MENTERI Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyoroti praktik sejumlah guru yang kerap menjadi “spesialis” peserta pelatihan dari pusat, tetapi tidak membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada rekan lainnya.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Mu’ti, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam penerapan konsep pembelajaran mendalam atau deep learning di sekolah. Padahal, kata Mu’ti, model pelatihan yang dirancang pemerintah mengandalkan mekanisme pengimbasan, yaitu guru yang telah dilatih kemudian melatih guru lain di sekolah atau komunitasnya.
“Banyak guru yang ketika dilatih itu untuk dirinya sendiri. Bahkan ada kadang-kadang guru yang spesialis ikut kegiatan pusat. Semua kegiatan dia juga yang berangkat,” kata Mu’ti saat ditemui di rumah dinasnya di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 7 Maret 2026.
Ia mengatakan fenomena itu sering disebut secara informal dengan istilah 4L. “Pelatihan deep learning dia orangnya, pelatihan guru bimbingan konseling (BK) dia, jadi itu berlaku 4L itu: Lu lagi, lu lagi,” ujarnya sembari berseloroh.
Untuk mengatasi masalah pengimbasan yang tidak berjalan optimal, kementerian mulai menerapkan kebijakan baru berkaitan dengan pelatihan guru. Mu’ti mengatakan sertifikat pelatihan tidak lagi diberikan otomatis kepada peserta.
Guru baru akan memperoleh sertifikat setelah terbukti melakukan pengimbasan kepada guru lain. “Kami perbaiki supaya ada pengimbasan itu. Sertifikat pelatihan diberikan kalau dia sudah melakukan pengimbasan dan ada buktinya,” kata dia.
Mu’ti mengatakan, peningkatan kualitas guru menjadi kunci keberhasilan reformasi pendidikan. Menurut dia, secanggih apa pun teknologi pendidikan yang digunakan, hasilnya tidak akan maksimal tanpa peningkatan kompetensi guru.
Ia juga menilai sebagian guru masih sulit meninggalkan sistem lama dan merasa cukup dengan kemampuan yang dimiliki saat ini. Padahal, dunia pendidikan terus berubah sehingga pengembangan kompetensi secara berkelanjutan menjadi kebutuhan.
Karena itu, kementerian mendorong berbagai program pelatihan guru dilakukan secara langsung dan melalui komunitas belajar guru di daerah. “Dunia sangat dinamis dan continuous professional development itu memang harus dilakukan,” kata Mu’ti.
Mu’ti menjelaskan penerapan pembelajaran mendalam itu masih berjalan bertahap. Prosesnya dimulai dari pelatihan guru inti yang kemudian diharapkan menularkan pengetahuan kepada guru lain melalui forum seperti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
Selain pelatihan guru, pemerintah juga tengah menyiapkan sekolah model yang akan menerapkan pendekatan deep learning secara penuh mulai tahun ajaran 2026–2027. Namun, menurut dia, proses tersebut akan memakan waktu panjang karena program itu menyasar seluruh guru di berbagai mata pelajaran.






