Trinidad dan Tobago memperpanjang keadaan darurat selama tiga bulan lagi

Negara Karibia ini telah menghabiskan 10 dari 14 bulan terakhir dalam status darurat yang membatasi kebebasan sipil utama.

Sebagai bagian dari kampanye untuk anggota kejahatan, negara Karibia, Trinidad dan Tobago, telah mengambil langkah-langkah untuk memperpanjang keadaan daruratnya, yang memberikan kekuatan besar kepada pasukan keamanan dan membatasi kebebasan sipil utama.

Dewan Perwakilan Rakyat negara itu melakukan pemungutan suara pada hari Sabtu untuk memperpanjang tindakan darurat selama tiga bulan lagi.

Cerita yang Direkomendasikan

daftar 3 barang

daftar akhir

Perpanjangan tiga bulan berlalu dengan selisih 26-12. Keadaan darurat pada awalnya diberlakukan untuk jangka waktu 15 hari, namun pemerintah dapat memperpanjangnya jika pemerintah menginginkannya.

Para anggota oposisi mengatakan, meskipun dalam keadaan darurat, pemerintah gagal mengendalikan kejahatan dengan kekerasan.

Trinidad dan Tobago kini berada dalam keadaan darurat selama sekitar 10 dari 14 bulan terakhir.

Keadaan darurat terjadi pertama kali dideklarasikan pada bulan Desember 2024, menyusul ledakan kekerasan geng.

Undang-undang tersebut memungkinkan pemerintah untuk menangkap orang-orang yang “dicurigai melakukan kegiatan kriminal” dan menangguhkan perlindungan terhadap penggeledahan yang dilakukan pemerintah di tempat umum dan pribadi.

Negara ini telah mencatat lebih dari 60 pembunuhan pada tahun ini. Perdana Menteri Kamla Persad-Bissessar baru-baru ini mengatakan kepada legislatif bahwa 373 orang telah ditahan dalam keadaan darurat.

Pemungutan suara ini memperluas tren pemerintahan di seluruh Amerika Latin yang memerlukan perintah darurat untuk mengatasi kejahatan di negara mereka.

Negara-negara termasuk El Salvador dan Honduras telah mengeluarkan deklarasi darurat untuk menghentikan kebebasan sipil dan mengerahkan pasukan keamanan untuk memerangi kejahatan, meskipun terdapat rekor keberhasilan yang beragam.

El Salvador dan Honduras juga telah memperpanjang keadaan darurat mereka, meskipun tindakan tersebut dirancang hanya bersifat sementara.

Tahun lalu, Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB meminta pemerintah Honduras untuk mengakhiri keadaan daruratnya, dan mencatat bahwa keadaan darurat telah berlangsung sekitar 17 kali.

Aktivis dan pakar hak asasi manusia juga mengindikasikan bahwa deklarasi keadaan darurat terkadang bisa membuka jalan menuju keadaan yang lebih parah melanggar hak.

Dalam sebuah acara minggu ini di sela-sela Dewan Hak Asasi Manusia PBB, sekelompok ahli hukum internasional menyajikan temuan bahwa pemerintahan Presiden Salvador Nayib Bukele kemungkinan besar melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan selama masa peluncuran pemerintah.

Kelompok aktivis mengatakan pemerintah di El Salvador menggunakan kekuasaan yang luas untuk mengancam dan memenjarakan para pembangkang dan aktivisme hak asasi manusia. Negara ini memperingati ulang tahun keempat keadaan darurat tahun 2022 pada tanggal 27 Maret.

  • Related Posts

    Hadiah Rp 10 Juta dari Gerindra Bagi Pengungkap Penyelewengan BBM Subsidi

    Jakarta – Partai Gerindra menyiapkan hadiah Rp 10 juta bagi masyarakat yang melaporkan informasi penyelewengan bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Gerindra mengingatkan agar tak ada pihak yang menyelewengkan BBM bersubsidi,…

    KPA: Penyerangan terhadap Andrie Yunus untuk Bungkam Aktivis

    KONSORSIUM Pembaruan Agraria (KPA) mengutuk aksi penyerangan terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Andrie Yunus. Sekretaris Jenderal KPA Dewi Kartika mengatakan penyerangan itu bukan tindakan…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *