Paskah 2026, Kardinal Suharyo Bicara Ekologi Integral

USKUP Agung Keuskupan Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo mengingatkan bahwa penghematan energi seharusnya tidak dimulai hanya ketika ada ancaman krisis. Bagi Kardinal Suharyo, penghematan energi merupakan tanggung jawab moral.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ia menyinggung konsep ekologi integral yang tercantum dalam ajaran sosial Gereja Katolik. “Mengenai hemat energi tidak usah disuruh, tidak usah menunggu krisis. Kita mesti menghemat energi,” ucap Suharyo berpesan soal penghematan energi sebagai bentuk antisipasi krisis global di Gereja Katedral, Jakarta, Minggu, 5 April 2026.

Kardinal Suharyo pun meminta upaya menghemat energi ini ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas. Sebab, tanpa motivasi yang kuat, masyarakat berpotensi mengabaikan upaya tersebut. “Kata kuncinya, kembali lagi, saya mengikuti apa yang dikatakan oleh pemimpin gereja, kata kuncinya adalah ekologi integral,” tutur Suharyo.

Ekologi integral merupakan konsep sentral dalam ensiklik Laudato Si’ (Terpujilah Engkau) yang ditulis oleh Paus Fransiskus dan diterbitkan pada 2015. Dalam ensiklik itu, Paus Fransiskus membahas pentingnya menjaga lingkungan hidup dan memperhatikan semua orang, serta mengajak umat merenungkan hubungan antara Tuhan, manusia, dan bumi. 

Ensiklik Laudato Si’ juga menyebutkan bahwa krisis ekologi berpotensi menyebabkan krisis kemanusiaan lainnya, termasuk ketidakadilan. Sementara penyebab utama krisis ekologi adalah egosentrisme manusia. Dalam ensiklik itu, Paus Fransiskus juga menyerukan “tobat ekologis” sebagai pertobatan pribadi di tengah kondisi krisis ekologis. 

“Jadi ekologi integral itu bukan sekedar masalah listrik, air, sampah, pohon, bukan hanya itu. Ekologi integral itu adalah ekosistem dunia,” kata Kardinal Suharyo.

Ia berujar, selama ini dunia dipenuhi oleh keserakahan. “Bukan hanya pribadi, tetapi sebagai bangsa. Apalagi keserakahan itu didukung oleh senjata, habislah yang namanya keadaban itu,” tutur Kardinal.

Kardinal Suharyo pun mengingatkan bahwa hal-hal teknis seperti sekadar menghemat energi bukan solusi utama. Yang paling diperlukan adalah perubahan moral.

“Selama masih ada yang serakah, tidak ada yang solider dengan sesamanya atau solidaritas itu berkurang, kerusakan bumi ini adalah akibat dari semuanya itu. Maka ekologi integral, pertobatan ekologis itu artinya adalah pertobatan moral hati nurani,” kata Suharyo.

Lebih lanjut, Kardinal Suharyo juga menyampaikan pentingnya menerapkan gaya hidup minimalis. Ia menerangkan, konsep minimalis ini bukan berarti hidup dalam kekurangan hingga kelaparan, melainkan hidup secukupnya.

Bagi dia, istilah minimalis yang populer di dunia arsitektur menggambarkan sesuatu yang bersih, indah, dan tercukupi, tapi tidak berlebihan. “Jadi kalau misalnya satu rumah ada kolam renangnya lima, itu pasti bukan minimalis. Itu pasti berkelebihan. Syukur-syukur kalau bukan serakah, tetapi hanya kaya saja,” kata Suharyo.

  • Related Posts

    Apakah krisis kemanusiaan di Gaza diabaikan?

    Kondisi di Gaza semakin memburuk di tengah perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Kondisi kemanusiaan di Gaza tetap memprihatinkan, meskipun “gencatan senjata” mulai berlaku pada bulan Oktober. Selama berbulan-bulan, militer Israel…

    Sayap bersenjata Hamas mengatakan tuntutan perlunya senjata tidak dapat diterima

    Abu Obeida mengatakan seruan perlunya senjata kelompok tersebut sama dengan upaya untuk melanjutkan genosida Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza. Juru bicara Hamas Abu Obeida mengatakan seruan perlunya senjata kelompok…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *