Mengapa Rencana Prabowo Mediasi Iran-AS Menuai Banjir Kritik

DOSEN Hubungan Internasional Binus University Tia Mariatul Kibtiah mengungkap alasan mengapa rencana Indonesia mendamaikan Iran dengan Amerika Serikat-Israel menuai kritik dari sejumlah kalangan. Menurut Tia, alasan utama di balik itu adalah karena pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak menyadari lemahnya posisi Indonesia untuk menjadi juru damai negara yang bertikai.

Publik, kata Tia, meragukan kemampuan Indonesia lantaran Iran tidak sepakat dengan sikap Prabowo yang menjadi anggota Dewan Perdamaian besutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Tia menilai dominasi komando Trump dalam menjalankan Board of Peace akan menjadi penghalang utama dari upaya mediasi pihak ketiga.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Kira-kira Indonesia bisa tidak mengatur, membisiki Trump untuk stop konflik ini? Kenapa publik internasional tertawa, publik domestik juga mem-bully? Masalahnya di situ,” kata Tia dalam diskusi daring yang digelar oleh Institute for Strategic Transformation Forstra pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Tia juga mengingatkan bahwa Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi telah menolak dengan tegas rencana mediasi dengan AS. Sekalipun Indonesia memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan Iran maupun Amerika Serikat, tapi dia juga menekankan bahwa keberadaan BoP akan menjadi titik lemah lantaran organisasi itu terlalu terkonsentrasi pada kekuasaan Trump.

Tia melihat Iran memiliki kekecewaan terhadap Indonesia setelah bergabung dengan Dewan Perdamaian yang dianggap mencederai prinsip politik luar negeri bebas aktif. Sikap Indonesia itu, kata Tia, bisa dianggap berseberangan dengan komitmen memerdekakan Palestina dari penjajahan Israel.

“Mungkin Pak Presiden melihat bahwa ini adalah cara untuk (membela) Palestina, tapi di sisi lain justru ini akan membuat luka beberapa negara yang memang berdiri di samping Palestina,” ujar dia.

Tia kembali menyampaikan bahwa Indonesia perlu memahami apa arti diplomasi. Menurut Tia, untuk menjadi diplomat, Indonesia perlu meraih kepercayaan dari Iran maupun Amerika. Namun Tia memandang Iran tidak lagi percaya dengan Indonesia terutama dengan keberadaan BoP yang menjadi sinyal Indonesia makin merapat ke Amerika Serikat.

Tanpa memiliki kepercayaan untuk menjadi daya tawar ke negara yang bertikai, Tia mempertanyakan dengan cara apa Indonesia membujuk atau menenangkan Iran dengan Amerika. “Kita memiliki bilateral yang bagus dengan Iran dan Amerika, tapi apakah mereka berdua punya kemampuan mendengarkan?” kata dia.

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menghargai niat Prabowo untuk terbang ke Teheran guna menurunkan eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat-Israel. Namun Boroujerdi menegaskan bahwa ia menolak untuk melakukan perundingan dengan pihak Trump.

“Kami meyakini bahwa saat ini tidak ada negosiasi dan perundingan apa pun dengan pemerintah Amerika yang akan berguna, karena mereka tidak terikat dan tidak patuh pada hasil apa pun,” kata Boroujerdi kediamannya di Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 2 Maret 2026.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menilai ide Prabowo tidak realistis. Adapun kesiapan Prabowo itu disampaikan Kementerian Luar Negeri beberapa jam setelah Israel bersama Amerika Serikat kembali menyerang ibu kota Iran, Teheran, pada 28 Februari 2026.

Ia pun menyampaikan setidaknya empat alasan, pertama, Amerika Serikat jarang bersedia dimediasi pihak ketiga ketika melancarkan serangan militer. Dino yakin Presiden AS Donald Trump tidak ingin Indonesia ikut campur. Sebab, Dino menilai saat ini Trump sedang gelap mata ingin menumbangkan pemerintahan Iran.

Alasan kedua, menurut dia, adalah pemerintah Iran belakangan ini tidak dekat dengan pemerintah RI. Dino mencatat, dalam 15 bulan terakhir, Presiden Prabowo tidak pernah mengunjungi Iran ataupun bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. 

Ketiga, Dino mengatakan, meski Prabowo siap terbang ke Teheran untuk menjadi mediator, tidak mungkin Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio—sebagai pihak yang menyerang Iran—bersedia berkunjung ke Teheran. 

Kemudian alasan terakhir adalah upaya mediasi berarti Presiden Prabowo harus bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu selaku pihak utama yang melancarkan serangan ke Iran. Dino menegaskan hal ini tidak mungkin dilakukan, baik secara politik, diplomatik, maupun logistik.

Adinda Jasmine dan Ervana Trikarinaputri berkontribusi dalam tulisan ini 
  • Related Posts

    Aksi Konvoi Mobil Zig-zag di Tol Becakayu Berakhir Ditegur Polisi

    Jakarta – Aksi konvoi mobil zig-zag dilakukan oleh sekelompok mobil di ruas jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu), Jakarta Timur. Pelaku pun telah ditegur oleh polisi dan menyampaikan permohonan maaf. Video…

    Tengah Malam Mobilnya Mogok, Lansia di Bogor Diantar Pulang Polisi

    Bogor – Polisi menemukan sebuah kendaraan mobil yang mogok di wilayah Kecamatan Tenjo, Bogor, Jawa Barat (Jabar). Kendaraan ditemukan saat polisi tengah berpatroli. “Di dalam kendaraan tersebut terdapat satu keluarga,…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *