Dirut LPDP: Orang Kaya Pilih Skema Beasiswa Partial Funding

DIREKTUR Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Sudarto mengimbau agar keluarga dari golongan kaya atau mampu untuk tidak mengambil skema beasiswa penuh atau full funding, melainkan memilih skema partial funding atau pembiayaan separuh. Skema ini memungkinkan penerima membiayai separuh kebutuhan studi secara mandiri, sementara separuhnya ditanggung LPDP.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Kalau bapak/ibu mampu, pilihlah yang bukan full funding, tetapi yang partial funding. Di mana 50 persen dari LPDP, 50 persen dari Anda sendiri,” kata Sudarto saat ditemui di Kantor Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Jakarta, Rabu malam, 25 Februari 2026.

Menurut dia, langkah tersebut bertujuan memperluas akses beasiswa bagi lebih banyak talenta Indonesia. Dengan kontribusi mandiri dari keluarga mampu, alokasi dana LPDP dapat menjangkau lebih banyak penerima.

Sudarto menegaskan, jumlah penerima LPDP relatif kecil dibandingkan kebutuhan pendidikan tinggi nasional. Karena itu, LPDP difokuskan untuk menjaring “top of the top” talenta Indonesia agar dapat mengakses perguruan tinggi kelas dunia.

Namun, ia menekankan prinsip inklusivitas tetap dijaga. Dalam tiga tahun terakhir, sekitar 30 persen penerima berasal dari afirmasi, seperti daerah 3T, keluarga prasejahtera, penyandang disabilitas, hingga atlet berprestasi.

Untuk kelompok afirmasi, LPDP memberikan relaksasi persyaratan, seperti standar kemampuan bahasa Inggris, indeks prestasi, hingga batas usia. “Kami sadar banyak yang bagus tapi tidak punya kesempatan yang sama dibandingkan teman-teman di kota atau dari keluarga mampu,” ujarnya.

Selain mendorong skema pendanaan campuran, LPDP juga memperluas kerja sama dengan universitas top di berbagai negara non-English speaking countries seperti Jerman, Prancis, China, Jepang, Korea, dan Rusia.

Menurut Sudarto, biaya pendidikan di negara-negara tersebut relatif lebih terjangkau, sehingga bisa meningkatkan jumlah penerima beasiswa. Ia juga menilai penyebaran awardee ke berbagai negara akan memperkaya kapasitas bahasa dan jejaring diaspora Indonesia.

“Di akhir kita butuh anak-anak yang bisa bahasa Jepang, Korea, China, Rusia, Prancis, Jerman. Itu penting untuk interaksi global Indonesia,” katanya.

  • Related Posts

    Apakah Nilai TKA Dipakai untuk Daftar Sekolah? Cek Infonya!

    Jakarta – Murid SD dan SMP akan melaksanakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada bulan April 2026. Sebagai informasi, nilai TKA bisa digunakan untuk mendaftar sekolah. Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal…

    Motor Warga Jakut Dicuri Lalu Ditemukan di Jakbar, Polisi Serahkan ke Pemilik

    Jakarta – Polsek Tambora berhasil mengungkap kasus pencurian motor milik warga bernama Tedy Wijojo (55) di Penjaringan, Jakarta Utara. Motor yang dicuri itu ditemukan petugas. Pencurian terjadi pada Senin (23/2)…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *