Jakarta –
Otoritas Iran disebut kembali menutup Selat Hormuz usai serangan Israel ke Lebanon. Lantas bagaimana nasib kapal tanker RI yang mengangkut bahan bakar?
“Pertamina terus memonitor perkembangan konflik Timur Tengah yang sangat dinamis, posisi kapal Pertamina masih berada di Teluk Persia belum melalui Selat Hormuz,” kata VP Corporate Communication PT Pertamina, Muhammad Baron saat dihubungi, Jumat (10/4/2026).
Baron mengatakan, Pertamina mengutamakan keselamatan awak kapal. Pihaknya juga berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk rencana tindak lanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Pertamina sangat mengutamakan keselamatan awak dan kapal, kami berkomunikasi secara erat dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan kondisi dan rencana tindak lanjutnya,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Baron memastikan Pertamina mendukung pemerintah terkait ketersediaan energi di tengah konflik Timur Tengah. Pihaknya berkomitmen untuk menyalurkan energi ke seluruh negeri.
“Kami mengikuti dan mendukung Pemerintah dalam ketersediaan energi buat masyarakat, Pertamina terus menyalurkan ke pelosok negeri,” imbuhnya.
Diketahui, Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan strategis untuk pasokan energi global, terdampak oleh perang berkelanjutan di Timur Tengah. Sebelum perang meletus, sekitar 20 juta barel minyak global biasanya melintasi jalur perairan penting tersebut setiap harinya.
Imbas dari perang, aktivitas perlintasan di Selat Hormuz telah secara efektif dibatasi sejak awal Maret lalu. Iran lalu sepakat membuka Selamat Hormuz setelah adanya kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Selama dua pekan.
Terbaru, pada Rabu (8/4) Iran kembali menutup Selat Hormuz. Penutupan itu menyusul serangan militer Israel di Lebanon terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Saksikan Live DetikPagi:
(wnv/zap)






