Cuaca Jakarta terasa lebih panas beberapa hari belakangan. Pemprov DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi dampaknya ke tubuh dengan menerapkan sejumlah proteksi.
Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, memberikan penjelasan atas fenomena tersebut. Ia menyebut, cuaca terasa lebih panas belakangan ini karena sinar matahari kuat yang menyorot tanpa adanya tutupan awan.
“Kondisi udara yang terasa lebih panas belakangan ini umumnya dipengaruhi oleh penyinaran matahari yang cukup kuat, tutupan awan pada siang hari yang tidak merata,” kata Ida saat dihubungi, Sabtu (14/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, ia menyebut saat ini tengah terjadi peralihan musim. Pada momen tersebut, kata dia, cuaca pagi hingga siang hari akan terasa lebih terik.
“Serta karakteristik masa peralihan musim, di mana cuaca pada pagi hingga siang hari cenderung lebih terik, namun pada sore atau malam hari masih berpotensi terjadi hujan lokal,” ucapnya.
Kemudian, Ida juga menyinggung terkait awal musim kemarau yang berpotensi datang lebih awal di Indonesia. Ia memprediksi musim kemarau 2026 akan mulai terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia pada April mendatang.
“BMKG memprediksi musim kemarau tahun 2026 berpotensi datang lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April (114 ZOM; 16,3%), Mei (184 ZOM; 26,3%), dan Juni 2026 (163 ZOM; 23,3%), diawali dari wilayah Nusa Tenggara kemudian secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya,” ujar dia.
Kondisi itu juga mulai terjadi di Pulau Jawa. Sehingga, lanjut dia, cuaca akan didominasi cerah.
“Pada saat ini, musim kemarau sudah memasuki beberapa wilayah di Pulau Jawa, sehingga pola cuaca didominasi kondisi cerah hingga berawan tebal, namun masih terdapat potensi hujan sedang hingga lebat di beberapa daerah,” katanya.
Kemudian, Sekretaris Utama BMKG Guswanto menyampaikan cuaca panas di Jakarta sebetulnya bukan karena kemarau yang datang lebih awal. Ia menyebut ada faktor atmosfer yang mempengaruhi situasi tersebut.
“Cuaca panas di Jakarta belakangan ini bukan semata karena kemarau datang lebih awal, melainkan dipengaruhi kombinasi faktor atmosfer, setelah hujan lebat beberapa hari lalu, langit menjadi cerah sehingga radiasi matahari terasa lebih terik,” kata Guswanto dihubungi terpisah.
Ia juga menyebut suhu panas di Jakarta karena radiasi matahari. Dia menyebut sinar matahari belakangan ini langsung menyorot ke daratan.
“Radiasi matahari, langit cerah berarti sinar matahari langsung mengenai permukaan tanpa banyak awan penghalang, sehingga panas terasa lebih panas,” jelas dia.
Selain itu, ada juga faktor gerak semu matahari. Pergerakan matahari ini, lanjut dia, mempengaruhi suhu di Indonesia.
“Ditambah pula kondisi saat ini gerak semu matahari sedang bergerak ke arah utara dari khatulistiwa, sehingga wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan (termasuk Jakarta) menerima paparan sinar matahari lebih tegak di siang hari. Inilah yang membuat cuaca terasa lebih terik meski belum masuk musim kemarau penuh,” ujar dia.
“Lintasan gerak semu matahari dari 23,5° LS hingga 23,5° LU sepanjang tahun. Kondisi ini menentukan intensitas radiasi matahari, panjang siang-malam, serta fenomena hari tanpa bayangan,” sambungnya.
Pemerintah Provinsi DKI mengimbau warga Jakarta untuk mewaspadai cuaca panas selama beberapa hari ini. Pemprov mewanti masyarakat untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat paparan suhu tinggi, termasuk potensi dehidrasi.
“Jadi, memang perkiraan BMKG, pada satu, dua, tiga hari ini cuaca cukup panas, termasuk hari ini,” kata Gubernur DKI Pramono Anung kepada wartawan di Pure Segera Jakarta Utara, dilansir Antara, Minggu (15/3/2026).
Pramono meminta warga untuk tidak khawatir dengan mempersiapkan antisipasi yang salah satunya memanfaatkan fasilitas kesehatan milik Dinas Kesehatan DKI.
“Jadi, untuk warga di Jakarta tak perlu khawatir,” kata dia.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Ani Ruspitawati menjelaskan cuaca panas dapat mempengaruhi kesehatan seperti kekurangan cairan (dehidrasi), kelelahan (heat exhaustion), hingga sengatan panas (heatstroke). Masyarakat DKI diminta untuk mengantisipasi dampak cuaca panas ke tubuh.
“Paparan dari cuaca panas yang tinggi juga bisa memicu pusing, kram otot, gangguan kardiovaskular, pernapasan dan bisa juga terjadi iritasi kulit,” ucap Ani.
Kelompok rentan yakni pekerja lapangan, anak-anak, ibu hamil dan lanjut usia (lansia) yang berisiko tinggi mengalami dampak kesehatan akibat cuaca panas. Untuk antisipasi secara umum, katanya, diimbau mengonsumsi air putih serta menghindari makanan dengan kandungan garam tinggi seperti kopi dan teh.
Kemudian, diimbau menggunakan topi dan payung di luar ruangan serta membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan saat siang hari, terutama bagi kelompok rentan. Jika di dalam ruangan, maka gunakan pendingin ruangan (AC) atau kipas angin supaya menjaga suhu ruang.
(dwr/fas)





