Erry Riyana: Negara Tidak Boleh Alergi Terhadap Kritik

MANTAN Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Erry Riyana Hardjapamekas mengingatkan, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk tak bersikap reaktif terhadap pelbagai kritik yang disampaikan sejumlah kalangan.

Dia mengatakan, kritik merupakan suatu masukan dan bentuk kepedulian masyarakat terhadap pemerintahan, sehingga tak perlu disikapi dengan sensitif, termasuk melabeli pengkritik dengan tak patriotik maupun lainnya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Negara tidak boleh alergi terhadap kritik,” kata Erry saat ditemui di Gedung HDI Hive Menteng, Jakarta Pusat pada Rabu, 18 Maret 2026.

Ia menuturkan, ketika masih bertugas sebagai salah satu pimpinan komisi antirasuah, beragam kritik acapkali disampaikan dari berbagai kalangan kepada KPK.

Namun, kata dia, alih-alih menjadikan kritik sebagai suatu yang dianggap resisten, ia dan kolega di KPK menilai kritik sebagai suplemen guna memperbaiki tata kelola.

“Saya tidak mengerti kenapa pejabat-pejabat kita menganggap kritik sebagai suatu yang melawan, suatu yang menakutkan,” ujar Erry.

Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto mengatakan ada sejumlah pengamat yang tak punya sikap patriotik. Ia mengatakan, pengamat itu memperoleh keuntungan finansial dari kritiknya ke pemerintah.

Bahkan, ia berspekulasi soal motiovasi pengkritiknya yang dilakukan karena dasar kekalahan atau kehilangan sumber uang karena pemerintahannya yang dia klaim tegas terhadap korupsi. 

“Terutama maling-maling, koruptor-koruptor, (mereka) merasa rugi dong dengan pemerintahan kita. Kita mau tertibkan,” kata Prabowo.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mengatakan berulangnya teror hingga serangan yang menyasar figur serta kelompok masyarakat sipil bukan hanya disebabkan oleh buruknya penanganan kasus oleh aparat penegak hukum. 

Dia menjelaskan, faktor lain yang turut mendorong langgengnya impunitas ini ialah gaya kepemimpinan dan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang alergi terhadap kritik. Prabowo cenderung menginginkan penyeragaman di dalam sikap guna mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah. 

Alergi Prabowo terhadap suara kritik, Usman melanjutkan, kian diperjelas dalam sejumlah pidatonya yang kerap melabeli kelompok masyarakat sipil, pers, maupun mereka yang berbeda pandangan dengan pemerintah sebagai antek asing, maupun tak patriotik.

“Pernyataan ini menunjukkan pemikiran Prabowo adalah akar masalah dari kekacauan politik hari ini,” kata Usman, 16 Maret 2026.

  • Related Posts

    Pria Mabuk Salah Naik Motor Diteriaki Maling di Bogor, Berujung Diamuk Warga

    Bogor – Seorang pria berinisial MRA (25) dihakimi warga di Jalan Merdeka, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat. Dia dihakimi warga usai diteriaki maling karena keliru menaiki motor orang…

    Saat 'Power Ranger' Merah Ikut Mudik Naik Motor di Pelabuhan Ciwandan

    Jakarta – Seorang pemudik sepeda motor di Pelabuhan Ciwadan, Kota Cilegon, Banten menjadi sorotan. Pemudik itu menjadi sorotan lantaran mengenakan kostum power ranger. Pemudik unik itu bernama Aji Pangestu. Pria…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *