Profil Try Sutrisno: Dari Ajudan Soeharto hingga Jadi Wapres

MANTAN Wakil Presiden Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno meninggal pada Senin, 2 Maret 2026. Mendiang Try Sutrisno menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, sekitar pukul 06.58 WIB.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Jenazah Try Sutrisno rencananya dimandikan di RSPAD dan kemudian dibawa ke rumah duka di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat.

Try Sutrisno merupakan Wakil Presiden yang mendampingi Presiden Soeharto pada periode 1993-1998. Wakil presiden ke-6 ini lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935. Majalah Tempo edisi Sabtu, 13 Maret 1993, melaporkan sejak kecil, Try anak ketiga dari enam bersaudara dari pasangan Subandi dan Mardliyah hidup seadanya.

Try memulai karier militernya ketika diterima menjadi taruna Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) dan lulus pada 1959. Dia ikut dalam operasi melawan PRRI pada 1957. Dia juga terlibat dalam Operasi 17 Agustus, Operasi Trikora, Konfrontasi Indonesia–Malaysia, Operasi Seroja, dan Pemberontakan di Aceh.

Try sempat terlibat dalam Operasi Pembebasan Irian Barat pada 1962 yang mengantarnya berkenalan dengan Soeharto. Saat itu, Soeharto ditunjuk oleh Sukarno menjadi Panglima Komando Mandala yang ditempatkan di Sulawesi.

Perkenalan Try dengan Soeharto yang membuat kariernya melambung itu ditulis ulang oleh Majalah Tempo tiga dekade silam. Perkenalan intens keduanya terjadi pada 1972 atau sepuluh tahun setelahnya. Ketika itu, dalam sebuah seminar tentang “Pewarisan Nilai-Nilai ‘45” di Seskoad, Bandung, Mayor Try Sutrisno tampil memukau.

Membawakan makalah berjudul “Masalah Pewarisan dalam TNI AD dan Integrasi TNI-Rakyat”, Try menjawab berbagai tanggapan dari Jenderal Soemitro, Pangkopkamtib. Penampilan itu pula yang membuat Harto dan mantan wakil presiden Mohammad Hatta yang hadir terkesan.

Sejak itu, perwira lulusan Atekad 1959 ini mulai naik bintangnya. Dari Komandan Batalyon Zipur 10, Letkol Try dinaikkan menjadi kepala biro di Suad Mabes Angkatan Darat. Pada 1974, Try ditarik ke Istana. Sejak itu, Try menjadi ajudan Presiden Soeharto. 

Try menjadi ajudan empat tahun hingga 1978. Try menganggap bahwa jabatan ajudan presiden sebagai “masa belajar tersendiri untuk menambah mantapnya proses pematangannya sebagai perwira ABRI”. Tugas itu dianggapnya berat, tapi mulia karena menyangkut keamanan dan ketenteraman pribadi presiden dan keluarganya.

Dari Istana, Try dikirim ke Bali menjadi Kasdam Udayana (1978). Dia lalu naik menjadi Panglima Kodam Sriwijaya di Palembang (1979), Pangdam Jaya (1982), lalu diangkat menjadi wakil KSAD (1985). Setelah menjabat KSAD, Try ditunjuk menjadi Panglima ABRI, hanya beberapa hari menjelang Sidang Umum MPR 1988.

Pada Februari 1993, bulan yang sama ketika Try berhenti dari posisinya sebagai Pangab dan sebulan sebelum MPR dijadwalkan bertemu untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden baru, anggota MPR dari fraksi ABRI mencalonkan Try Sutrisno untuk menjadi Wakil Presiden atau Wapres. Soeharto pun menerima Try. 

Meskipun telah menerima Try sebagai wapres, Soeharto merasa tidak senang pada pendampingnya itu. Soeharto menunjukkan sedikit hal dan bahkan tidak berkonsultasi dengannya dalam proses pembentukan kabinet. Majalah Tempo edisi 2 Januari 1998 menyebut Try sebagai “Wapres Hanya Ban Serep Yang Tak Terpakai”.

Saat Soeharto berkunjung ke Mesir pada 1995, Try dalam sebuah pemberitaan di harian nasional menyatakan jika dalam bisnis, anak pejabat jangan pakai nama bapaknya. Pihak penguasa marah dan sejak itu pemberitaan Try Sutrisno di harian mana pun ditiadakan.

Pengabaian lainnya datang pada akhir 1997 ketika Soeharto harus pergi ke Jerman untuk menerima perawatan kesehatan. Alih-alih mendelegasikan Try untuk menjalankan tugas Presiden, Soeharto justru menunjuk Menteri Sekretaris Negara, Moerdiono. Sebuah KTT APEC juga dihadiri oleh Menteri Luar Negeri, Ali Alatas, alih-alih Try.

Pada 1998, pada Sidang Umum MPR banyak yang menginginkan Try Sutrisno untuk mengemban masa jabatan kedua sebagai Wakil Presiden. Meskipun ada dukungan yang kuat, Try Sutrisno tidak berambisi. Pada akhirnya Soeharto memilih BJ Habibie sebagai pendampingnya.

Hendrik Khoirul Muhid berkontribusi dalam tulisan ini 

Pilihan editor: Kata PKB Soal Keinginan Prabowo Jadi Mediator Iran-AS

  • Related Posts

    Jadwal Imsak Jakarta dan Sekitarnya Hari Ini 3 Maret 2026

    Jakarta – Hari ini, umat Islam akan menjalankan puasa Ramadan 2026 hari ketiga belas. Supaya tidak terlambat sahur, simak dulu jadwal imsak hari ini tanggal 3 Maret 2026. Berikut jadwal…

    Kejagung Sita Tanah-Pabrik Terkait Kasus Dugaan Korupsi Limbah Sawit

    Jakarta – Kejaksaan Agung (Kejagung) kembali menggeledah sejumlah tempat terkait kasus dugaan korupsi ekspor palm oil mill effluent (POME) atau limbah minyak kelapa sawit pada 2022. Setidaknya ada 20 lokasi…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *