BGN: Tak Semua Masalah MBG di Medsos Benar

WAKIL Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Komunikasi dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang menyoroti berbagai isu yang kerap muncul di ruang publik mengenai program makan bergizi gratis (MBG). “Sejumlah kejadian memang terjadi di lapangan, namun tidak jarang narasinya berkembang secara berlebihan bahkan menjadi hoaks,” ujar dalam workshop MBG di Jakarta pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dia mencontohkan salah satu menu MBG yang sempat viral di media sosial karena disebut hanya berisi mie dan satu buah pisang. Namun, setelah dikonfirmasi kepada satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) dan pihak sekolah penerima manfaat, ternyata menu tersebut juga dilengkapi dengan ayam.

Contoh lain adalah video yang ramai beredar mengenai penolakan program MBG di MTs 4 dan MAN 8 di Cilincing, Jakarta Utara. Setelah dilakukan pengecekan, diketahui bahwa di wilayah Cilincing tidak terdapat sekolah dengan nama MTs 4 maupun MAN 8.

Nanik juga mencontohkan beberapa peristiwa yang sempat ramai diperbincangkan, seperti dugaan temuan benda asing dalam makanan hingga isu keracunan massal di sejumlah daerah. Setelah ditelusuri, beberapa kejadian tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan narasi yang beredar di media sosial.

Hal tersebut dia kemukakan dalam workshop bertajuk Penguatan Strategi Komunikasi dan Implementasi Kehumasan kepada lebih dari 1.400 sarjana penggerak pembangunan indonesia (SPPI) yang terdiri atas kepala satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG), Pengawas Keuangan, serta Pengawas Gizi di Jakarta, Sabtu, 7 Maret 2026.

Dia pun kembali mencontohkan kasus yang sempat ramai di Purworejo, yang awalnya dikaitkan dengan MBG, namun setelah ditelusuri ternyata berkaitan dengan konsumsi makanan dari acara hajatan masyarakat.

Lebih lanjut, Nanik menekankan bahwa pengelolaan makanan dalam jumlah besar memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam memastikan tingkat kematangan dan standar kebersihan. Karena itu, seluruh pengelola SPPG diminta untuk memperhatikan secara ketat proses pengolahan makanan agar kualitas dan keamanan pangan tetap terjaga.

“Ini sudah masaknya pakai ini,ono, ini, ya kan, sudah pakai alat modern tapi masih ada keracunan, ya kan? Sebetulnya bukan keracunan, kalau menurut saya adalah lebih pada sistem tata kelola,” ujar dia.

Selain itu, Nanik juga menyoroti pentingnya standar sanitasi peralatan makan. Dalam workshop tersebut, dia pun melakukan interaksi, menanyakan langsung kepada para peserta terkait penggunaan water heater dalam proses pencucian ompreng di dapur SPPG, sebagai bagian dari upaya menjaga higienitas peralatan makan yang digunakan dalam program MBG.

BGN berharap para SPPI tidak hanya mampu menjalankan operasional program dengan baik, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi yang kuat dalam menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat serta menangkal berbagai misinformasi yang dapat memengaruhi kepercayaan publik terhadap Program MBG.

  • Related Posts

    Kapolri Pimpin Apel Ojol dan Buruh di Sumsel, Komitmen Jaga Kamtibmas

    Jakarta – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memimpin apel ojek online dan buruh kamtibmas bertajuk ‘Nyago Bumi Sriwijaya Aman Bae’ di Palembang, Sumatera Selatan. Dalam acara itu, pengemudi ojol dan…

    Panglima TNI Perintahkan Siaga 1 Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah

    Jakarta – Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengeluarkan surat telegram kepada jajarannya agar melaksanakan siaga tingkat 1 guna mengantisipasi perkembangan situasi dalam negeri akibat dampak konflik di kawasan Timur Tengah.…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *