MANTAN Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY memberi pesan terbuka kepada Donald Trump dan Ayatollah Ali Khamenei serta pemimpin dunia saat Amerika Serikat dan Iran di ambang perang
SBY mengatakan pesan ini diperuntukkan kepada seluruh pemimpin politik di dunia yang disebutnya memiliki tombol keputusan untuk memulai peperangan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
SBY mengatakan para prajurit dan perwira memiliki akal sehat, keyakinan, dan harapan. Mereka tentu siap mengorbankan jiwa mereka bila diperlukan. Namun SBY mengingatkan bahwa sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran prajurit.
“Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati),” kata SBY dalam akun X miliknya, @SBYudhoyono, Sabtu, 28 Februari 2026.
SBY pun menyoroti perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang tengah berlangsung di Jenewa, Swiss, saat ini. Menurut dia, negosiasi yang menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sangat rumit. Sebab, kepentingan kedua negara sangat berbeda. Apalagi kedua negara sedang berhadap-hadapan dan siap berperang.
“Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka,” ujar SBY.
Juru runding harus siap untuk berkompromi serta bersedia untuk menerima dan memberi sesuai keinginan kedua pemimpin negara. SBY berpendapat, khusus negosiasi Amerika-Iran, baik Donald Trump dan Ayatollah Ali Khamenei memiliki keunikan tersendiri. “Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga personal interest,” ujar SBY.
SBY mengatakan Trump khawatir kalau sampai gagal karena reputasi serta warisan yang ingin diraihnya bisa hancur berantakan. Sedangkan Ali Khamenei juga khawatir kalau tensi dengan Amerika ini berakhir buruk, bakal ada pergantian rezim dan dia terdepak. “Berarti, ini merupakan survival interest buat pemimpin Iran itu,” ujarnya.
SBY juga menyoroti banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, perang besar akan segera meletus. Hanya tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei.
Menurut SBY, Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Sebab, risiko dan harga yang harus mereka bayar terlalu tinggi kalau keputusannya salah. Sehingga kedua pemimpin akan mempertimbangkan opsi lain selain perang. “Negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan,” ujar SBY.
SBY mengatakan, meski Amerika Serikat sesumbar untuk menghancurkan Iran, Trump juga harus melihat bagaimana skenario keluar dari peperangan. Ia pun mengingatkan pengalaman pahit Amerika Serikat saat perang Vietnam, Irak, dan Afghanistan. “Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan,” kata SBY.
Amerika Serikat dan Iran menggelar tahapan ketiga negosiasi nuklir di Jenewa, Swiss, Kamis, 26 Februari 2026.
AS menuntut Iran untuk membongkar fasilitas pengembangan nuklir utamanya dan menyerahkan semua stok uranium diperkaya yang dimiliki kepada AS dalam kesepakatan yang tidak akan memiliki waktu kedaluwarsa, menurut laporan Wall Street Journal, mengutip seorang pejabat.
Delegasi AS disebut menekan Iran supaya menutup tiga fasilitas pengembangan nuklir utamanya di Fordow, Natanz, dan Isfahan, serta menyerahkan semua stok uranium diperkaya yang mereka miliki, diperkirakan sejumlah 10.000 kg, kepada AS.
Perundingan ini dinilai menjadi kesempatan terakhir diplomasi karena Donald Trump telah mengerahkan armada pesawat dan kapal perang ke Timur Tengah untuk menekan Teheran agar menyetujui kesepakatan.
Trump berambisi membatasi program nuklir Iran. Ia melihat peluang menekan Iran semakin besar saat negara itu dilanda protes dalam negeri bulan lalu. Namun, Iran tetap melanjutkan pengayaan uranium meskipun proyek itu sempat hancur. Trump memerintahkan serangan terhadap tiga situs nuklir Iran tersebut bersama Israel pada Juni tahun lalu.





