Rapat di DPR, Ortu Korban Daycare Little Aresha Curhat Anaknya Alami PTSD

Jakarta

Orang tua korban dugaan kekerasan di daycare Little Aresha, Umbulharjo, Yogyakarta, mengungkap dampak yang dialami anaknya setelah dititipkan di tempat penitipan anak tersebut. Orang tua korban mengaku anaknya mengalami trauma.

Hal itu disampaikan dalam rapat dengar pendapat Komisi VIII DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (9/6/2026). Salah satu orang tua korban, Ismanto, yang mengikuti rapat secara daring, mengatakan kondisi fisik dan psikologi anaknya mengalami perubahan selama dititipkan di daycare tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Jadi kondisi anak kami secara fisik maupun secara psikis, tentunya ada perubahan-perubahan psikologis selama anak kami dititipkan kurang lebih 3 tahun 1 bulan untuk anak kami,” kata Ismanto.

Ismanto mengaku anaknya kini mudah marah, takut bertemu orang baru, sulit makan, hingga mengalami gangguan tidur. Menurutnya, si anak juga kerap menangis histeris saat malam hari.

“Beberapa hal yang mungkin saya sampaikan kejadian-kejadian secara garis besar, secara psikologis anak kami tentunya dampak seperti halnya anak kami itu mudah marah atau temperamen, kemudian yang kedua takut dengan orang baru, sulit makan, tidak bisa makan selama hari-hari, berteriak nangis histeris saat tidur malam hari, kemudian terbangun dan berpindah tidur ke lantai,” ujarnya.

Dia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan perlakuan yang diterima anak-anak selama berada di daycare. Ismanto mengatakan anak-anak diduga tak tidur di kasur, melainkan di lantai keramik.

“Karena informasi yang kami terima anak-anak kami selama di daycare itu tidak ditempatkan di kasur, tapi tidurnya malah di atas keramik. Mungkin Bapak-bapak yang sudah melihat video yang sudah viral di media sosial melihat bagaimana kondisi anak kami ketika berada di daycare tersebut,” sambungnya.

Tak hanya itu, Ismanto juga mengungkap anaknya mengalami masalah pertumbuhan. Dia menyebut berat badan anaknya saat berusia 3 tahun 3 bulan hanya sekitar 10 kilogram.

“Dalam artian gizi buruk atau stunting ya. Jadi anak kami mengalami stunting yang cukup parah karena di bawah garis merah,” ungkapnya.

“Kemudian kejadian-kejadian seperti tangan melepuh dan lain sebagainya sering terjadi pada anak kami. Kemudian sakit bahkan sampai keluar darah dari hidung,” lanjut Ismanto.

Dia juga mengaku anaknya sempat mengalami pneumonia saat masih berusia beberapa bulan. Ismanto mengatakan informasi yang diterimanya menyebut anaknya dimandikan tidak menggunakan air hangat.

“Nah ini pada tanggal 2 Juni 2023, tepat kurang lebih tiga bulan atau empat bulan selama anak kami ditempatkan di daycare tersebut, itu sudah mengalami pneumonia, Bapak. Jadi informasinya juga anak kami tidak dimandikan dengan air hangat dalam kondisi usia 2 bulan. Dua bulan sampai usia di tahun 2 Juni ini masuk kurang lebih empat bulan sampai lima bulan, Bapak,” ujar Ismanto.

“Dan ini tidak dimandikan dengan air hangat ternyata informasi yang kami terima dari beberapa pengasuh yang bisa kita mintai keterangan,” sambungnya.

Hal yang sama disampaikan orang tua korban lainnya, Usi. Dia mengaku kedua anaknya mengalami perubahan perilaku setelah dititipkan di daycare Little Aresha. Bahkan dia mengatakan kedua anaknya didiagnosis mengalami gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD).

“Banyak sekali perubahan yang terjadi di anak saya, bahkan kemarin waktu di psikiater itu diagnosanya dua-duanya itu adalah PTSD atau post-trauma sindrom itu, Pak. Jadi, memang mereka berdua membutuhkan terapi yang berkelanjutan. Jadi, ini sampai sekarang dua minggu setiap minggu itu mereka menjalankan terapi,” katanya.

Selain itu, Usi mengaku melihat sejumlah perubahan perilaku pada anak-anaknya. Menurutnya, anak-anak menjadi terbiasa tidur di lantai dan menunjukkan perilaku agresif.

“Perubahan-perubahan yang terjadi sekarang di Little Aresha itu seperti anak saya itu suka menali, kemudian suka lepas Pampers, dan tidur hanya di lantai. Kemudian, juga suka menjambak, mencubit, dan lain-lain kekerasan yang sering dilakukan oleh anak saya di rumah,” paparnya.

Usi mengaku sempat menaruh curiga terhadap kondisi yang dialami anaknya. Namun saat itu dia memilih memercayai penjelasan pihak pengelola daycare.

Usi mengatakan memilih Little Aresha setelah melakukan survei pada 2021. Saat itu, menurutnya, seluruh fasilitas dan program yang ditawarkan terlihat baik dan sesuai kebutuhan orang tua yang mencari daycare saat masa pandemi COVID-19.

“Seiring berjalannya waktu sampai detik ini, ternyata anak saya dan semua anak yang di Little Aresha tidak berada di tempat yang sesuai dengan bayangan saya saat survei saat itu,” tuturnya.

(amw/isa)

  • Related Posts

    Tok! ASN Pemkot Bekasi Dilarang Ngonten Pakai Seragam dan Atribut Dinas

    Jakarta – Plh Wali Kota (Walkot) Bekasi Abdul Harris Bobihoe mengeluarkan surat edaran (SE) untuk aparatur sipil negara (ASN). Isinya terkait larangan ASN Pemkot Bekasi membuat konten mengenakan seragam dan…

    Selain Chatib Basri, Budi Gunadi Sadikin ke Istana Juga

    Jakarta – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menghadap Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta. Ada apa? Budi menyambangi Istana melewati pintu pilar di dekat Istana Negara. Budi tidak…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *