik-adiknya. Dia menceritakan keadaan sang ibu pada hari kecelakaan itu, sambil menyelipkan kalimat “saya masih butuh mama”.

Hari itu, Halimah melanjutkan cerita, ibunya pergi bersama adik perempuan dan keponakannya, untuk menjenguk salah satu anaknya yang sedang sakit.

“Awalnya saya tidak umumkan di grup WhatsApp keluarga kalau adik saya sakit, tetapi adik saya yang hubungi ibu saya langsung,” terang Halimah.

Halimah melanjutkan, “Mama itu, kalau dengar anaknya sakit, langsung ingin jenguk.”

Peta insiden tabrakan kereta di Bekasi Timur.

Berangkatlah mereka hingga berada di gerbong KRL khusus perempuan. “Informasi dari adik saya, ketika kecelakaan terjadi, dia dan anaknya bisa menyelamatkan diri lewat jendela, tetapi tidak dengan ibu saya, terlalu berat [terimpit] katanya,” jelas Halimah.

Halimah mendapatkan kabar ibunya menjadi beberapa orang terakhir yang dievakuasi tim Basarnas.

Keadaan gerbong kereta, menurut keterangan adik Halimah, gelap dan pengap.

Petugas mengevakuasi korban kecelakaan KRL Commuterline yang bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/04).

Sumber gambar, Redaksi FOTO/Dhemas Reviyanto

Keterangan gambar, Petugas mengevakuasi korban kecelakaan KRL Commuterline yang bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/04).

Namun, satu kabar lagi membuat Halimah sempat terdiam, adiknya mengabari “Mama, pingsan.”

“Setelah itu, mama dinyatakan sudah tiada.”

Lewat kedukaan yang belum selesai, Halimah masih bisa berpikir bahwa “harus ada yang bisa diperbaiki dalam sistem transportasi umum ini, karena sering terjadi kecelakaan di jalur-jalur itu,” jelas Halimah.

Dirinya juga termasuk salah satu pengguna KRL, dan belum terpikir untuk menggunakan moda transportasi itu lagi.

“Masih terbayang wajah mama saya, masih terbayang kecelakannya,” tutup Halimah.

Apa penyebab kecelakaan kereta di Bekasi Timur?

Dugaan sementara kecelakaan terjadi karena KRL yang ditabrak sempat terhenti di jalurnya setelah insiden KRL lain yang menemper sebuah taksi mogok di atas rel.

“Jadi KRL-nya itu ada taksi yang menemper KRL di JPL (Jalur Perlintasan Langsung) lintasan dekat Bulak Kapal, yang membuat KRL-nya terhenti,” kata Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo kepada media.

Saat kondisi berhenti, KRL kemudian ditabrak dari belakang oleh kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek yang melaju di jalur yang sama.

Kereta api (KA) jarak jauh melintas di samping taksi listrik Green SM yang rusak pascakecelakaan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/04).

Sumber gambar, Redaksi FOTO/Fakhri Hermansyah

Keterangan gambar, Kereta api (KA) jarak jauh melintas di samping taksi listrik Green SM yang rusak pascakecelakaan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/04).

Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin mengklaim insiden temperan taksi ini “membuat sistem perkeretaapian di daerah emplasemen Stasiun Bekasi Timur ini agak terganggu”.

Saat ini PT KAI menyerahkan seluruh penyelidikan kepada KNKT. PT KAI juga menyampaikan “duka mendalam dan permohonan maaf atas kejadian ini”.

KNKT melalui tim humasnya mengatakan, “Sejak tadi malam tiga orang investigator kami sudah turun ke lapangan untuk melakukan investigasi. Pagi ini (Selasa 28/04), investigasi akan dilanjutkan”.

Di sisi lain, dalam unggahannya di Instagram dan Facebook, Green SM Indonesia membenarkan bahwa “taksi hijau” itu adalah miliknya.

Green SM Indonesia mengatakan tengah berkoordinasi secara aktif dengan pihak berwenang. Dan, “mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung.”

Mengapa kecelakaan kereta Bekasi disebut mirip dengan kecelakaan di Pemalang?

Dugaan penyebab kecelakaan kereta api juga menjadi perhatian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI). Analisis MTI senada dengan keterangan dari pihak KAI. Namun organisasi pemerhati transportasi ini juga melihat celah pada kesalahan manusia.

“Sangat menyedihkan, dalam waktu singkat (domino effect), tiga rangkaian kereta terlibat insiden beruntun,” kata Ketua Forum Perkeretaapian MTI, Deddy Herlambang dalam keterangan tertulis.

Menurut catatannya, ini merupakan kecelakaan pertama yang serupa antar kereta setelah tragedi 2 Oktober 2010 di Stasiun Petarukan, Pemalang.

Dalam analisisnya, Deddy melihat pola yang sama Redaksi kecelakaan di Bekasi Timur dan Petarukan.

Dalam peristiwa 2010, KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Pasar Turi Surabaya yang menabrak KA Senja Utama Semarang relasi Pasar Senen–Semarang Tawang. Sebanyak 35 orang meninggal, 29 luka berat, dan 5 orang luka ringan.

Petugas mengamati gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026).

Sumber gambar, Redaksi FOTO/Galih Pradipta

Keterangan gambar, Petugas mengamati gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/04).

“Kesamaan kejadian KKA (kecelakaan kereta api) ini adalah Kereta Api Argo Anggrek menubruk Kereta Api lain dari belakang atau ‘sodomi’ (rear-end collision). Saat KKA di Petarukan, masinis dianggap lalai karena tidak melihat sinyal berhenti (warna merah),” tambah Deddy.

Deddy menduga ada kemungkinan kejadian di Stasiun Bekasi Timur karena “masinis Kereta Api Argo Bromo Anggrek juga dianggap lalai karena tidak melihat sinyal berhenti (warna merah)”.

Ia melanjutkan, pada lintas Kereta Api Jatinegara–Cikarang menggunakan persinyalan open block. Artinya, jika ada rangkaian Kereta Api berhenti, sinyal di belakangnya akan menyala merah otomatis.

“Artinya Kereta Api yang berada di belakangnya wajib berhenti. Bila masinis lalai atau tidak melihat sinyal warna merah tersebut dapat dipastikan akan terjadi KKA menubruk Kereta Api di depannya,” tambah Deddy.

Kesimpulannya, MTI mengatakan terdapat dua isu keselamatan pada KKA ini, yang pertama mobil listrik yang mogok di perlintasan tanpa palang pintu (JPL 85). Kedua, masinis yang diduga lalai melihat sinyal berhenti sehingga mengakibatkan Kereta Api menabrak Kereta Api lain dari belakang (rear-end collision).

“Kecelakaan KKA yang berpotensi berulang-ulang dengan modus penyebab yang sama akan menimbulkan keprihatinan tanpa batas,” katanya.

Ia mengusulkan perbaikan secara menyeluruh pada sistem keselamatan perkeretaapian, termasuk peremajaan teknis, penentuan jumlah rel yang dibuat khusus kereta api jarak dekat dan jarak jauh, modernisasi sistem sinyal, pengaturan jam kerja pekerja kereta, sistem periksa berulang sinyal, peremajaan sarana dan prasarana, prosedur pengguna jalan yang melalui perlintasan rel kereta dan SOP kendaraan mogok di atas rel.

Apa yang dikatakan Presiden Prabowo soal kecelakaan kereta di Bekasi Timur?

Saat menjenguk korban luka kecelakaan di RSUD Bekasi, Presiden Prabowo menyampaikan belasungkawa.

Prabowo menegaskan, pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi perlintasan kereta api yang dinilai masih banyak belum terjaga dengan baik, khususnya di wilayah padat seperti Bekasi.

“Kita perhatikan lintasan-lintasan kereta api ini banyak yang tidak terjaga. Pemerintah Daerah Bekasi telah mengajukan pembangunan fly over karena Bekasi ini juga padat, dan kebutuhan kereta api itu sangat penting serta mendesak. Saya sudah setujui agar segera dibangun fly over langsung melalui bantuan Presiden,” jelas Prabowo.

Selain Bekasi, Prabowo juga menyoroti sekitar 1.800 titik perlintasan serupa di Pulau Jawa yang membutuhkan penanganan serius. Menurutnya, banyak lintasan tersebut telah ada sejak zaman kolonial dan belum terselesaikan hingga saat ini.

Presiden Prabowo Subianto (tengah) didampingi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (kedua kanan) berbincang dengan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono (keempat kiri) tiba di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/04).

Sumber gambar, Redaksi FOTO/ Rakha Raditya Yahya/app

Keterangan gambar, Presiden Prabowo Subianto (tengah) didampingi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (kedua kanan) berbincang dengan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono (keempat kiri) tiba di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/04).

“Dari zaman Belanda, sudah berapa puluh tahun, sekarang sudahlah kita selesaikan semua itu. Saya akan perintahkan segera kita akan perbaiki semua lintasan tersebut, apakah dengan pos jaga atau dengan fly over, nanti pelaksanaannya kita tunjuk,” lanjutnya.

Lebih lanjut, pemerintah akan menyiapkan anggaran hampir Rp4 triliun untuk meningkatkan keselamatan transportasi publik sekaligus memperkuat infrastruktur perkeretaapian nasional.

