DPR Desak Polisi Usut Pembunuhan Aktivis Pelabuhan di Bekasi

ANGGOTA Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Abdullah mendesak Kepolisian RI mengusut tuntas kasus pembunuhan terhadap mantan pegawai Jakarta International Container Terminal (JICT), Ermanto Usman (65 tahun). Ermanto ditemukan tewas di rumahnya di Kota Bekasi, pada Senin, 2 Maret 2026. Abdullah berpendapat, polisi perlu menangani kasus ini secara transparan karena korban dikenal sebagai aktivis yang mengungkap dugaan praktik korupsi di lingkungan pelabuhan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Peristiwa ini harus diusut tuntas. Kepolisian perlu memastikan apakah kasus ini murni perampokan yang disertai penganiayaan atau ada unsur pembunuhan berencana terhadap korban yang selama ini dikenal kritis dan vokal,” ujar Abdullah dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Senin, 9 Maret 2026.

Politikus PKB itu meminta aparat kepolisian segera mengungkap kasus tersebut secara profesional agar tidak membuat masyarakat berspekulasi. Dia juga mendesak agar penyidik  secara objektif menyelidiki aneka kemungkinan motif yang melatarbelakangi pembunuhan terhadap Ermanto.

“Polisi harus mampu mengungkap siapa pelaku dan juga dalang di balik pembunuhan ini. Penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan transparan,” kata laki-laki yang kerap dipanggil Gus Abduh ini. 

Jika  terbukti ditemukan unsur pembunuhan berencana, kata dia, maka aparat penegak hukum harus menghukum pelaku tanpa memandang bulu. Menurut Abdullah, penegakan hukum berlaku adil bagi setiap orang sehingga pelaku tidak boleh mendapatkan perlindungan atau keistimewaan. 

“Pengungkapan kasus tersebut penting untuk memberikan rasa keadilan bagi keluarga korban sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap penegakan hukum,” ujar dia. 

Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya atau Polda Metro Jaya memastikan akan mendalami dugaan pembunuhan di balik kematian Ermanto Usman dan penganiayaan terhadap istri korban. Penyelidik hingga saat ini masih mendalami semua dugaan yang berhubungan dengan kasus itu.

“Semua informasi yang diperlukan didalami untuk membantu penyelidik,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto dalam keterangan tertulis pada Jumat, 6 Maret 2026.

Budi mengatakan, kepolisian juga belum dapat mengidentifikasi jumlah maupun sosok pelaku yang menyebabkan kematian almarhum. Pasalnya hal itu juga masih dalam tahap penelusuran. 

Kakak kandung korban, Dalsaf Usman, mengaku curiga kematian adiknya merupakan kasus pembunuhan berencana. “Ada dugaan begitu, apalagi kalau dikaitkan dengan almarhum ini sebagai aktivis,” ucap Dalsaf pada Senin, 3 Maret 2026 lalu.

Menurut Dalsaf, adiknya belakangan ini sedang gencar membongkar kasus dugaan korupsi di sektor pelabuhan, atau lebih tepatnya di PT Jakarta International Container Terminal (JITC) dan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) II. “Jadi kita minta polisi juga mendalami itu,” kata Dalsaf.

Almarhum Ermanto sebelumnya sempat menjadi narasumber dalam siniar Madilog. Dalam salah satu episode siniar itu, Ermanto mengungkap dugaan penyimpangan terkait perpanjangan kontrak JICT dengan perusahaan asal Hong Kong, Hutchison Port Holding (HPH).

Vedro Immanuel Girsang berkontribusi dalam tulisan ini
  • Related Posts

    THR Pensiun Sudah Cair, TASPEN Minta Peserta Waspada Penipuan

    INFO NASIONAL – PT TASPEN (Persero) terus melanjutkan komitmennya dalam menjaga keamanan dan kenyamanan bagi para peserta, khususnya pensiunan Aparatur Negeri Sipil (ASN) dan Pejabat Negara, dalam masa penyaluran Tunjangan…

    Komunikasi Terakhir Kapten ke Istri Sebelum Kapal Meledak di Selat Hormuz

    Jakarta – Kapten Miswar Maturusi bersama 2 WNI lainnya hilang usai kapal Tugboat Musaffah 2 meledak dan tenggelam di Selat Hormuz. Miswar sempat berkomunikasi dengan istrinya, Marliani Ahmad sehari sebelum…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *