Jadi Contoh Pengelolaan Sampah sampai Negeri Sakura

INFO TEMPO – Setelah berulang kali mendapatkan undangan dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang (METI), baru pada tahun ini Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari memenuhinya. Di Negeri Sakura, Ning Ita -sapaan akrabnya, berbagi pengalaman bagaimana Kota Mojokerto mengelola sampah. Bukan sekadar aksi bersih-bersih, melainkan masuk ke relung pikiran masyarakat. Sampah adalah tanggung jawab bersama, menguatkan kembali budaya gotong royong sebagai fondasi kebersihan lingkungan, hingga menciptakan ekonomi sirkular supaya sampah bernilai ekonomi.

Dalam kunjungan sepanjang 26-30 Januari 2026, Ning Ita juga mempelajari bagaimana disiplin pemilahan sampah di Jepang berjalan efektif karena didukung regulasi yang kuat dan konsisten. Masyarakat terbiasa memilah sampah sejak dari rumah, sehingga memudahkan proses daur ulang dan mendorong tumbuhnya industri pengolahan berbasis ekonomi sirkular. Pemerintah Jepang juga menggandeng perusahaan swasta untuk memastikan rantai pengelolaan sampah berjalan dari hulu ke hilir.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Kami memperdalam aspek regulasi, tata kelola, serta kolaborasi multipihak dalam pengurangan dan penanganan sampah sejak dari sumbernya,” kata Ning Ita. Di Indonesia sudah ada regulasinya. Hanya saja, menurut dia, tantangan utama terletak pada konsistensi penerapan dan kedisiplinan masyarakat. Dari pembelajaran tersebut, Pemkot Mojokerto menilai kunci keberhasilan bukan hanya pada aturan, tetapi pada budaya dan kesinambungan kebijakan.

Selama tiga tahun terakhir Kota Mojokerto menjadi pilot project pendampingan dari konsorsium Jepang dalam pengelolaan sampah. Hasilnya signifikan. Timbulan sampah berhasil ditekan lebih dari 40 persen, dengan recovery rate mencapai 42 persen. Pencapaian ini menunjukkan pergeseran pola dari sekadar membuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) menuju pengelolaan berbasis reduce, reuse, recycle (3R).

Sejumlah indikator memperlihatkan tren positif. Pembatasan timbulan sampah tercatat 13,98 persen, pemanfaatan kembali 25,3 persen, dan daur ulang mencapai 60,7 persen. Penguatan TPS 3R, bank sampah, komposter, hingga budidaya maggot menjadi tulang punggung pengurangan residu. Pemerintah juga menerapkan pembatasan plastik sekali pakai serta kewajiban pemilahan sampah di sumbernya.

Pemkot Mojokerto akan memperkuat keberlanjutan ekonomi sirkular dengan rencana pendirian perusahaan pengolah sampah residu menjadi bahan bakar alternatif atau Refuse Derived Fuel (RDF). Skema ini diharapkan mampu memastikan sampah yang tidak dapat didaur ulang tetap memiliki nilai guna.

Perhatian juga tertuju pada pembersihan sampah di sungai. Kota Mojokerto yang dialiri tujuh sungai menghadapi tantangan sampah kiriman dari wilayah hulu. Karena itu, kerja sama lanjutan tengah dijajaki untuk mesin pembersih sampah sungai dan penguatan tata kelola lintas wilayah.

Pemkot Mojokerto memaparkan capaian dan inovasi pengelolaan sampah periode 2022–2026. Dok. Pemkot Mojokerto

(*)

  • Related Posts

    Pria di Bogor Tewas Tergeletak Saat Perbaiki Atap Rumah Bocor

    Jakarta – Pria berinisial NU tewas tergeletak di atap rumahnya di Bogor Selatan, Kota Bogor, saat memperbaiki genting bocor. Korban dievakuasi pemadam kebakaran (damkar) dari atas atap. “Iya (korban meninggal…

    4 Hal Kasus Kematian Anak di Sukabumi Diduga Dianiaya Ibu Tiri

    Jakarta – Kasus kematian seorang anak laki-laki di Sukabumi, Jawa Barat, menjadi perhatian publik. Korban berinisial NS meninggal dunia setelah diduga mengalami penganiayaan yang melibatkan ibu tirinya. Peristiwa ini masih…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *