Jakarta –
Tempat penampungan sementara (TPS) sampah di jalan samping Kali Kanal Banjir Barat (KBB), Kalianyar, Tambora, Jakarta Barat diprotes warga. Mereka memasang spanduk di sana lantaran sampah yang lama diangkut dan mengganggu aktivitas warga.
“Iya itu (spanduk) memang warga yang pasang karena kemarin, sampah itu lama sekali tak diangkut dan jelas mengganggu warga. Bahkan juga bikin macet karena lokasinya di jalan,” kata Ketua RT 12 RW 01 Kalianyar, M. Toyib dilansir Antara, Senin (30/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Toyib menuturkan penumpukan sampah di TPST tersebut dampak dari terganggunya pengiriman ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Dia menyebut pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta juga telah memberi imbauan agar tak membuang sampah ke TPST.
“Penumpukan itu lantaran kejadian di Bantar Gebang. Bahkan sempat ada instruksi dari Dinas Lingkungan Hidup pada tanggal 8 Maret untuk tidak membuang sampah sementara,” ujar Toyib.
Sampah akhirnya sempat menumpuk di wilayah permukiman padat itu. Warga kemudian membagikan rekaman kondisi penumpukan sampah hingga viral di media sosial.
Dalam sejumlah video yang beredar mulai akhir Ramadhan sampai Lebaran, sampah tampak menumpuk di sepanjang jalan yang berbatasan dengan KBB dari arah Season City menuju Roxy.
Hingga akhirnya, pada 24-25 Maret atau beberapa hari setelah Lebaran, sampah akhirnya diangkut hingga tuntas.
“Dua hari diangkut sampai selesai dan langsung disterilkan,” katanya.
Lebih lanjut, Toyib menyebut alasan spanduk masih terpasang kendati tumpukan sampah telah diangkut adalah persoalan mendasar yang belum teratasi. Ketiadaan lahan membuat oknum warga terpaksa menjadikan pinggir jalan sebagai lokasi pembuangan sementara, sehingga memicu penolakan dari bagian warga setempat.
“Warga kami memang menolak kalau sampah dibuang di situ lagi. Karena itu di jalan, bukan tempatnya,” tegas Toyib.
Menurutnya, kondisi ini sudah berlangsung lama. Warga pun berharap ada relokasi TPS ke lokasi yang lebih layak, seperti di bantaran kali, sekitar wilayah tersebut.
Selama ini warga rutin membayar iuran sampah Rp 10 ribu per bulan sesuai ketentuan retribusi daerah. Namun, tanpa dukungan fasilitas yang memadai, persoalan sampah dinilai akan terus berulang.
“Daripada di jalan, lebih baik ada TPS di bantaran kali. Kita juga sudah usulkan, bahkan menyurati dinas terkait. Tinggal butuh kajian dan keterlibatan semua pihak,” jelasnya.
Toyib juga menyoroti keterbatasan armada pengangkut sampah di Kalianyar. Hanya tersedia dua truk untuk melayani seluruh wilayah yang mencakup 101 RT dan 9 RW.
“Ini udah terjadi sejak 2016. Artinya udah 10 tahun dan belum ada solusi. Warga udah resah karena baunya jelas buat tak sehat. Jadi, harapannya dipindahkan supaya tak ada problem di masyarakat,” kata dia.
Di sisi lain, Toyib mengatakan warga juga siap mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik, termasuk jika ada program pengolahan dan pemilahan sampah. Mereka berharap ada edukasi dan sosialisasi dari pemerintah.
“Kalau memang ada pengolahan sampah, kami minta diajarkan. Biar warga bisa memilah sampah dengan benar,” ujarnya.
(dek/idn)






