Rp 160 Triliun Mengalir ke Luar Negeri untuk Layanan Medis

MENTERI Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyoroti fenomena memprihatinkan terkait tingginya angka masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri. Ia mengungkapkan akibat fenomena itu negara kehilangan potensi ekonomi yang sangat besar dari sektor kesehatan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Brian menyebut bahwa setiap tahunnya, sekitar US$ 10 miliar atau setara dengan Rp 160 triliun mengalir keluar negeri karena masyarakat mencari layanan medis di luar negeri. Menurut dia, kondisi ini menjadi tantangan serius sekaligus peluang bagi institusi pendidikan kedokteran dan rumah sakit di dalam negeri.

“Kita musti segera meningkatkan standar layanan kesehatan hingga mencapai level internasional,” kata Brian di sela menghadiri peluncuran Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Jumat, 13 Februari 2026.

Brian pun membeberkan, salah satu yang perlu segera diwujudkan untuk meningkatkan layanan sistem kesehatan itu dengan membenahi aspek kemandiriannya.

“Kemandirian itu membuat sistem kesehatan nasional kita tidak terus bergantung pada layanan luar negeri,” kata dia.

Menurut dia, organisasi besar seperti Muhammadiyah melalui jejaring Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) memiliki kontribusi besar dalam pengembangan kualitas layanan kesehatan di Tanah Air.

Terlebih saat ini ada 24 PPDS di lingkungan PTMA di berbagai kampus Indonesia yang sudah diluncurkan. Brian pun meminta agar pengembangan program studi spesialis baru itu tidak terjebak dalam orientasi komersialisasi pendidikan. 

Baginya, tujuan utama program ini diharapkan dapat melahirkan dokter spesialis yang benar-benar berkualitas dan berintegritas. 

“Kami berharap PTMA Muhammadiyah juga dapat membangun lebih banyak rumah sakit yang kompetitif secara global agar mampu menjadi rujukan pasien internasional di masa depan,” kata dia.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agus Taufiqurrohman menyatakan bahwa penambahan puluhan program spesialis di lingkungan PTMA Muhammadiyah ini untuk menghadirkan layanan kesehatan berkualitas bagi masyarakat luas. 

“Kami ingin memastikan bahwa pendidikan dokter spesialis ini menjadi bagian dari pengabdian untuk menjawab persoalan melalui penguatan ilmu pengetahuan,” kata dia.

Ia merinci bahwa sebanyak 24 PPDS ini tersebar di tujuh PTMA, termasuk Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Jakarta, hingga Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. 

Langkah ini, kata dia, dapat makin mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di Indonesia, sekaligus menekan angka pasien yang berobat ke luar negeri melalui peningkatan mutu sumber daya manusia kesehatan yang lebih inklusif dan berdaya saing.

  • Related Posts

    Menbud Siap Dukung Rencana Peringatan 100 Tahun Jam Gadang

    Jakarta – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon siap mendukung rencana peringatan 100 tahun Jam Gadang. Menurutnya, peringatan tersebut sejalan dengan upaya pemajuan kebudayaan dan penguatan sejarah nasional. “Kami mendukung rencana…

    Risi Suara Drum Bikin Tetangga di Jakbar Saling Lapor Polisi

    Jakarta – Seorang pria berinisial D di Cengkareng, Jakarta Barat (Jakbar), menjadi korban penganiayaan tetangga yang tak terima ditegur lantaran kerap bermain drum. Korban melaporkan penganiayaan tersebut kepada polisi. Adapun…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *