INFO TEMPO – Merayakan Lebaran 2026 dengan tenang dan bahagia adalah harapan bagi korban banjir Sumatra. Pemerintah lewat Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam (Satgas PRR) berupaya memastikan harapan tersebut terpenuhi dengan memberikan insentif Rumah Rusak Sedang (RS) dan Rumah Rusak Ringan (RR).
Menurut hitung-hitungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 17.251 kepala keluarga telah menerima insentif sebesar Rp 369,9 miliar. Sebarannya berada di 25 kabupaten atau kota pada tiga provinsi terdampak yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Insentif ini bertujuan membantu korban banjir di Sumatra dalam memperbaiki rumah mereka di lokasi asal tanpa relokasi. Bantuan diberikan berdasarkan tingkat kerusakan, yakni Rp 15 juta untuk rumah rusak ringan (0–30 persen) dan Rp 30 juta untuk rumah rusak sedang (30–70 persen).
Ketua Satgas PRR sekaligus Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyatakan komitmennya agar tidak ada lagi masyarakat di tenda pengungsian saat Idul Fitri. Selain memberikan insentif, komitmen tersebut juga ditunjukkan dengan upaya percepatan relokasi ke hunian sementara (Huntara). “Kami harapkan secepat mungkin bisa menyelesaikan sebelum Idul Fitri,” ujar Tito pada Ahad, 1 Maret 2026.
Untuk memastikan target tersebut tercapai, Tito dalam lawatannya ke Sumatra maupun saat memimpin rapat berulang kali mengingatkan pemerintah daerah agar mempercepat pendataan dan melakukan verifikasi secara akurat terhadap jumlah rumah yang terdampak. Data itu selanjutnya divalidasi secara berjenjang agar penyaluran bantuan perbaikan rumah semakin cepat selesai.
Insentif paling tinggi diberikan kepada Aceh, sebab teridentifikasi sebagai provinsi paling parah terdampak. Sudah 15.759 kepala keluarga yang tersebar di 12 kabupaten/kota menerima bantuan sebesar Rp 341,1 miliar. Rinciannya, 8.779 rusak ringan dan 6.980 rusak sedang.
Sementara tetangganya, Sumatera Utara, tercatat menerima insentif ini sekitar Rp 10,7 miliar. Angka itu dibagi pada 535 kepala keluarga dengan rincian 357 rusak ringan dan 178 rusak sedang di 4 kabupaten atau kota.
Di Sumatera Barat, bantuan telah diberikan kepada 957 kepala keluarga yang tersebar di 9 kabupaten/kota. Rinciannya, 705 rumah rusak berat dan 252 rumah rusak sedang dengan total nilai bantuan sekitar Rp 18,1 miliar.
Sisanya akan terus dipercepat oleh Satgas PRR dengan berkoordinasi bersama kementerian atau lembaga dan pemerintah daerah. Saat ini tercatat sekitar 73.000 unit rumah yang teridentifikasi mengalami kerusakan ringan, sedang, maupun berat.
Korban banjir dengan rumah rusak berat akan disiapkan hunian sementara atau huntara. Langkah ini untuk menyiapkan tempat tinggal yang layak dan aman bagi warga terdampak bencana selama menunggu pembangunan rumah tetap (huntap) selesai.
Data Satgas PRR per 1 Maret 2026 mencatat sebanyak 11.189 huntara atau 61 persen dari target 18.253 unit telah rampung dibangun di tiga provinsi terdampak. Sementara itu, untuk hunian tetap (huntap), pemerintah menargetkan pembangunan sebanyak 36.669 unit.
Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum, BNPB, Danantara Indonesia, serta pemerintah provinsi dan kabupaten/kota berperan penting untuk memastikan warga terdampak dapat segera menempati hunian yang aman dan layak di bawah koordinasi terpadu Satgas PRR.
Selain itu, pembangunan huntara dan huntap juga melibatkan TNI, Polri, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Dedikasi Foundation, Indonesia Relief Box, MER-C, GPCI, Kita Bisa, Yayasan Nindya Karya dan WIKA BUMN, Buddha Tzu Chi, Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) serta Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia. (*)






