INFO TEMPO – Krisis air bersih yang kian memburuk di Jalur Gaza mendorong hadirnya berbagai upaya kemanusiaan untuk menjaga keberlangsungan hidup warga. Salah satunya dilakukan oleh Dompet Dhuafa yang menghadirkan sumur bor yang mulai mengalir pada 8 Maret 2026, bertepatan dengan 19 Ramadan.
Sumur tersebut kini dimanfaatkan oleh para pengungsi di kamp-kamp sekitar Kota Gaza, menjadi salah satu akses terbatas terhadap air layak konsumsi di tengah situasi darurat yang belum mereda. Kehadirannya menjadi sangat krusial di saat kebutuhan air bersih mencapai titik kritis akibat terganggunya pasokan listrik dan bahan bakar.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) menyebut kondisi ini memperparah krisis yang telah berlangsung lama. Tanpa energi yang memadai, sebagian besar fasilitas pengolahan dan distribusi air tidak dapat beroperasi, sehingga warga terpaksa menggunakan sumber air yang belum tentu aman.
Dampak krisis ini mulai terlihat di sektor kesehatan. Di sejumlah fasilitas medis, terutama di wilayah Al-Mawasi dan Khan Younis, kasus penyakit terkait air dan sanitasi meningkat tajam. Penyakit seperti diare, penyakit kuning, dan infeksi kulit banyak menyerang, terutama pada anak-anak.
“Kami melihat peningkatan drastis penyakit kuning, diare, dan kudis, terutama pada anak-anak,” ujar Chiara Lodi, Koordinator Medis MSF.
Keterbatasan air membuat banyak keluarga hanya memprioritaskan kebutuhan dasar seperti minum dan memasak. Aktivitas penting lainnya seperti mandi dan mencuci pakaian sering terabaikan, yang dalam lingkungan padat mempercepat penyebaran penyakit.
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan dalam situasi ini. Minimnya akses air bersih meningkatkan risiko infeksi kulit dan gangguan pencernaan, yang dalam beberapa kasus berkembang menjadi kondisi lebih serius akibat keterlambatan penanganan medis.
Di sisi lain, kemampuan sistem kesehatan untuk merespons juga terbatas. Kerusakan infrastruktur dalam beberapa bulan terakhir membuat banyak fasilitas kesehatan tidak berfungsi optimal, sementara jumlah pasien terus meningkat.
Upaya perbaikan sistem air menghadapi berbagai kendala, termasuk keterbatasan masuknya komponen penting seperti klorin, pompa air, dan suku cadang instalasi desalinasi yang dikategorikan sebagai barang “dual-use” dan memerlukan izin khusus.
Dalam kondisi tersebut, kehadiran sumur bor menjadi salah satu solusi nyata yang langsung dirasakan manfaatnya. Air dari sumur ini digunakan untuk kebutuhan dasar seperti minum, memasak, serta menjaga kebersihan diri—faktor penting dalam menekan risiko penyebaran penyakit.
Namun demikian, kebutuhan air bersih di Gaza masih jauh dari terpenuhi. Upaya menghadirkan sumber air berkelanjutan menjadi semakin mendesak di tengah krisis yang terus berlangsung.
Melalui program Wakaf Sumur Palestina, Dompet Dhuafa mengajak masyarakat untuk turut berkontribusi menghadirkan lebih banyak sumber air bersih bagi warga Gaza. Sumur yang telah beroperasi sejak 8 Maret 2026 menjadi bukti bahwa akses air layak tetap dapat dihadirkan, bahkan dalam keterbatasan.
Kepala Divisi Literasi dan Penghimpunan Wakaf Dompet Dhuafa, Imam, menegaskan bahwa air merupakan kebutuhan paling mendasar bagi kehidupan.
“Air adalah kebutuhan paling mendasar. Ketika akses itu hilang, yang terancam bukan hanya kesehatan, tetapi juga kehidupan itu sendiri. Melalui wakaf sumur ini, diharapkan masyarakat di Gaza tetap memiliki harapan untuk bertahan,” ujarnya.
Penghimpunan wakaf ini juga menjadi wujud kepedulian masyarakat Indonesia dalam merespons krisis kemanusiaan di Palestina, sekaligus menghadirkan harapan baru bagi para pengungsi yang terus berjuang di tengah keterbatasan.(*)






