INFO TEMPO – Pemerintah memberikan berbagai stimulus ekonomi yang sangat menarik untuk masyarakat. Berkat itu, masyarakat pun banyak melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman untuk merayakan hari kemenangan Idul Fitri 1447 H.
Misalnya saja, untuk program diskon transportasi. Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp 911,16 miliyar untuk implementasinya.
Berbagai moda transportasi diberikan diskon sebesar 30 persen di antaranya kereta api dengan target 1,2juta penumpang, angkutan laut dengan target 445 ribu penumpang, serta diskon penyeberangan 100 persen dari tarif jasa kepelabuhanan dengan target 945 ribu unit kendaraan dan 2,4 juta penumpang, serta angkutan udara sebesar 17-18 persen untuk kelas ekonomi dengan target 3,3 juta penumpang. Sedangkan diskon tarif tol sebesar 30 persen diberlakukan di 29 ruas tol koridor Jabodetabek, 10 ruas trans Jawa, 4 ruas non trans Jawa, dan 11 ruas trans Sumatera.
Selain itu, terdapat juga stimulus dalam bentuk tunjangan hari raya (THR) yang telah dianggarkan sebesar Rp 65 triliun meningkat 10 persen dari tahun lalu untuk 2,4 juta ASN Pusat, 4,3 juta ASN Daerah, prajurit TNI-Polri serta 3,8 juta pensiunan. THR disektor swasta untuk 26,5 juta pekerja diperkirakan mencapai 124 triliun yang akan dibayarkan 7 hari sebelum hari Raya Keagamaan.
Kebijakan Pemerintah yang mewajibkan pengelola aplikasi untuk memberikan Bonus Hari Raya (BHR) kepada mitra ojek online dan kurir menambah perputaran uang sebesar Rp 220 miliyar untuk 850 ribu penerima. Pemerintah juga menerapkan kebijakan Work From Anywhhere (WFA) selama 5 hari di sekitar libur Idul Fitri untuk mengurangi kepadatan arus mudik dan balik yang diberlakukan untuk aparatur sipil negara (ASN) maupun swasta yaitu tanggal 16-17 Maret 2026 (sebelum Nyepi/Lebaran dan 25-27 Maret 2026 (setelah lebaran).
Berbagai stimulus dan kebijakan inilah yang mendorong minat masyarakat untuk melakukan perjalanan mudik Idul Fitri 1447 H tahun ini tetap tinggi dan potensi perputaran uang sangat besar.
Potensi Perputaran Uang
Berdasarkan Survei Kementerian Perhubungan, potensi pergerakan masyarakat pada momen mudik Idul Fitri 1447 H atau lebaran 2026 diperkirakan mencapai 143,9juta orang atau 50,6 persen dari total populasi Indonesia. Jumlah ini menurun 1,75 persen dibanding tahunlalu yang mencapai 146,4 juta. Jumlah pemudik.
Adapun 143,9 juta setara dengan 35.975.000 kepala keluarga dengan asumsi rata-rata per keluarga empat orang. Jika per keluarga membawa uang sebesar Rp 4.125.000 naik 10 persen dari tahun 2025 lalu sebesar Rp 3,75 juta, maka potensi perputaran uang Rp 4.125.000 x 35.975.000 KK sebesar Rp 148.396.875.000.000 naik sekitar 8 persen dari tahun sebelumnya. Namun angka perputaran uang ini berpotensi naik.
Hitungan ini diangka yang moderat atau paling rendah. Masih berpotensi mencapai Rp 161.887.500.000.000 dengan asumsi rata rata per keluarga membawa uang sebesar Rp 4.500.000. Uang tersebut akan banyak beredar di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat. Sisanya menyebar ke Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Bali dan berbagai destinasi wisata lainnya.
Perputaran uang akan banyak untuk kebutuhan mudik seperti tiket, biaya tol dan BBM, servis kendaraan, serta oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman, kemudian baju baru untuk keluarga dan peralatan sholat, THR untuk kerabat dan keluarga, hampers untuk tetangga dan sahabat, aneka makanan dan minuman khas lebaran untuk menyambut tamu, kebutuhan rumah tangga umumnya bahan pokok pangan seperi daging, ayam, buah dll serta zakat fitrah dan sedekah.
Artinya, perputaran uang hampir menyasar kesemua sektor usaha yang menjual berbagai kebutuhan masyarakat menjelang dan selama Idul Fitri 1447. Selama di kampung halaman uang juga akan beredar di pusat destinasi wisata, berbagai pedagang UMKM akan menikmati peningkatan omzet seperti pedagang makanan/minuman, souvenir, penjual makanan khas daerah dan penjual batik/kain khas daerah serta pusat kuliner diberbagai daerah.
Untuk kelancaran masyarakat mendapatkan uang tunai, Bank Indonesia telah menyediakan sebesar Rp 185,6 triliun. Perputaran uang selama perayaan dan libur Idul Fitri 1447 H dengan konsumsi rumah tangga yang melonjak rata rata 10-15 persen menjadi momentum untuk meggerek pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2026 yang ditargetkan sebesar 5,4 – 5,5 persen. Dengan melihat geliat ekonomi kuartal I dimana ada momentum liburan Nataru di awal bulan Januari, kemudian perayaan dan libur Imlek 2577 dengan potensi perputaran uang sebesar 9 triliun dan Idul Fitri 1447 H maka sangat optimistis target pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 dapat mencapai target.
Terpenting, Pemerintah dapat menjaga psikologi masyarakat dengan memberikan jaminan dan memastikan bahwa ketersediaan BBM dan gas selalu terpenuhi selama dan sesudah Lebaran 2026. Hal itu agar masyarakat tidak ragu membelanjakan uangnya di daerah masing masing. Ini penting karena masyarakat juga mengikuti perkembangan geo politik perang Iran vs AS dan Israel yang berpotensi mengganggu pasokan BBM dan gas ke dalam Negeri.*
*Penulis: Sarman Simanjorang (Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah)




