Cerita Siswa Cemas Ikut TKA hingga Peringatan untuk Pengawas

KEMENTERIAN Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengatakan pelaksanaan hari pertama tes kemampuan akademik (TKA) di sejumlah daerah berjalan relatif lancar. Namun, ada sedikit cerita pengalaman dari SMP Negeri 2 Curug, Tangerang, Banten.

Salah satu peserta, Heiba Anindya, mengaku sempat diliputi rasa takut dan cemas sebelum mengikuti ujian. “Jujur, awalnya takut dan deg-degan. Karena ini pengalaman baru bagi kami,” kata Heiba, dikutip dari keterangan resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Senin, 6 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Meski demikian, rasa penasaran terhadap soal-soal yang diujikan membuatnya tetap antusias. Ia mengaku telah mempersiapkan diri sejak beberapa bulan sebelumnya, termasuk meningkatkan intensitas belajar menjelang ujian.

Dukungan orang tua juga menjadi faktor penting yang membuatnya lebih percaya diri. “Orang tua juga membantu saya belajar dan menyediakan buku-buku latihan. Jadi saya merasa lebih siap,” ujarnya.

Di sisi lain, pelaksanaan TKA di sekolah tersebut berjalan tanpa kendala teknis. Kepala sekolah, Purwaningsih, mengatakan ujian digelar dalam tiga sesi dengan total sekitar 60 siswa per sesi. Ia memastikan jaringan dan sistem berjalan baik sepanjang pelaksanaan. “Tidak ada kendala. Jaringan berjalan baik dan token juga keluar sesuai waktu yang ditetapkan,” kata dia.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti yang meninjau langsung pelaksanaan TKA di sekolah tersebut mengingatkan pentingnya menjaga integritas selama ujian berlangsung.

Ia meminta siswa mengerjakan soal dengan jujur dan tidak menjadikan TKA sebagai beban. “Kerjakan dengan jujur dan gembira. Karena ini adalah bagian dari proses, bukan akhir,” ujar Mu’ti.

Selain itu, Mu’ti juga menyoroti peran pengawas ujian. Ia melarang pengawas mendokumentasikan kegiatan selama TKA berlangsung, termasuk membuat video atau mengunggah status di media sosial. “Kami mengimbau para pengawas untuk menjalankan tugas secara profesional, tanpa melakukan dokumentasi yang tidak perlu,” katanya.

Secara nasional, pelaksanaan TKA pada hari pertama mencapai sekitar 98 persen dari target peserta. Sisanya, sekitar 2 persen siswa belum mengikuti ujian karena berbagai alasan, seperti kesiapan psikologis maupun pertimbangan orang tua. Sementara di SMP Negeri 2 Curug, tingkat partisipasi tercatat mencapai 100 persen.

Mu’ti menjelaskan TKA dirancang sebagai sistem five in one yang menghasilkan lima jenis data pendidikan, yakni kemampuan akademik, literasi, numerasi, karakter, serta kondisi lingkungan belajar. Ia juga memastikan pelaksanaan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) telah diantisipasi dengan skema fleksibel, termasuk opsi berbagi fasilitas dan ujian susulan bagi sekolah terdampak bencana.

“Dengan sistem yang ada, kita optimistis pelaksanaan TKA dapat memberikan data yang valid dan akurat sebagai dasar perumusan kebijakan pendidikan ke depan,” kata Mu’ti.

  • Related Posts

    PSI: Balas Laporan JAKI Pakai Foto AI Rusak Kepercayaan Publik

    Jakarta – Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta Kevin Wu menyoroti laporan masyarakat mengenai parkir liar lewat aplikasi JAKI dibalas menggunakan foto diduga rekayasa akal imitasi (artificial intelligence/AI). Dia menilai…

    Kemenhan Bantah Sudah Teken Kontrak 12 Jet Pilatus PC-24

    KEMENTERIAN Pertahanan membantah telah meneken kontrak pengadaan 12 unit pesawat jet Pilatus PC-24 seperti yang tercantum dalam laman resmi produsen. Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemenhan Rico Ricardo Sirait mengatakan hingga…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *