Jakarta –
Memasuki H+5 arus balik Idulfitri 1447 Hijriah, aktivitas perlintasan orang di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI) mulai menunjukkan tren penurunan.
Meski demikian, posko layanan kesehatan yang disiagakan sejak 14 Maret 2026 tetap beroperasi penuh untuk memastikan keamanan dan kesehatan pelintas di kawasan perbatasan Indonesia-Papua Nugini hingga 30 Maret 2026. Berdasarkan pantauan petugas, puncak lonjakan pelintas di PLBN Skouw terjadi pada 19 hingga 20 Maret 2026.
Sementara itu, memasuki periode arus balik Lebaran, mobilitas masyarakat di PLBN Skouw kini berangsur normal, namun kesiapsiagaan posko layanan kesehatan tetap dipertahankan sebagai langkah antisipasi. Selama masa operasional posko, seluruh layanan kesehatan berjalan lancar tanpa ditemukan kasus darurat yang memerlukan rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala PLBN Skouw, Ni Luh Puspa Jayaningsih menegaskan bahwa posko kesehatan memiliki peran strategis dalam menjaga keamanan kesehatan di wilayah perbatasan, khususnya pada momentum arus mudik dan balik Lebaran. Menurutnya, keberadaan posko kesehatan tidak hanya berfungsi sebagai layanan medis dasar, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam sistem kewaspadaan kesehatan lintas negara.
“Posko kesehatan ini tidak hanya melayani masyarakat, tetapi juga menjadi sistem deteksi dini terhadap potensi risiko penyakit yang masuk dari luar wilayah. Kami melihat adanya perubahan pola penyakit di masyarakat perbatasan, sehingga ke depan dibutuhkan pendekatan kesehatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan,” ujar Ni Luh dalam keterangannya, Minggu (29/3/2026).
Ia juga menambahkan, bahwa tingginya mobilitas masyarakat saat Lebaran perlu diimbangi dengan kesadaran menjaga kesehatan. Berdasarkan data pemeriksaan di lapangan, sebanyak 62,5 persen pelintas yang memanfaatkan layanan posko tercatat sebagai perokok aktif. Kondisi tersebut dinilai dapat memperburuk gangguan pernapasan, terutama di tengah dominasi kasus ISPA dan potensi penyebaran penyakit berbasis droplet.
Untuk itu, masyarakat diimbau agar mulai mengurangi kebiasaan merokok, menggunakan masker di area keramaian, menjaga daya tahan tubuh, serta tidak mengabaikan gejala awal penyakit. Pemanfaatan layanan posko kesehatan juga terus didorong sebagai langkah preventif melalui pemeriksaan dan konsultasi kesehatan secara berkala.
Adapun sejak awal dibuka, jumlah kunjungan ke posko kesehatan mengalami peningkatan secara bertahap dan mencapai puncaknya pada H-2 Lebaran serta kembali meningkat pada H+2 Lebaran. Hingga 26 Maret 2026, tercatat sebanyak 48 kunjungan ke posko kesehatan, dengan rata-rata empat pasien per hari selama 13 hari operasional.
Dari sisi jenis keluhan, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi kasus yang paling dominan. Kondisi ini diperkirakan dipengaruhi oleh cuaca yang lembap serta tingginya mobilitas pelintas.
Selain ISPA, petugas juga menangani keluhan nyeri kepala akibat kelelahan dan dehidrasi, demam yang memerlukan observasi, serta penyakit tidak menular seperti hipertensi dan hiperkolesterol.
Sebagai bagian dari upaya deteksi dini, petugas kesehatan telah melakukan skrining terhadap 7.480 pelintas menggunakan thermal scanner. Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh pelintas memiliki suhu tubuh di bawah ambang demam.
Dengan kondisi yang tetap terkendali hingga H+5 Lebaran, layanan kesehatan di PLBN Skouw menunjukkan kesiapsiagaan yang optimal dalam mendukung kelancaran arus mudik dan balik Idulfitri 1447 Hijriah.
Lebih dari sekadar layanan yang bersifat sementara, kehadiran posko kesehatan ini menegaskan komitmen PLBN Skouw yang dikelola Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI sebagai garda terdepan negara dalam menjaga keamanan, kenyamanan, dan kesehatan masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia-Papua Nugini.
(prf/ega)





