KEPALA Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengatakan menu makan bergizi gratis (MBG) khusus Ramadan harus berupa makanan kering atau siap makan (ready to eat). Saat dimintai tanggapan soal menu MBG yang berisi lele mentah di SMAN 2 Pamekasan, Jawa Timur, Dadan mengatakan hal itu tak sesuai dengan apa yang tertuang dalam petunjuk teknis. “Itu menyalahi juknis,” kata Dadan saat dimintai konfirmasi pada Selasa, 10 Maret 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dadan mengatakan saat ini pihaknya masih mengecek serta mengevaluasi SPPG yang mendistribusikan menu tersebut. Pengecekan dan evaluasi dilakukan oleh kedeputian pemantauan dan pengawasan BGN.
Dalam dokumen Pedoman Penyelenggaraan Program MBG Bulan Ramadan Tahun 2025, menu MBG khusus untuk bulan Ramadan harus berupa makanan ringan, praktis, dan tahan lama. Beberapa menu yang dicontohkan dalam pedoman tersebut seperti kurma, abon, buah-buahan yang tahan lama, serta telur rebus.
Sebelumnya beredar video yang menampilkan kepala SMAN 2 Pamekasan menolak menu MBG. Menu yang diantar oleh satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) setempat berisi tahu, tempe, serta ikan lele yang sudah dimarinasi.
Terpisah, Wakik Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang menyampaikan pernyataan yang berbeda. Nanik mengatakan menu tersebut dibagikan sesungguhnya untuk dibawa pulang dan dimasak di rumah. “Itu kan dibawa pulang ya, digoreng di rumah,” kata Nanik.
Nanik mengatakan video yang beredar hanya menampilkan sebagian menu sehingga memunculkan persepsi yang tidak utuh mengenai makanan yang disiapkan oleh SPPG Pamekasan Pademawu Buddagan.
Berdasarkan laporan lapangan, Kata Nanik, paket makanan yang disiapkan oleh SPPG sebenarnya terdiri dari beberapa komponen menu, yakni lele marinasi, tahu dan tempe ungkep, roti pizza, telur rebus, susu full cream, serta buah naga.
“Berdasarkan laporan yang kami terima, menu yang disiapkan SPPG sebenarnya lengkap. Namun dalam video yang beredar hanya terlihat sebagian menu karena pihak sekolah menolak mengeluarkan paket makanan dari kendaraan distribusi,” kata Nanik.
Eka Yudha Saputra berkontribusi dalam penulisan artikel ini