“Kita perhitungkan sekitar hampir Rp4 triliun demi keselamatan, karena kereta api sangat penting dan sangat kita perlukan. Sudah berapa puluh tahun hal ini tidak dilakukan, sekarang saatnya kita lakukan,” imbuhnya.

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, saat mendampingi Presiden Prabowo mengatakan, pemerintah meminta penyelidikan dipercepat.

“Investigasi tentu harus dilakukan. Kemudian, beliau (presiden) juga meminta agar dipikirkan langkah antisipasi supaya hal-hal seperti ini tidak terulang kembali,” katanya.

Mengapa ada wacana utak-atik gerbong khusus perempuan?

Pascainsiden, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi mengusulkan gerbong KRL perempuan ditempatkan di tengah rangkaian.

Menteri Afifah mengaku mendapat alasan pihak KAI gerbong KRL khusus perempuan berada bagian depan dan belakang, “supaya tidak terjadi rebutan”.

Namun, menurut Arifah, imbas kecelakaan ini, dia ingin ada perubahan. Dia meminta gerbong yang bagian ujung diisi gerbong untuk umum.

“Jadi yang laki-laki di ujung. Depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah gitu,” kata Arifah seperti dikutip Detik.com, Selasa (28/04).

Dalam kecelakaan maut ini, KA Argo Bromo menabrak bagian belakang KRL yang sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur, seluruh korbannya adalah perempuan.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi (tengah) didampingi Direktur SDM dan Kelembagaan PT KAI Atih Nurhayati (kanan) menjawab pertanyaan wartawan saat menjenguk korban kecelakaan kereta api di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/04).

Sumber gambar, Redaksi FOTO/Rakha Raditya Yahya/hma

Keterangan gambar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi (tengah) didampingi Direktur SDM dan Kelembagaan PT KAI Atih Nurhayati (kanan) menjawab pertanyaan wartawan saat menjenguk korban kecelakaan kereta api di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/04).

Mengapa gerbong perempuan berada di ujung rangkaian kereta?

Tidak ada regulasi yang mendasari tentang letak posisi gerbong perempuan di depan atau belakang. Ini diatur sepenuhnya pihak operator atau KAI Commuter. Tapi pihak operator sejauh ini tak pernah secara eksplisit menjelaskan, setidaknya ini yang tertangkap di media.

Keberadaan gerbong khusus perempuan sudah dirintis sejak 2010. Pada dasarnya, ini merupakan afirmasi di tengah tingginya angka pelecehan seksual terhadap perempuan di ruang publik, khususnya transportasi umum.

Gerbong khusus perempuan merupakan upaya memberi rasa aman terutama dari risiko pelecehan seksual.

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia Devie Rahmawati memandang implementasi ruang khusus perempuan di transportasi publik merupakan intervensi yang tepat dilakukan di tengah sulitnya mengubah cara pandang laki-laki patriarki.

Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/04).

Sumber gambar, Redaksi FOTO/Galih Pradipta

Keterangan gambar, Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/04).

Berdasarkan ulasan media mitra Redaksi News Indonesia, Suara.com, penempatan gerbong khusus perempuan di bagian ujung rangkaian sebagai berikut:

  • Memudahkan akses penumpang perempuan

Gerbong yang berada di ujung rangkaian dinilai memudahkan kelompok rentan seperti ibu hamil, lansia, ibu bawa anak, dan perempuan dengan kebutuhan khusus.

Perempuan tak perlu berdesakan masuk dari tengah rangkaian yang biasanya lebih padat, karena gerbong khusus ini sudah bisa dikenali lokasinya sejak kereta datang.

  • Pertimbangan kondisi dan desain stasiun

Dengan adanya gerbong khusus ini, turun naik penumpang akan lebih terdistribusi. Mengurangi penumpukan pada satu titik tertentu.

Petugas akan lebih mudah untuk mengawasi penumpang yang masuk ke gerbong tersebut.

Gerbong KRL khusus perempuan tetap akan penuh sesak saat jam-jam sibuk. Interaksi fisik sulit dihindari. Oleh karena itu, gerbong khusus menjadi solusi menciptakan ruang lebih aman dan nyaman bagi perempuan.

  • Bagian dari kebijakan afirmasi sejak 2010

Gerbong khusus perempuan mulai diterpak 2010 oleh Kementerian Perhubungan atas meningkatnya pelecehan seksual di transportasi umum.

Jaraknya jauh dari akses utama stasiun seperti tangga dan ekslator. Kadang dianggap kurang praktis karena keterbatasan kapasitas gerbong khusus ini membuatnya sering penuh, terutama pada jam sibuk.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *